"Hati-hati di jalan, Jung!"
Teriak Eunha sambil berjalan masuk ke gedung pada Jungkook yang masih berdiri di depan lobi. Laki-laki itu hanya tersenyum tipis, ia sedikit geli kenapa pagi ini Eunha sangat manis padanya. Apa mungkin datang bulannya sudah selesai?
Setelah memastikan Eunha sudah masuk, Jungkook segera berjalan menuju mobil.
Tanpa ia sadari, sepasang mata itu sedari tadi memperhatikan mereka berdua dengan topi menutupi wajahnya. Ia melihat bagaimana Jungkook mengacak acak rambut Eunha, cara Eunha meninju pelan lengan Jungkook, dan lainnya.
Ya, ia hanya bisa tersenyum kecut. Ia tak boleh melakukan hal bodoh seperti dulu lagi hanya untuk seorang perempuan. Cukup Jaehyun saja yang mengetahui bagaimana masa lalunya.
🍪
Eunha membuka novelnya tanpa niat membacanya. Sejak tahu hari ini tanggal berapa, moodnya yang tadi sudah naik karena pujian Jungkook terhadap makanannya, tiba-tiba turun. Semuanya ia abaikan. Bahkan saat Seokmin dan Yuna bernyanyi dengan suara nyaring pun ia tak protes. Padahal biasanya, ketika Seokmin tertawa terbahak bersama Vernon karena suatu hal saja Eunha bisa menghampirinya dengan penggaris di tangan.
Tapi sepertinya gadis itu seperti tak mendengar apapun. Ia hanya diam mengamati foto lecek yang ia jadikan pembatas buku. Sebuah foto lama, yang berisi ia dan kedua sepupunya. Kakak laki-lakinya berada di tengah, dan Eunha serta kakak perempuannya memeluk kakak laki-lakinya itu di kanan dan kiri. Sederhana namun membuat rasa rindu di hati Eunha muncul.
Ia rindu kedua kakaknya, melebihi ia merindukan kedua orang tuanya. Memang terdengar durhaka, namun bagaimana lagi? Bahkan mereka meninggalkan Eunha ketika ia berada di umur di mana ia harus merasakan keberadaan kedua orang tua untuk mengerti arti kehidupan. Di masa remaja, harusnya ia merasakan nasihat sayang dari ibunya setelah ia menceritakan tentang laki-laki yang ia sukai. Seharusnya ia mendapat bentakan tegas dari ayahnya ketika tahu ia pulang malam karena main dengan teman-temannya.
Tapi apa? Ia harus bersyukur karena mendapatkan kasih sayang dan fasilitas dari paman bibinya walaupun hanya ia nikmati sampai ia memasuki SMA.
"Aku rindu kalian. Aku rindu Oppa. Aku rindu Unnie. Aku rindu karaoke kita. Aku rindu kue kita. Aku rindu jeli hambar yang kita buat. Aku rindu kalian... Kapan kalian pulang?"
Gumam Eunha. Setetes air mata hampir saja jatuh jika Eunha tidak segera menghapusnya. Tidak, ia tidak boleh menangis. Sejak umur tiga belas tahun, ia sudah berjanji pada kedua kakaknya untuk tak menangis karena mengingat mereka.
Kemudian Eunha mendengar lantunan lagu Dont Wanna Cry dari Seventeen yang dinyanyikan Seokmin dengan Vernon. Eunha tersenyum, kemudian beranjak meninggalkan kursinya dan duduk di sebelah Yuna, berniat menonton konser receh di kelas.
🍪
"Eunha, apa nanti kau bisa bergabung bersama kami? Rencananya kami akan menonton film pukul lima sore." tanya Yuna pada gadis mungil yang berjalan di sebelahnya. Eunha menoleh, ia kemudian menggeleng.
"Maaf ya, tapi sepertinya tidak bisa. Itu terlalu mendadak. Memang bersama siapa saja?"
"Seperti biasa, Shinbi dan Yewon. Kau tidak bisa, ya? Jungkook sepertinya tak mau melepasmu, ciri-ciri suami posesif nih." ucap Yuna polos sambil menyenggol sedikit lengan Eunha yang dibalas dengan jitakan di kepalanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
milky way. ✔
Fiksi Penggemarsince first met, she knew that he's a destiny. ft. jjk & jeb © cheerajung, 2018
