Dusta

75 3 0
                                        

Aku pernah menyandingkan lantunan dusta pada syair duka.
Memerangkap keduanya hingga tiada terlepas.
Pernah aku sembunyikan dusta tatkala duka menyergap tanpa ampun. Menyembunyikannya rapat hingga berharap terlupa.
Tapi sayangnya semua berjalan dalam satu jalur. Tetap miris meski nyaris tanpa kata.

Padamu mungkin tatap mata yang kuumbar di tengah ramainya manusia adalah dusta yang tiada habisnya. Mati-matian ku tahan tatap mata hingga selalu berada di belakang punggungmu-meski tak bisa ku pungkiri aku ingin menatap wajahmu-
Sama seperti duka yang ikut menyayat kala ku biarkan punggungmu semakin menghilang tanpa pernah mengucapkan sepatah kata.

Mungkin, dusta yang ku lakukan padamu sudah tidak terhitung lagi. Aku bahkan sudah tidak tau  berapa banyak dusta yang kuumbar padamu. Ah. Entahlah. Bahkan sepertinya sampai detik ini pun aku tidak pernah rela jika semua dusta yang ku ciptakan terungkap olehmu. Tidak. Bagiku lebih baik rasanya di hujamkan beribu sembilu daripada kau tau akan semua dusta yang ku ciptakan padamu-meski mungkin nyatanya kau tidak peduli.

Seperti itu mungkin. Sebaris dua baris alunan pada syair yang sengaja ku bumbui dusta agar kau tetap seperti itu.

Setidaknya melihatmu terus pergi tanpa menoleh lagi dan tanpa sedikitpun peduli, berkali lebih baik daripada harus ku temukan ringisan kekesalan padamu kala tanpa sengaja waktu kembali mempertemukan temu.

Salam Hangat
Ken Auliya
20 Juni 2018

Balada Syair SunyiCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang