Jungkook masih mengikuti jalannya gadis di depannya. Ia hanya ingin Eunha selamat menuju kelasnya. Astaga, ini berlebihan. Oke, kita permudah. Ia tak ingin Eunha bertemu dengan Mingyu. Untuk sementara ini, jangan biarkan ia melihat Eunha bertemu dengan laki-laki jangkung itu.
Sampai di depan kelas, Eunha berbalik, kemudian tersenyum kikuk.
"Terima kasih."
Jungkook mengangguk. Ia kembali memperhatikan penampilan Eunha.
"Kau masih saja terlihat cantik dengan pakaian ini."
Eunha sedikit terkejut dengan itu. Refleks ia menunduk dan memperhatikan penampilannya sendiri. Ia meringis malu.
"Aku tadi langsung menyambar pakaian yang ada. Aku takut kau terlalu lama menunggu dan marah."
Ucap Eunha pelan. Ia cukup berani mengatakan hal itu sekarang karena ini lingkungan kelasnya. Teman-teman sudah berada di kelas. Apalagi ada Vernon dan lainnya yang akan datang jika Jungkook membahayakan dirinya.
Jungkook hanya terdiam. Ia mengangguk mengerti. Ia sadar diri ketika ia marah ia akan berubah. Tanpa ragu tangannya terulur dan mengacak acak rambut Eunha. Gadis itu mendengus pelan, kemudian segera memalingkan kepalanya.
"Cepatlah pergi. Kau bisa terlambat."
Jungkook tersenyum tipis. "Nanti ku jemput di sini. Ingat! Jangan ke mana-mana setelah dosen keluar."
Eunha berdecak, ia kemudian berdeham pelan mengiyakan. Tanpa ucapan salam, Jungkook segera meninggalkannya. Gadis itu menatap punggung laki-laki itu dengan nanar. Hatinya mulai tak karuan. Harusnya ia senang karena laki-laki itu mau meminta maaf terlebih dulu padanya. Tapi entah kenapa ia merasa ada yang aneh di antara mereka.
Ia tidak ingin menuduh siapapun di sini. Tapi sejak bertemu Mingyu, pikirannya menjadi tumbuh lebih bercabang seperti saat ini.
🍪
Eunha merenggangkan lengan yang terasa pegal. Kacamata sudah bertengger di atas kepala, ia menutup mulutnya yang terbuka lebar disertai air mata turun—ia mengantuk. Eunha mengulum bibirnya yang terasa kering. Dosen Lim siang ini keluar tiga puluh menit lebih cepat dari waktu yang dijadwalkan. Katanya sih istrinya sedang sakit, jadi ia pulang lebih awal.
"Hei, Eun. Kemarin bagaimana? Mingyu tidak menggigitmu, kan? Giginya tajam soalnya."
Eunha menoleh menyadari Vernon kali ini berpindah duduk di sebelahnya. Gadis itu tersenyum pahit mengingat kemarin adalah salah satu hari terburuknya.
"Ketahuan Jungkook, Han."
Ucap Eunha pelan sambil memangku tas, ia mulai memasukkan satu persatu bukunya. Laki-laki bule itu kaget.
"Ketahuan? Ketahuan bagaimana? Apa saat kau pulang dari McD, Jungkook sudah di rumah? Bukankah katamu dia di kantor?"
"Iya, aku ketahuan dengan Jungkook sedang makan sore bersama Mingyu. Kau tahu, Han? Kemarin dia mengajakku menonton dan makan di restoran Bibinya. Dan di sana, aku bertemu dengan Jungkook dan Wonwoo oppa. Dia marah, Han. Aku benar-benar kaget kenapa dia bisa semarah itu mengetahui aku jalan-jalan dengan Mingyu. Padahal ketika dia tahu aku jalan denganmu saja, dia hanya ketus. Tapi kemarin dia sang-"
"Tunggu, Eun." potong Vernon cepat. "Mingyu mengajakmu jalan-jalan? Berdua?"
Eunha mengangguk heran. Lihatlah respon Vernon. Kenapa semua terkejut mengetahui Mingyu mengajaknya jalan?
"Memang kenapa?" tanya Eunha penasaran.
Vernon masih terdiam. Bayangan Chaeyeon dengan Mingyu menggeluti pikirannya. Bagaimana Mingyu berusaha mendekati Chaeyeon, memberi apa saja yang menarik perhatian Chaeyeon. Sampai hal bodoh yang hampir dilakukan Mingyu pada gadis cantik dari fakultas sebelah itu sebelum ia pindah kampus.
KAMU SEDANG MEMBACA
milky way. ✔
Fanfictionsince first met, she knew that he's a destiny. ft. jjk & jeb © cheerajung, 2018
