Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

Dua puluh tiga

7K 219 10
                                        

Nyatanya tikungan teman lebih tajam dari pada tikungan jalan.

Salsa yang selalu yakin dirinya akan mendapatkan Dion. Ia tidak berpikir bahwa Dion adalah pacar Fanya, temannya sendiri. Dan Fanya yang selalu yakin Dion tidak akan tergoda oleh yang lain, namun nyatanya hal itu salah.

Ketika Fanya sedang makan di kantin bersama Tiara, lalu Salsa datang bersama teman-temannya.

"Oh ini yang namanya Fanya Alvira." Dita melihatnya dengan sinis.

"Lebih cantik juga gue ya kan." Salsa terlalu percaya diri yang berlebihan.

"Paling ga lama lagi dia putus sama Dion." Ida pun melihatnya dengan sinis.

"Iya pasti Dion akan jadi milik gue!" Salsa terus berbicara seakan-akan ingin membuat Fanya cemburu.

Tiara tidak sabar ingin membalas perkataan mereka yang membuat telinganya menjadi gatal, namun Fanya melarangnya. Ia tidak ingin membuat masalah di sekolah hanya karena tentang Dion.

"Ra, gue lupa belum kumpulin tugas pak Anto yang kemarin. Ke kelas dong nanti sekalian anter gue ke kantor ya."

"Tapi fan..."

"Udah lah Ra, jangan urusin mereka yang kaya gitu. Gue ga mau punya masalah." Bisik Fanya pada Tiara.

Akhirnya mereka berdua pergi dari kantin​. Fanya tidak habis pikir jika Salsa akan berbuat seperti itu kepadanya.

"Padahal gue anggap lo sahabat." Batin Fanya sambil terus melihat Salsa.

"Ra, lo liat ga sih sikap Salsa? Kenapa dia jadi pho di hubungan lo sama Dion?" Tiara semakin heran dengan hal tersebut.

PHO adalah Perusak Hubungan Orang.

"Sebelum gue jadian sama Dion, dia pernah cerita ke gue kalau dia tertarik sama Dion."

"Berarti dia emang niat mau pho."

"Ya gue gatau kalau Salsa kaya gini. Awalnya dia mendukung hubungan gue tapi nyatanya menikung."

"Sakit hati banget ya ketika kita tahu bahwa yang menjadi pho itu teman terdekat."

Fanya semakin bingung dengan sikap Dion, ia marah padanya tetapi Dion tidak membujuk dirinya. Melainkan ia terus saja pergi bersama Salsa.

Bahkan Salsa tidak malu menghampiri Dion di kelasnya, tempat duduknya yang berdekatan dengan Fanya.

"Eh Fanya, apa kabar?" Salsa berpura-pura baik di depan Dion.

"Gue baik."

"Jangan salah gue kalau Dion jatuh hati ke gue." Bisik Salsa pada Fanya.

"Seperti ada setan yang berbisik-bisik." Sindir Tiara.

"Maksud lo gue setan? Hah?"

"Ya gue kan bilang tanpa ada nama lo Salsa. Kenapa lo kesindir banget? Kalau ga merasa ya diam aja."

Salsa merasa sangat malu. Memang benar yang di katakan oleh Tiara, jika ia tidak merasa seharusnya tidak marah.

Dion menarik tangan Salsa keluar kelasnya, karena tidak ingin ada masalah lagi dengan Fanya.

"Kamu apa-apaan sih tarik aku kaya gini." Salsa tidak terima tangannya di tarik Dion untuk keluar dari kelasnya.

"Kalau mau ketemu, jangan di kelas. Aku bisa samperin kamu." Ucap Dion sambil melihat ke arah sekitar takut Fanya mendengar.

"Kamu takut sama Fanya? Dia kan udah jadi mantan."

Sebenarnya Fanya dan Dion belum di kabarkan putus. Hanya saja Dion hilang kabar dan memilih dengan Salsa.

Dika melihat kejadian tersebut terkejut ketika mendengar Fanya sudah menjadi mantan Dion.

"Eh masa sih Dion sama Fanya udah putus?" Ucap Dika, lalu ia langsung ke kelas menghampiri Devan dan teman-temannya.

"Bro, gue ada info."

"Informasi​ apa dik? Guru killer ga masuk?"

"Fanya putus sama Dion."

"Gila.. lo ga Bercanda kan?"

"Masa iya sih? Jangan bohong lo dik."

"Kalau bohong, buat apa gue sebar kaya gini ke kalian semua."

"Dev, lo ga bahagia dia putus sama Dion?"
Tanya Fauzan.

"Nanti gue tanya ke Tiara." Jawab Devan.
Saat Devan hendak ke perpustakaan, ia bertemu dengan Tiara. Lalu menceritakan semua yang di ucapkan oleh Dika tentang Fanya.

"Waktu itu emang pernah sih gue sama Fanya liat mereka berdua di perpustakaan dan Dion bilang kalau Fanya sudah menjadi mantannya."

"Lalu sekarang bagaimana keadaan Fanya?"

"Hati dia rapuh, ia kira Dion adalah yang terbaik nyatanya dia playboy sering jalan sama cewe lain selain Salsa."

"Salam buat dia ya. Gue duluan, Ra."

Sampai di kelas, Devan menceritakan ucapan Tiara kepada teman-temannya​. Hubungan Devan selalu di bantu oleh temannya mencari tahu semua tentang Fanya.

"Kenapa lo ga coba masuk lagi di hidup dia? Bukan lo pernah bilang mau balik lagi sama dia?"

"Itu ga mungkin, bro."

"Mungkin, kalau lo mau usaha pasti dapat Fanya kembali."

Aku akan memperjuangkan mu kembali, Fanya Alvira.

Devan berniat untuk main ke rumah Fanya, untuk membantu menenangkan hatinya yang sedang rapuh.

Malam ini ia mengenakan pakaian rapih, membeli es cream rasa coklat kesukaan Fanya. Namun dalam perjalanan menuju rumahnya hujan turun, ia kembali mengingat kenangannya bersama Fanya yang suka bermain air hujan.

Devan memanggil Fanya melalui bel rumahnya agar ia keluar.

"Permisi om, Fanya ada?" Tanya Devan kepada ayahnya Fanya.

"Kamu Devan Mahendra kan?"

"Iya om, saya Devan. Boleh saya menemui Fanya?"

Baju dan jaket Devan basah karena​ melanjutkan perjalanan nya dalam keadaan sedang hujan.

"Boleh, silahkan masuk. Kamu hujan-hujanan?"

"Iya om, takut ke maleman nantinya."

"Sebentar om suruh ibunya untuk memanggil Fanya di kamar."

Ibunya mengetuk kamar Fanya, ia sedang sibuk mengerjakan tugasnya.

"Di bawah ada tamu." Ucap ibunya.

"Siapa?" Tanya Fanya heran.

"Devan Mahendra."

Fanya keluar kamarnya menemui Devan, ayah dan ibunya pergi ke ruang tv memberi waktu agar mereka berbicara.

"Ada apa Dev?"

"Sebenarnya ga ada apa-apa cuma mau main aja, gue rindu main ke rumah lo."

Fanya hanya mengangguk. Mereka jarang berkomunikasi, dan saat seperti ini keduanya kaku tidak tahu apa yang akan di bahas.

"Hubungan lo sama Dion gimana?"

"Gue lagi ga mau bahas itu, maaf."

"Iya gue faham, yaudah bahas yang lain."

30 menit berlalu.

Waktu semakin malam, berarti ia harus pulang dari rumah Fanya. Dan Devan sudah puas bercerita banyak hal kepada Fanya, begitu pun sebaliknya.

"Om, saya pamit dulu ya takut nanti hujan lagi."

"Hati-hati nak Devan."

"Kamu ga mau bilang hati-hati sama dia?" Ucap ibunya.

"Hati-hati Dev."

"Terima kasih, kalau begitu saya pamit."

Sejak hari itu, Devan mencoba memperbaiki hubungannya kembali dengan Fanya. Masalah mereka kembali itu belakangan, yang terpenting Fanya mau dekat dengannya kembali.

Posesif Boyfriend [COMPLETED]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang