Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

Sepuluh

7.6K 285 5
                                        

Sepulang sekolah, Fanya langsung merebahkan tubuhnya di kasur. Efek banyak tugas, ia butuh istirahat yang ekstra.

"Akhirnya putus dari Devan, ga ada lagi yang larang gue ini itu. Bebasss" Teriak Fanya di dalam kamarnya.

Ponsel Fanya berdering suara pesan whatsapp masuk.

Dika Muhammad: Fan, Lo beneran putus sama Devan?

Fanya Alvira: Iya beneran, masa bohongan.

Dika Muhammad: Gue kira dia bohongan, taunya bener-bener putus.

Fanya malas membalas pesan Dika yang terus menanyakan hubungannya dengan Devan.

Tiara Putri: Fanya, tadi Dion nanyain lo.

Fanya Alvira: Why?

Tiara Putri: Kayanya dia seneng deh lo putus sama Devan.

Fanya Alvira: Ya terus, gue harus apa coba?

Tiara Putri: Mending besok gue cerita ke Lo.

Fanya mematikan hpnya, dia sedang tidak ingin di ganggu oleh siapa pun.

Tidur lebih baik untuk melupakan semua kenangan masa lalunya.

***

Kali ini, Fanya berangkat ke sekolah dengan seseorang yang berbeda yaitu bersama Dion.

"Eh mau kemana?" Tanya Dion.

"Mau ke kelas lah, gue piket."

"Lo mau di bilang orang gila sama satu sekolah apa?"

"Maksudnya?"

"Itu helm di buka dulu jangan asal kabur aja." Dion tertawa.

Posisi kantin dengan parkiran tidak jauh, Devan melihat kejadian tersebut dengan hati yang panas tapi sadar kini hubungannya telah usai.

"Dulu gue yang sering bukain helm yang dipake Fanya" Batin Devan.

Teman-temannya heran melihat Devan diam seperti patung. Mereka ikut melihat apa yang Devan lihat, tidak lain adanya Dion dan Fanya sedang tertawa bahagia.

"Jangan gamon!" Ucap Fauzan dengan memegang pundak Devan.

"Siapa juga yang gamon!"

"Masih aja ngelak, segitu keliatan juga kaya cemburu-cemburu gitu." Sindir Bagus.

"Cabut kuy. Jangan di sini."

"Iyalah minta cabut, takut hatinya tambah panas."

Devan hanya diam lalu pergi meninggalkan teman-temannya di kantin. Hatinya memang panas ketika melihat seseorang yang ia sayangi dekat dengan yang lain.

Saat Devan bermain ponsel menuju ke kelasnya, terdengar suara perempuan yang sedang piket marah-marah karena lantai kelasnya di injak oleh Devan.

"Siapa coba yang injek ini lantai?" Ucap Fanya kesal.

"Eh sorry, gue ga liat."

Fanya hanya diam melihat Devan, mereka saling bertatapan.

"Gue gatau kalau lo lagi piket."
Lalu Devan pergi ke kelasnya.

Fanya merasa aneh dengan ucapan Devan, menggunakan panggilan lo gue.

Memang move on tidak mudah, terutama dalam hal melupakan semua kenangannya. Namun Devan dan Fanya berusaha melupakan semuanya yang telah terjadi.


Don't forget
Vote and Comment.

Posesif Boyfriend [COMPLETED]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang