Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

Dua puluh sembilan

6.1K 202 3
                                        

Rasanya memiliki seseorang yang hatinya untuk orang lain itu seperti memeluk pohon kaktus, semakin erat kau memeluknya maka semakin sakit rasanya.

Seorang gadis cantik dengan rambut panjang duduk manis Di kursinya menatap laptop Yang setia menjadi tempat curhat ke dua setelah Tiara.

"Fanya... Fanya Alvira..." Teriak Tiara dari arah pintu kelasnya.

"Lo bisa ga jangan teriak - teriak?" Tanya Ihsan.

"Seterah gue!"

"Seterah? Terserah kali. Pantesan nilai bahasa Indonesia lo remedial."

"Eh enak aja ya!"

"Ada apa sih?" Fanya menghampiri Tiara dengan Ihsan.

Mereka saling bertatapan, lalu Tiara menggandeng tangan Fanya untuk ke kantin dan ada hal penting juga yang harus ia bicarakan.

"Lo mau makan apa?"

"Gue lagi ga nafsu makan, Tiara."

"Makan dong. Kalau sakit gimana?"

"Lo aja yang makan ya, gue temenin lo aja."

Fanya menatap sahabatnya ini, yang selalu setia mendengar keluh kesah isi hatinya. Ia sangat beruntung memiliki sahabat seperti Tiara.

Selesai makan, Tiara memulai percakapan di antara mereka.
"Fan, gue rasa Devan masih ada rasa sama lo."

"Sok tau kaya dukun aja."

"Liat ke kantin ujung, Devan liatin lo terus."

Mata Tiara dan Fanya melihat ke arah kantin paling ujung, Devan tersenyum padanya sambil merapihkan baju seragamnya.

"Gue lagi ga mau pacaran dulu."

"Kenapa? Biasanya pacaran terus."

"Hati gue cape. Untuk sementara gue mau tutup pintu hati gue untuk siapapun. Biarkan luka Yang kemarin membaik."

"Kalau Devan ajak lo balik lagi sama dia gimana? Lo masih tetp mau tutup pintu hati untuk dia?"
Fanya hanya menggelengkan kepalanya, tanda ia tidak mengetahuinya.

Bel istirahat telah selesai.
Tiara dan Fanya kembali ke kelasnya. Satu kelas heran melihat meja Fanya, satu tangkai bunga mawar ada di atas mejanya.

"Cie yang dapet bunga..." Teriak aji sambil memegang novel.

"Bunga? Bunga apa? Gue ga faham."

"Liat ke meja lo sana."

"Ini dari siapa?" Tanya Fanya sambil memegang bunganya.

"Kelas atas."

"Maksudnya?"

"Devan Mahendra." Jawab aji.

"Salah orang kali, masa ada di meja gue."

"Fan, itu di tangkainya udah jelas ada nama lo. Ga mungkin yang lain, gimana sih lo ini." Teriak Ihsan.

"Kata gue juga apa, Devan berjuang lagi demi lo." Bisik Tiara.

Dion datang ke kelasnya, menatap Fanya yang terus saja bingung dengan setangkai bunga mawar tersebut.
"Asik... Ada yang dapet bunga dari mantannya."

"Sok asik banget!" Sinis Fanya.

"Dulu juga lo asik sama gue, Fanya." Balas Dion.

"Dulu? Dulu zaman perang? Emang lo udah lahir?"

"Maksud gue waktu kita masih pacaran."

"Kita? Lo aja kali, gue engga. Waktu itu gue khilaf pacaran sama lo yang playboy!"

Kata playboy membuat Dion terdiam karena ucapannya. Fanya benar-benar tidak ingin mengenal kata cinta, pacaran atau yang lainnya. Ia ingin hidup senang walaupun hanya dengan sahabatnya, Tiara Putri.

Disaat lo punya seseorang yang baru, jangan sekali-kali melupakan yang lama terutama sahabat.

"Itu bunga dari gue." Ucap Devan dengan gaya staycool tangannya ia masukan ke dalam kantong celana.

"Kayanya ada yang clbk." Sindir Ihsan.

"Clbk apa emang?" Tanya Fia.

"Norak banget sih! Clbk adalah cinta lama bersemi kembali."

"Lebay banget sih San"

"Setidaknya gue tau ga kaya lo norak ga tau apa-apa."

"Baku banget sih pake kata setidaknya segala."

"Jelas lah, gue kan calon guru bahasa Indonesia."

"Cita-cita lo mulia banget."

"Iya dong. Emang lo, cita-citanya jadi ibu-ibu gosip."

Fia pergi keluar kelasnya, karena tidak ingin ribut terus-menerus seperti Tiara dan Ihsan.
"Mau apa lo kesini mantan Fanya?" Tanya Dion.

"Mantan? Lo ga punya kaca apa dirumahnya? Lo juga mantan dia kali yon! Tapi gue ga kaya lo yang playboy suka ganti-ganti pacar."

"Eh parah banget sesama mantan Fanya pada ribut." Bisik Tiara pada Ihsan.

"Sok asik banget, bisik-bisik ke gue!"

"Kenapa jadi lo sih? Tadi kan aji yang di samping gue."

"Banyak alasan!"

"Apasih sok asik banget."

"Ada juga lo yang sok asik, malah bisik-bisik ke gue."

"Kalian bisa diam ga?" Aji melihat Ihsan dan Tiara.

"Salahin Tiara jangan gue." Ucap Ihsan.

"Kenapa jadi gue sih San?"

"Lo duluan yang mulai."

"Lo dulu San, bukan gue."

"Gue bilang udah jangan ribut terus Ihsan, Tiara!"

Devan menatap matanya sangat dalam, seperti ingin mengatakan sesuatu padanya. Saat ini belum berani, mungkin nanti berani. Ia ingin mengumpulkan keberaniannya terlebih dahulu untuk mengatakan padanya.

Posesif Boyfriend [COMPLETED]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang