Perlahan aku membuka mataku ketika sadar bahwa aku masih berada di dalam mobil entah berapa jam lamanya.
"hoaam... sorry gua ketiduran... kita udah sampe mana?" tanyaku dengan meregangkan kedua tanganku.
"kita baru aja keluar tol" jawab Boy dengan senyum manisnya yang kulihat dari sudut mataku.
"bentar lagi sampe di rumah gua" lanjut Boy.
"rumah? Lo gak bilang kita mau ke rumah lo?" aku membenarkan posisi dudukku.
"emang tujuannya bukan ke rumah gua. Gua cuma mau naro mobil. Terus nanti gua bawa lo jalan-jalan ke suatu tempat yang gua jamin lo pasti suka" jelas Boy fokus dengan kemudinya.
Maksudnya dia mau ngasih aku kejutan? Ah, entahlah orang ini selalu membuatku bertanya-tanya.
Setelah keluar dari Lingkar Luar Bogor, aku sudah berada di sebuah jalan bernama jalan Soleh Iskandar. Gak lama kemudian, Boy membawaku ke sebuah komplek perumahan yang berada persis di sebelah kanan. Sampailah kita di sebuah perumahan yang di depannya terdapat tiga buah patung yang berbentuk seperti burung, tapi aku lebih suka melihatnya sebagai ikan jika dilihat dari ekor dan kedua tangannya. Entahlah, aku juga gak mau bertanya pada Boy yang pasti ada sebuah tulisan besar sebelum memasuki kawasan perumahan ini.
Bukit Cimanggu City.
Ya, Boy membawaku ke sini. Sebuah perumahan elit jika kulihat dari gaya arsitektur setiap rumahnya. Hingga gak jauh dari gerbang itu sampailah aku di depan sebuah rumah yang menurutku sangat besar. Dua kali lebih besar dari rumahku kalau aku taksir. Sebuah rumah bernuansa modern dengan pagar yang sangat tinggi.
"selamat datang di rumah gua, Putra" sambut Boy.
TIN TIN!
Boy membunyikan klaksonnya.
Setelah itu seorang wanita paruh baya datang dan segera membukakan gerbang dan mobil pun masuk.
"Aden... kok gak ngasih kabar kalau mau pulang" ucap wanita itu ketika Boy dan aku keluar dari mobil.
"Mbok, Boy harus bilang berapa kali sih kalau Mbok jangan panggil saya Aden, panggil Mas aja ya. Lebih enak" Boy tersenyum pada wanita itu.
"sehat Mbok?" sambung Boy bertanya.
"alhamdulillah Den. Eh, Mas. Mas Boy sendiri?"
"seperti yang Mbok lihat. Yuk masuk"
"Tuan sama Nyonya lagi ke luar kota Mas" kata wanita itu ketika Boy dan aku mulai berjalan memasuki rumah.
"iya Mbok. Mami kasih kabar kok ke Boy"
Entah kenapa aku melihat sosok lain dari seorang Boy. Dia begitu baik sama asisten rumah tangganya. Dari cara dia ngomong, dari sikap-sikap dia, itu jelas berbeda dengan keseharian yang aku lihat. Padahal dengan rumah sebesar ini bisa saja sikap dia begitu sombong dan angkuh seperti orang-orang kaya kebanyakan.
Atau jangan-jangan karena di hadapanku? Ah, tapi aku gak melihat sisi jelek itu. Sepertinya Boy memang sosok pribadi yang baik.
"Kok sepi Boy?" tanyaku basa-basi ketika baru saja kaki kananku memasuki pintu rumah Boy. Gak ada jawaban yang Boy berikan padaku selain terus berjalan memasuki rumahnya. Aku hanya mengekor di belakangnya.
Setelah dipersilahkan duduk, asisten rumah tangga yang ku ketahui bernama Mbok Asih itu menghampiriku membawakan dua gelas air putih. Ketika ditawari minum tadi, aku hanya meminta air putih saja meskipun Mbok Asih sempat menawarkan jus dan kopi. Sementara Boy pergi entah kemana.
"jadi Mas ini namanya?" Mbok Asih meletakan kedua gelas itu di atas meja.
"Putra Mbok" aku tersenyum ke arahnya.

KAMU SEDANG MEMBACA
LOVE or LUST
RomanceBOOK 1 -[COMPLETED]- Highest Rank: #2 "Best Non-Fiction Stories" (March 2018) #1 in "frienship-romance" (May, 2018) #2 in "truestory" (1-24 May 2018) #19 in "gay" (out of 25.7K stories - May, 2018) _____________ * Pastikan FOLLOW dulu sebelum baca k...