MPIB'24

30K 1.4K 28
                                        

"Dirga, tunggu! Hei! Dirga!" Alana dengan perasaan cemas, berusaha mengejar Dirga yang sedang dalam emosi yang tidak stabil, setelah ia menceritakan tentang perjodohannya dan Adnan.



Alana yang hanya memfokuskan tatapannya pada punggung Dirga yang kian menjauh dari jaraknya, hingga tak sengaja kakinya tersandung.



Namun, sebelum tubuhnya jatuh sepenuhnya mengenai lantai, ada yang menahannya.



"Lo hobi banget ya, lari-larian ngejar orang?" Lelaki itu terkekeh.



"Erlan, lo liat Adnan gak?" Tanya Alana mengabaikan kekehan Erlan yang menurutnya sangatlah membuang waktunya jika diladeni.



"Jangankan liat, namanya aja gue baru denger,"



"Dasar, kurang update!"



"Lah, mana gue tahu Adnan yang mana, emang dia artis? Penting? Terkenal? Sampai-sampai gue harus tau si Adnan itu siapa! Lagian gue sekolah disini juga belum sebulan. Lo pikir aja pake logika, orang yang udah sekolah disini lebih lama dari gue aja mungkin masih ada yang gak tau itu si Adnan, apalagi gue yang belum nyampe sebulan, yah kecuali kalau si Adnan yang lo maksud itu famous!" Ujar Erlan menggebu-gebu membuat Alana yang berada di hadapannya melongo.



Alana mendengus. "Ya, lo gak usah ngegas juga!"



"Yaudah, gak usah teriakkin gue juga! Telinga gue sakit anjir!" Erlan mengusap kedua telinganya



Kring....kringg....kringg



"Itu sih derita lo!" Ujar Alana yang kemudian berlari menuju kelasnya meninggalkan Erlan, dan melupakan tujuannya yang hendak mengejar kepergian Dirga.



---



"Ada keributan apa sih dikuar?" Desis Dinda yang mendengar samar sorakan yang membuatnya sedikit terganggu dengan kegiatannya yang sedang bercerita ria bersama.



"Entah," ujar Regina acuh.



"Liat yuk!" Dinda yang merasa penasaran akan apa yang membuat kebisingan---seperti teriakkan para suporter bola yang meneriakki club sepakbola andalangnya---itupun melangkah keluar kelasnya menuju dimana kebisingan itu tercipta.



Sedangkan Alana, kini telah menyelami alam mimpi. Beruntung guru mata pelajaran yang seharusnya mengajar tidak masuk karena sedang sakit, hingga Alana bisa memanfaatkannya untuk mengistirahatkan matanya, yang hanya baru tidur 2 jam lamanya akibat memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi jika Dirga mengetahui tentang ia yang dijodohkan dan tinggal di rumah Adnan.



Dinda yang baru kembali menginjakkan kakinya kembali ke kelasnya, langsung berlari menuju bangku Alana.



"Alana, bangun! Alana! Bangun, Na!" Dinda berteriak sembari mengguncang kedua bahu Alana begitu kencang.



Alana yang mendengar teriakkan dan guncangan yang begitu kasar pada bahunya, sontak membuka kedua matanya secara perlahan, lalu menatap Dinda yang membangunkannya dengan tatapan tajamnya yang tertutupi dengan matanya yang masih mengerjap.



"Ada apa sih Din?! Lo gangguin gue tidur tau gak! Lo bisa---"



Dinda dengan cepat menutup mulut Alana dengan tangannya, sebelum cewek itu berbicara panjang kali lebar, dan tanpa mengatakan apapun, Dinda langsung menarik paksa Alana keluar kelas, menuju dimana keributan yang sedang terjadi, dengan masih menutup mulut Alana dengan telapak tangan kanannya.



Baru saja Dinda sampai di belakang kerumunan siswa yang terlihat tengah melingkar, kembali Alana dibuat tersentak dengan sebuah tangan yang tiba-tiba menariknya begitu saja meninggalkan tempat yang baru saja dihampirinya.



Regina hendak menghentikan Alana yang ditarik, namun ditahan oleh Dinda yang kini mendengus kasar.



Rasa ngantuk yang masih menghinggapi Alana, membuatnya pasrah yang sedari tadi ditarik pergi entah kemana dan oleh siapa.



Tangan Alana dihempaskan, membuat Alana membuka matanya kembali terbuka. "Arka?"



"Alana, lo ada hubungan apa sama Adnan?"



"Hmm?" Alana bergumam, karena kalimat yang diucapkan terdengar samar, padahal sekarang keadaannya cukup sunyi, mungkin rasa ngantuk yang masih menguasai membuat indra pendengarannya tidak berfungsi dengan baik.



"Gue tanya, lo ada hubungan apa sama Adnan?"



Alana berusaha mengumpulkan kembali nyawanya. "Memangnya kenapa?"



"Gue tanya, kenapa lo balik tanya!"



"Arka, memangnya kenapa? Lo kenal sama Adnan?"



"Adnan teman kelas gue, dan sekarang dia lagi berurusan dengan Dirga, mereka berdua berantem,"



"Hah?!" Seketika Alana membulatkan matanya mendengar penuturan Arka.



"Ini pasti ada hubungannya sama lo, gue tanya hubungan lo sama Adnan apa?!"



"Jangan, ngaco Arka! Hubungannya sama gue apa kalau mereka berantem!"



"Karna gue tau Adnan gak mungkin punya masalah Dirga, gak mungkin kan mereka tiba-tiba langsung berantem!"



"Terus lo salahin gue?!"



"Gak, tapi gue cuma mau mastiin, lo sama Adnan ada apa, sampai Dirga bisa marah,"



"Lo kenapa sih?! Kalau mereka berantem kenapa lo gak pisahin? Lo malah narik gue ke sini, buat jawab pertanyaan lo yang gak penting!"



"Alana, gue tau Dirga itu gimana, dan lo gak bisa bohong sama gue, gue tau lo nyembunyiin sesuatu! Jawab gue Alana, lo ada hubungan apa sama Adnan,"



"Lo kenapa sih, Ka?"



"Gue cuma gak mau, lo dekat sama Adnan, jadi jawab pertanyaan gue, lo ada hubungan apa sama Adnan?!"



"Arka, mending lo pending pertanyaan lo. Sekarang kita harus misahin Dirga yang lagi berantem sama Adnan," ujar Alana berusaha terlihat tenang, menyembunyikan kecemasan yang teramat sangat dalam dirinya.



Alana melangkah pergi meninggalkan Arka yang kini menatapnya kesal, dan dengan langkah tergesa ia mencari keberadaan Dirga. Dan yang didapatkannya hanyalah sekolah yang sepi, dengan hampir seluruh siswa kini tengah berada di dalam kelas mereka menerima materi pelajaran.

My Possessive Ice BoyCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang