Dua puluh empat

7K 230 6
                                        

Teman-teman Devan mengetahui bahwa semalam ia pergi ke rumah Fanya untuk menemuinya, Dion mendengar pembicaraan mereka di taman samping kelasnya.

"Semalam gue mau ke Indomaret eh di jalan liat Devan ada di depan gerbang rumah Fanya." Ucap Dika sambil tertawa.

Rumahnya dengan rumah Fanya memang berdekatan, hanya saja beda gang.

"Langsung gas aja ini anak, kayanya udah niat mau balikan." Sindir Bagus.

"Santai dong, lagian mereka belum putus." Fauzan pun ikut menyindir Devan.

"Maaf gue bukan perebut pacar orang kaya dia." Ucap Devan sambil melihat ke arah Dion.

"Itu yang lagi selingkuh terang-terangan banget ya, ga takut ketahuan pacarnya." Sindir Dika.

Tiba-tiba Dion batuk mendengar ucapan Devan yang jelas menyindir dirinya.

"Duh.. pelan-pelan dong makannya." Salsa begitu perhatian padanya sambil memberikan ia minum.

"Ke tempat lain yuk? Nanti lagi makan bekal kamunya ya."

"Kan kamu baru makan bekal aku sedikit doang."

Dion menarik tangan Salsa untuk pergi dari taman ke tempat lain. Ia bingung harus bagaimana hubungannya sekarang dengan Fanya, harus kah ia memutuskan dirinya?
Pertanyaan tersebut terus saja memutar di kepala Dion.

"Apa gue putusin Fanya aja ya? Kasian juga sih liatnya, tapi.. jangan lah nanti aja putusinnya." Batin Dion.

"Sal, kamu ke kelas aja ya. Aku mau kerjain tugas."

Salsa mengerti dengan ucapan Dion, ia pergi ke kelasnya dengan perasaan kecewa karena waktu berdua mereka terganggu oleh Devan dan teman-temannya.

Dion menghampiri Fanya di kelas pura-pura ingin marah padanya tentang semalam Devan datang ke rumahnya.

"Aku mau bicara sama kamu." Ucap Dion menarik tangan Fanya.

"Bicara di sini saja." Jawabnya cuek.

"Semalam Devan datang ke rumah kamu?"

"Iya.. kenapa? Dia cuma silaturahmi doang."

"Kalau udah jadi mantan harusnya jangan kaya begitu, kamu ga menghargai aku sebagai pacar kamu." Dion mempertegas ucapannya.

"Pacar? Bukan kamu sendiri yang bilang kalau kita udah mantan kan? Lalu kenapa kamu terus bersama Salsa? Sama saja tidak menghargai perasaan ku." Tanya Fanya yang membuat Dion tidak bisa berkata apa-apa lagi, diam seperti patung.

"Man...tan? Kita masih pacaran juga."

"Yakin masih pacaran? Kamu bilang ke Salsa kan kalau aku ini mantan kamu."

"Jangan sok tau fan."

"Bukan sok tau, faktanya aku tau dan dengar saat kamu berdua dengannya di perpustakaan." Fanya masih sibuk dengan laptopnya.

Dion bingung, ia harus katakan apa lagi kepada Fanya. Semuanya sudah terbongkar, bagaimana ia harus mengelak semua ucapan Fanya.

"Kenapa diam mantan? Kamu ga bisa jawab semua ucapan aku? Santai aja, permisi aku mau lewat."

"Fan..tunggu.. aku.. bisa jelasin semuanya." Ia menarik tangan Fanya agar tidak pergi.

"Jelasin apa lagi? Jelasin kalau aku ini mantan kamu?"

Kalau ingin di hargai orang lain, maka belajar lah untuk menghargai orang lain juga.

Belum sempat Dion menjawab pertanyaan darinya, ia pergi ke perpustakaan untuk menenangkan hatinya dengan membaca novel.

Namun saat di perpustakaan, Fanya tidak fokus. Justru masih terus mengingat kejadian Dion dan Salsa saat di perpustakaan ini.

"Hai." Sapa Devan sambil menarik kursi di sampingnya.

"Eh hai juga."

"Gue ganggu lo ga?"

"Engga ko, santai aja."

"Ini buat lo." Devan memberi bungkusan berbentuk love dan isinya adalah es cream rasa coklat.

"Ini..buat gue?"

"Iya buat lo, makan aja. Gue tau kalau lo lagi sedih makan es cream pasti hilang sedihnya."

Fanya tidak menyangka kalau Devan masih mengingat semua kebiasaan dirinya.

"Ternyata lo masih ingat semua kebiasaan gue."

"Hati gue masih ada untuk lo, gimana gue bisa lupa semua tentang lo." Batin Devan sambil melihat Fanya makan es cream.

Sebenarnya Devan ini orangnya romantis, hanya saja saat dulu mereka pacaran sikap Devan justru posesif karena ketakutan yang berlebihan terhadap Fanya.

"Bel masuk jam istirahat udah selesai, gue ke kelas duluan ya."

"Sekali lagi terima kasih es creamnya, Dev."
Devan mengangguk dengan senyum lalu ia pergi ke kelasnya karena jam istirahat sudah selesai.

"Dev, lo dari mana aja sih?" Tanya Fauzan.

"Gue dari perpustakaan." Jawabnya.

"Tumben banget ke perpustakaan ini anak." Ucap Dika dengan wajah tidak percaya.

"Temannya berubah bukannya di dukung juga." Devan berusaha meyakinkan teman-temannya.

Dika, Fauzan, dan Bagus tidak percaya tiba-tiba saja Devan pergi ke perpustakaan pasti ada hal yang membuatnya tertarik untuk pergi ke sana.

"Oh pantesan lo ke perpustakaan." Fauzan senyum-senyum kepada Devan.

"Kenapa? Emang salah?"

Fauzan menunjukkan jarinya ke arah perpustakaan, ada Fanya yang keluar dari sana.

"Iya..udah gue mau ke kelas." Devan gugup karena tertangkap basah oleh teman-temannya.

"Eh mau kemana? Jangan gugup gitu kaya orang ketangkap polisi aja lo ini."

"Lo benar-benar pantang menyerah ya, masih aja dekatin Fanya."

"Apa salahnya gue kan cuma mau jadi teman dia? Masa mantan musuhan?"

"Yaudah semoga lo sukses berjuang lagi untuk dia." Dika menepuk pundak Devan.

"Gue janji, akan merubah sikap gue yang posesif ke lo fan." Batin Devan.

Di dunia ini tidak ada yang sempurna, setiap manusia pasti memiliki kesalahan dan ia pasti akan merubahnya terutama untuk seseorang yang spesial.

Posesif Boyfriend [COMPLETED]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang