PAKSAAN
"Dirga, ini masih pagi, tolong, jangan buat keributan!" Alana berbicara dengan suara yang pelan, namun penuh penekanan, pasalnya mereka sekarang menjadi pusat perhatian.
Bukannya melihat Alana, Dirga malah menatap orang yang berada di belakang Alana, Arka. Dengan tatapan membunuh ditambah dengan rahangnya yang mengeras.
Tadi, saat Dirga mengurung Alana dengan kedua lengannya yang menyentuh dinding, membuat Alana mau tak mau menginjak kaki Dirga, agar ia terlepas dari kurungan Dirga.
Usahanya pun tak sia-sia Alana berhasil keluar dari kurungan Dirga, dan yang membuatnya terkejut adalah banyaknya pasang mata yang ternyata menjadikannya dan Dirga tontonan.
Dengan perasaan yang bercampur aduk Alana melangkah pergi meninggalkan Dirga, melihat Alana yang melangkah pergi, Dirga tak tinggal diam, ia melangkah mengikuti gadis itu.
Baru beberapa langkah Dirga melangkahkan kakinya, tangannya sudah di tahan oleh seseorang, Arka.
Dirga yang tidak terima dengan Arka yang menahan tangannya dan dengan apa yang dikatakan oleh adiknya itu, membuat tangannya langsung meninju wajah Arka.
Arka yang tak terima dengan Dirga yang meninjunya, membuat cowok berjaket jeans biru navy itu membalas tinjuan yang diberikan Dirga padanya. Dan terjadilah perkelahian diantara keduanya yang menyebabkan keributan terjadi di pagi hari yang seharusnya tenang dan damai.
Mendengar keributan yang terjadi, membuat langkah Alana terhenti di ujung koridor dan berbalik melihat apa yang terjadi.
Seketika Alana membulatkan matanya melihat apa yang menjadi penyebab keributan itu, yang membuatnya langsung menghampiri kedua orang yang menjadi biang dari keributan di pagi hari ini.
Dan disinilah Alana sekarang, berada diantara Dirga dan Arka, dengan ia yang menghadap Dirga dan membelakangi Arka.
Alana meraih tangan Arka dan Dirga, dan menarik keduanya menuju ke arah UKS.
Namun, langkah Alana menarik kedua cowok itu terhenti, saat Dirga diam tak melangkahkan kakinya mengikuti kemana Alana akan membawanya, ditambah Dirga yang membalas genggaman tangan Alana dengan erat, sangat erat.
Alana berbalik menatap Dirga dengan tatapan bertanya. Tepat saat itu juga tangan Alana yang memegang tangan Arka langsung ditarik kasar oleh Dirga.
Dirga langsung menarik Alana, namun, tangan Alana ditahan oleh Arka. Dan jadilah kedua tangan Alana dijadikan ajang tarik-menarik oleh Arka dan Dirga.
"Lepasin tangan Alana!" Ujar Dirga dingin dengan tatapan tajamnya menatap Arka yang juga memberikan tatapan yang sama pada Dirga.
Arka yang tak kunjung melepaskan tangan Alana, membuatnya menarik lengan Alana agar lebih dekat ke arahnya. Membuat Alana spontan melihat Dirga.
Alana tahu Dirga pasti sedang marah sekarang, dan ia tak ingin kemarahan cowok itu semakin meningkat. Di alihkannya matanya menatap Arka, dan mengisyaratkan pada Arka untuk melepaskan tangannya.
Melihat tatapan Alana yang memohon padanya membuat Arka terpaksa melepaskan tangan Alana.
Melihat Arka yang telah melepaskan tangan gadisnya, Dirga dengan segera langsung menarik Alana entah akan dibawa kemana.
Kring...kring...kring...
Dalam hati, Alana sangat bersyukur bel itu berbunyi, dengan begitu ia akan terlepas dari kemarahan Dirga, walaupun ia tak menjamin akan benar-benar terlepas dari kemarahan kekasihnya itu atau hanya sementara saja.
"Dirga, bel udah bunyi,"
"Terus?" Dirga masih tetap menarik tangan Alana tanpa berminat untuk berhenti.
"Ya ..., kita harus ke kelas," ujarnya ragu, takut-takut jika ia salah bicara.
Mendengar kalimat Alana tak membuat Dirga memberhentikan langkahnya menarik miliknya itu, menanggapinya saja tidak.
Alana mulai kesal dengan Dirga yang tak menanggapinya, ditambah tangannya yang terasa sakit karna ditarik oleh cowok itu dengan sangat keras.
"Dirga, ngapain lo bawa gue ke sini?" Tanya Alana saat Dirga ternyata menariknya menuju parkiran.
Lagi lagi Dirga tak menanggapi Alana.
"Dirga! Sekarang waktunya jam pelajaran dimulai, kita harus masuk kelas, kenapa lo malah narik gue ke sini?!" Ujar Alana naik pitam karena sedari tadi Dirga tak menanggapinya sama sekali.
Untuk kesekian kalinya Dirga tak menanggapi kalimat Alana dan malah menarik paksa cewek itu menuju dimana mobilnya berada. Kau tau? Sekuat apapun perempuan melawan tenaga laki-laki pasti perempuan itu akan kalah, walaupun tak selamanya seperti itu, apalagi kalau laki-lakinya setengah dewa. Tapi sekarang? Dirga bukanlah lelaki setengah dewa, ditambah Dirga memiliki lengan yang kokoh dan berisi, sedangkan Alana? Jangan ditanya, cewek bertubuh mungil itu seperti orang kekurangan gizi. Jelas Alana akan kalah dengan tenaga Dirga yang diibaratkan lima kali lipat lebih kuat darinya.
Dirga membuka pintu mobil penumpang bagian depan mobilnya. "Masuk!" Titahnya dengan suara dingin membuat Alana bergidik mendengarnya.
Tapi, Alana tak mengindahkan perintah Dirga. "Nggak! Ga, sekarang waktunya pelajaran dimulai, dan seharusnya kita sekarang berada di kelas, bukan disini!" Alana mencoba untuk menjelaskan pada Dirga, berharap cowok itu akan mengerti.
"Lo mau masuk sendiri, atau gue yang paksa lo masuk?!" Bukannya tanggapan yang didapatnya, Alana malah mendapat perintah.
Melihat Alana yang terdiam tak kunjung menuruti perintahnya untuk masuk ke dalam mobil, Dirga dengan kasar memaksa Alana untuk masuk ke dalam mobil membuat cewek itu memekik karena tindakan Dirga yang tiba-tiba mendorongnya masuk ke dalam mobil.
Dirga mengitari mobilnya dan masuk ke dalam mobilnya, dan dengan cepat setelah ia duduk di kursi pengemudi, Dirga melajukan mobilnya di atas rata-rata membelah jalanan ibu kota.
Tbc
Makasih udah baca cerita 'My Possessive Ice Boy'
KAMU SEDANG MEMBACA
My Possessive Ice Boy
Teen Fiction[SELESAI] ▪︎Segera direvisi▪︎ Bagi Dirga, Alana adalah miliknya, dan akan tetap menjadi miliknya apapun yang terjadi, sekalipun itu menyakiti Alana. Bagi Alana, Dirga adalah kelemahannya, sekuat apapun Alana menolak Dirga, maka sekuat itu pula ia ha...
