MPIB'31

25.8K 1.1K 34
                                        

"Alana lo kenapa? Lo dari mana aja? Semalaman kita gak bisa tidur gara-gara mikirin lo yang gak tau pergi kemana!" Sederatan pertanyaan dengan nada cemas dari Regina menyambut kedatangan Alana, yang baru menampakkan dirinya tepat jam sepuluh pagi lewat tiga puluh detik.

"Gue gak kenapa-kenapa!" Jika kalian berpikir setelah kejadian dimana Dirga merenggut kesuciannya, membuat Alana murung atau mungkin berdiam diri seperti mayat hidup, maka dugaan kalian salah.

Cukup tadi pagi ia menangis, menguras air matanya karena Dirga. Dan sekarang, Alana tidak akan pernah menjadi Alana yang dulu lagi, ia tak akan lagi menjadi sosok yang lemah lembut, tidak akan! Yang ada hanyalah, Alana yang pemarah, pemberontak dan tentunya akan menjadi Alana yang hidup sesuai dengan apa yang diinginkannya.

Dan tujuan hidup Alana sekarang adalah membalaskan dendamnya pada Dirga, dengan cara apapun untuk membuat cowok iblis itu untuk menderita.

"Alana, itu mata lo sembab, lo pasti kenapa-kenapa, Lana," Arka menatap Alana jengah.

"Yah! Gue bilang gue gak apa-apa yah, gak papa! Lo gak usah tanya-tanya gue! Urus urusan lo sendiri!" Bentak Alana, sepertinya Alana akan lebih sering membentak mulai sekarang, mungkin sekecil apapun masalahnya.

"Yah! Alana! Sejak kapan lo jadi suka bentak-bentak!" Arka sedikit meninggikan nada suaranya membalas bentakkan Alana padanya.

"Udah, lo pasti lapar, kan? Haus? Tunggu disini yah gue ambilin lo makan," ujar Regina berusaha sesabar mungkin setelah mendengar bentakan Alana pada Arka.

"Udah gak usah!"

"Alana, sekali aja yah, lo duduk, gue ambilin lo makan, terus lo makan, setelah itu lo bebas mau ngapain," ujar Regina memaksa Alana untuk duduk pada salah satu sofa yang berada di ruang tamu rumah keluarga Adnan.

Regina dengan segera menuju dapur, walaupun ia sendiri tak tahu makanan apa saja yang ada di dapur, yang terpenting Alana bisa mengisi perutnya, karna ia sangat yakin Alana belum makan, terlihat dari gadis itu yang terlihat lesu walaupun Alana sudah berusaha untuk

Langkah Regina terhenti, matanya membulat sempurna, dan jantungnya berdebar tidak karuan, emosinya seketika meluap, kemarahan tercetak jelas pada matanya yang berapi-api, kala matanya meliahat di dalam sana, di dapur, Adnan dan Dinda tengah berciuman!

Regina dengan segenap kesadarannya, mencoba mencerna apa yang tengah dilihatnya kini. Sungguh, rasanya Regina seperti ingin mengalami serangan jantung.

Adnan dan Dinda? Dua orang yang menurutnya beribawa dengan pemikiran keduanya yang selalu menjadi penengah kala ia, Arka dan Alana jika terlibat percekcokkan. Bermain dibelakang Alana? Tunggu, bukan hanya Alana, tapi juga kakaknya, Erlan. Dan dengan teganya keduanya bahkan rela memadu kasih di kala mereka tengah mencemaskan dimana keberadaan Alana?

Alih-alih, melabrak Adnan dan Dinda, Regina lebih memilih memutar langkahnya kembali menghampiri Alana. Sekarang bukanlah saat yang tepat, Alana baru saja kembali setelah pergi tanpa kabar semalaman, ia tak ingin memperkeruh keadaan.

"Alana sepertinya kita makan diluar saja," ujar Regina menghampiri Alana dengan terburu-buru dan langsung menarik tangan Alana.

"Lo kenapa Gin? Tadi katanya mau ngambilin gue makan? Kok sekarang malah ngajak makan diluar? Kalau lo gak mau ngambilin gue makan atau bikinin gue makan, bilang! Gue bisa ngambil sendiri," ujar Alana melepaskan tangannya dari genggaman Regina.

"Eh, kita makan di luar aja Na, terserah lo, lo mau makan apa, gue yang bayar!" Ujar Regina menghentikan langkah Alana yang hendak pergi ke dapur.

Alana mengerutkan alisnya, "lo kenapa sih? Ngotot banget ngajak gue makan diluar, padahal tadi kan lo mau ambil makan di dapur?" Selidik Alana membuat Regina sedikit gugup.

"Lo kenapa Gina?" Tanya Arka yang melihat perubahan sikap Regina.

"Gak, gue gak kenapa-kenapa, gue cuma pengen traktir lo aja Na,"

"Yaudah kalau mau lo makan diluar, tapi Adnan dimana? Kok dari tadi gak keliatan?"

"Adnan ada d----"

"Adnan tadi keluar, dia lagi nyariin lo, iya," Regina dengan cepat memotong kalimat Arka, membuat cowok itu menatap Regina dengan kening berkerut. Seingatnya Adnan tak keluar, yang ia tahu tadi, Adnan hanya pergi ke kamarnya untuk mandi.

"Oh, terus Dinda dimana? Masa cuma ada lo berdua?"

"Dinda tadi perg----"

"Dinda tadi keluar ada urusan, tapi nanti dia juga datang kok, gue tadi udah tanya dia kalau lo udah pulang,"

"Alana?" Alana menolehkan kepalanya, melihat siapa yang memanggilnya.

"Adnan?" Alana mengerutkan keningnya melihat Adnan, masalahnya baru saja Regina memberitahunya tadi bahwa cowok itu keluar untuk mencarinya dan nyatanya cowok itu ada di rumah.

Regina yang melihat Adnan, seketika menegang, sekarang apa yang akan ia katakan?! Sungguh otaknya sekarang tiba-tiba tidak bisa berpikir apa-apa!

"Lo dari mana aja semalaman?" Tanya Adnan sembari menghampiri Alana.

"Tadi, malam gue nginap di rumah teman, dan lupa buat kasih tau lo," dusta Alana.

"Lo itu gimana sih?! Lain kali ngabarin! Jangan suka buat orang cemas!" Ujar Adnan mengomeli Alana.

Sedangkan Regina yang mendengarnya hanya memutar kedua matanya. Cemas katanya? Cemas apanya! Tunangannya tidak tau kemana dia malah asik berciuman dengan teman tunangannya sendiri! Sungguh sangat mencermikan definisi munafik yang sesungguhnya.

"Siapa suruh lo cemasin gue," ujar Alana cuek. Oke sifat baru Alana yang sekarang adalah menyebalkan. "Lo mau ikut makan gak sama Regina sama Arka?" Tanya Alana menatap Adnan.

"Loh, kenapa mau makan diluar? Kan Dinda lagi masakin kita makanan buat makan,"

"Dinda ada disini?" Tanya Alana memastikan.

"Dari tadi malam, dia ada disini, cemas nyariin keberadaan lo,"

Seketika, Regina merasa seperti ingin hilang pada saat itu. Sungguh ia tak tahu apa yang akan dijawabnya jika Alana mempertanyakan kebohongannya tentang mengatakan dimana keberadaan Adnan dan Dinda.

My Possessive Ice BoyCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang