"Itu tergantung dari kemauan hati lo, Na. Gue gak bisa ngatur lo buat ngelakuin ini dan itu, lo belum seutuhnya jadi tanggung jawab gue," Adnan menghela napas. "Kalau hati lo ingin bersama Dirga, lo pergi sama dia, lagian kita baru tunangan belum nikah," lanjut Adnan dan bergegas melangkah mendahului Alana menuju kamarnya.
Alana menatap tidak percaya dengan apa yang dikatakan Adnan padanya. "Adnan, lo cinta gak sih sama gue?!" Alana sedikit meninggikan nada suaranya, beruntung ibu dan ayah Adnan sedang keluar kota.
Adnan menghentikan langkahnya, sepersekian detik ia terdiam masih membelakangi Alana, sebelum akhirnya melanjutkan langkahnya mengabaikan pertanyaan Alana.
Sedang, Alana yang melihatnya merasa kesal sendiri dengan sikap Adnan.
***
"Jadi menurut lo gimana Din?" Alana mengalihkan pandangan menatap Dinda yang sepertinya sibuk sendiri dengan pikirannya.
"Dinda," Alana melempar bantal ke arah Dinda, yang membuat Dinda sedikit tersentak.
"Iya iya kenapa?" Tanya Dinda menatap Regina dan Alana bergantian dengan tatapan bertanyanya.
"Jadi dari tadi gue ngomong sama Regina, lo gak denger? Lo ada apaan sih? Gue datang kesini mau minta saran sama lo berdua, ini malah lo yang keliatan punya masalah," Alana menatap Dinda dengan mengerutkan alisnya.
"Yah, Din, lo ada masalah apa? Kak Erlan juga tanya sama gue, kalau lo akhir-akhir ini rada-rada aneh, lo juga jarang ngumpul kayak sekarang sama gue dan Alana," Regina menimpali.
"Ah, gak kok, mungkin perasaan lo aja kali,"
"Perasaan gimana, lo kalau di ajak kemana-mana pasti nolak, alasannya banyak tugas lah, padahalkan kita satu kelas, lo ngomong gitu juga serasa lo aja yang dikasih tugas," tambah Regina menatap lekat Dinda.
"Dan mungkin kalau kita tanya dulu ke lo kalau gue sama Regina mau kesini mungkin lo akan nolak lagi,"
"Lo kok ngomong gitu sih, gue cuma kecapean, gak usah mikir yang aneh-aneh. Jadi tadi yang mau lo tanya apaan?" Dinda berusaha mengalihkan topik pembicaraan.
"Yakin lo cuma kecapean gak ada masalah lain?" Tanya Alana yang diangguki oleh Dinda. "Kok gue gak yakin yah," lanjut Alana yang membuat Dinda langsung menatapnya horor.
"Jadi lo gak percaya sama gue?!" Ujar Dinda dengan ekspresi marah yang dibuat-buat. Membuat Alana dan Regina yang melihatnya geli sendiri.
"Udah lo gak usah sok alay, lo gak cocok," ujar Regina terkikik geli.
"Udah sih mau-mau gue dong! Jadi masalah lo apaan Na?" Tanya Dinda.
"Lo tau gak, kan tadi gue kasih tau Adnan, soal Dirga---"
"Dirga? Emang dia ngapain lagi?!" Potong Dinda.
"Yah, dia gak ngapain-ngapain gue, tapi dia bilang bakal kembali seperti dulu lagi yang ngekang gue, dan katanya kali ini dia serius, terus---"
"Apa!!! Gue kira itu anak udah tobat setelah dua tahun lamanya, gak gangguin lo lagi! Eh taunya! Lo gak bisa diam aja dong Na, kalau dia mulai lagi semena-mena sama lo, lo lawan jangan main nurut aja kayak dulu," lagi Dinda memotong ucapan Alana.
"Yah! Dinda lo dengerin dulu baik-baik apa yang mau diomongin Alana, jangan main potong-potong terus!" Peringat Regina yang mulai kesal dengan Dinda yang sudah dua kali secara tidak sengaja memotong pembicaraan Alana.
"Gak bisa gitu dong! Lo gak boleh pasrah aja Na, kalau Dirga mau nindas lo lagi! Gak boleh!" Ujar Dinda menggebu-gebu.
"Tapi dengerin dulu apa yang mau gue omongin Dinda, jangan dipotong mulu!" Kesal Alana. "Gue kasih tau Adnan soal Dirga, dan lo tau dia bilang apa?" Ujar Alana yang sedikit meninggikan suaranya kesal mengingat kejadian tadi sore.
Dinda yang mendengarnya hanya menunggu kelanjutan dari kalimat Alana, tak berminat untuk bertanya.
"Dia bilang, semuanya terserah gue, jadi dengan begitu berarti tanpa sengaja dia gak ngelarang gue buat deket sama Dirga atau mingkin marah atau semacamnya," Dinda masih setia memandang Alana, menunggu kalimat selanjutnya yang akan keluar dari mulut Alana.
"Terus gue tanya, dia cinta gak sih sama gue dan lo tau dia mengabaikan pertanyaan gue! Jadi sebenarnya tu Adnan cinta gak sih sama gue!" Dinda masih setia memandangi Alana.
Alana yang melihat Dinda memandanginya sedari tadi yang sudah seperti patung yang tak berbicara sedikitpun. "Din, jadi menurut lo Adnan cinta gak sama gue?"
Bukannya tanggapan yang didapat Alana, melainkan tatapan Dinda yang masih terarah padanya, membuat Alana mendelik kesal.
"Dinda!"
"Hah iya apa? Lo tanya apa tadi?" Tanya Dinda yang tersentak akibat Alana yang sedikit meneriakki namanya.
"Lo kenapa sih?! Gue liat lo kayak ada masalah! Kalau lo punya masalah bilang sama gue sama Regina, jangan dibendung sendiri!"
"Iya Din, gue dari tadi liat lo kayak gak fokus gitu!" Ujar Regina yang sedari tadi hanya memperhatikan kedua sahabatnya itu.
"Gak, gue gak papa, kan tadi lo berdua yang nyuruh dengerin Alana, yah gue dengerin lah,"
"Tapi pikiran lo ada di tempat lain, Din!" Regina menghembuskan napasnya kasar.
"Gue bilang gue gak papa, yah gak papa! Lo berdua gak usah mikir yang gak gak!"
"Tapi Din---"
"Alana, Regina gue gak papa, oke?! Sekarang lanjut ke topik pembicaraan kita, gue tanya lagi, lo tadi nanyain apa Alana?"
"Tapi Din---"
"Alana, gue tanya lo tadi nanyain apa?"
Alana menghembuskan napasnya, mau tidak mau ia harus mengalah, Dinda terlalu keras kepala, menyimpan masalahnya sendiri, Alana yakin sahabatnya itu pasti punya masalah.
"Jadi tadi gue tanya, menurut lo Adnan itu cinta gak sama gue?" Ujar Alana berusaha melupakan perdebatan kecilnya dengan Dinda tadi.
Dinda yang mendengar pertanyaan Alana, seketika mematung di tempatnya.
"Tuhkan, Din lo ada masalah?" Tanya Regina yang melihat Dinda mematung di tempatnya, yang entah sudah keberapa kali Dinda sedari tadi mengulang sikapnya yang tiba-tiba terdiam dengan pandangan kosong.
"Gak, gue gak papa, gue mau ke dapur dulu ambil cemilan, lo berdua lanjutin aja obrolan kalian," Dinda turun dari tempat tidurnya dan melangkah keluar kamar menuju dapur, meninggalkan Alana dan Regina yang kini menatapnya dengan tatapan aneh.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Possessive Ice Boy
Novela Juvenil[SELESAI] ▪︎Segera direvisi▪︎ Bagi Dirga, Alana adalah miliknya, dan akan tetap menjadi miliknya apapun yang terjadi, sekalipun itu menyakiti Alana. Bagi Alana, Dirga adalah kelemahannya, sekuat apapun Alana menolak Dirga, maka sekuat itu pula ia ha...
