Alana menatap nyalang ke arah Dirga. "Udahlah Ga, mulai sekarang kita bukan siapa-siapa! Gue tahu lo itu bosan sama gue!" Jelas Alana untuk kesekian kalinya.
Dan Dirga masih dengan posisinya yang bersikeras menahan kepergian Alana.
"Alana, dengerin gue dulu. Lo itu salah paham! Gue gak selingkuh! Bahkan bosan pun tidak!"
Alana menggeleng. "Lalu siapa wanita yang bilangin gue jalang itu? Dan lo gak sedikitpun ngebantah sebutan itu buat gue! Lo kira hati gue gak sakit dibilang jalang, hah?!"
Dirga mengerutkan keningnya, "Kinan?"
"Oh jadi namanya Kinan?! Ya udah lo sama si Kinan Kinan itu, ngapain nahan-nahan gue!" Ketus Alana.
Dirga menghela napas. "Alana, lo jangan salah paham sama gue, oke? Gue sama sekali gak ada rasa sama Kinan,"
"Terus ngapain lo ladenin? Gue gak suka yah Ga! Lo ngelarang gue deket sama cowok lain, tapi lo malah enak-enakkan dekat sama cewek lain!"
Seketika tawa Dirga meledak, membuat Alana mengerutkan keningnya tak suka.
"Ngapain lo ketawa?" Ketus Alana.
"Ululu, ternyata Alana cemburu toh, lucu yah liat lo cemburu," ujar Dirga masih dengan tawanya.
"Ini gak lucu yah, Dirga! Kalau lo cuma nganggep hubungan ini cuma lawakan kita sudahi aja semuanya!"
Seketika Dirga merubah ekspresinya yang tadinya tertawa kini menjadi dingin dan begitu menyeramkan.
"Alana, dari dulu gue pengen ngelangkah ke jenjang yang serius sama lo, tapi lo yang gak mau! Dan sekarang lo bilangin gue kalau gue yang gak serius?! Wow Alana lo pinter banget ngeputer balikkin fakta!"
"Dirga! Kalau lo serius sama gue, ngapain lo jalin hubungan sama si Kinan itu?!"
"ALANA GUE SAMA KINAN GAK ADA HUBUNGAN!" Bentak Dirga yang membuat Alana terkesiap.
"Harus gue jelasin lo kayak gimana lagi, mau gue pertemuin lo sama Kinan dan memperjelas semua kesalahpaham lo iya?!" Lanjut Dirga emosi.
Alana menatap Dirga takut. "Gue gak mau lagi tinggal satu apart sama lo," suara lirih Alana memecah keheningan beberapa saat yang lalu.
Dirga menghela napas. "Gue mau kita menikah secepatnya! Ini bukan pertanyaan tapi pernyataan! Gue bakal hubungin orang tua lo! Karna dengan begitu, lo gak akan bimbang lagi!"
"Dirga! Pernikahan itu bukan sebuah permainan!"
"Siapa yang bilang pernikahan itu permainan?! Lo kan? Lo sendiri yang ciptain masalah dalam pemikiran lo Alana!"
"Gak Dirga, pernikahan gak semudah yang lo pikir!"
"Itu akan mudah Alana, karna kita saling mencintai! Atau mungkin lo yang gak cinta sama gue?!"
Alana menggeleng, "ini semua bukan hanya tentang cinta Dirga!"
"Alana sekarang lo tinggal pilih, menikah atau pergi dan setelahnya kita gak akan pernah ketemu lagi?"
Alana menggeleng. "Lo gila?!"
"Pikirin ini baik-baik Alana. Gue kasih lo waktu buat nentuin pilihan lo," ujar Dirga kemudian meninggalkan Alana yang kini tiba-tiba merasa pusing.
Seminggu setelah kejadian hari itu. Alana terus memikirkan pilihan yang diberikan Dirga.
Dan bahkan setelah seminggupun, Alana masih bimbang. Ia dan Dirga masih berkuliah, dan terlalu dini jika ingin menikah. Seandainya Dirga tak memberi pilihan untuk pergi dan tak akan bertemu lagi. Maka ia dengan tegas akan mengatakan tidak untuk melakukan pernikahan. Tapi, ia terjebak.
Alana dengan kebimbanganpun, menelpon ibunya untuk memberinya saran.
"Jika kau mencintainya, dan diapun demikian menikahlah, masalah sikap kalian yang mungkin masih belum cukup dewasa, kau mintalah padanya untuk bersikap lebih dewasa, beri dia waktu dia untuk membuktikannya, baru kau bisa memutuskan pilihanmu."
Begitulah yang dikatakan ibunya di telpon. Membuat Alana mendapat sedikit titik terang dari masalahnya.
Besoknya, Alana meminta pada Dirga agar lebih bisa bersikap dewasa, agar ia bisa yakin dengan pernikahan yang diinginkan oleh lelaki itu.
Tentu Dirga menerimanya, dan berusaha untuk bersikap seperti yang diinginkan Alana.
Tiga bulan berlalu. Alana merasakan perubahan sikap Dirga. Dirga yang mulai lebih sabar, tak lagi egois, dan juga tak langsung mengambil keputusan sepihak terhadap suatu masalah.
Karna perubahan sikap Dirga. Alana memutuskan untuk melangsungkan pernikahan dengan lelaki yang sangat dicintainya itu.
Setelah kedatangan kedua orang tua Alana dari Jerman. Dirga dengan segera membawa ayahnya ikut serta untuk melamar Alana.
Orang tua Alana yang memang sudah mengetahui akan lamaran Dirga. Langsung menerimanya. Karna bagaimanapun, kebahagiaan Alana yang terpenting bagi keduanya. Dan Dirga juga merupakan sosok yang seringkali menjaga Alana ketika keduanya berada di Jerman.
Dan akhirnya, hari itu datang. Hari dimana Alana dan Dirga saling mengikat dalam ikatan pernikahan.
Pernikahan keduanya hanya dihadiri keluarga dan kerabat terdekat.
Dan senyum bahagia itu selalu terpancar dari wajah Dirga dan Alana.
[SELESAI]
Ingin tahu kisah rumah tangga Dirga dan Alana? Baca sequelnya, yang judulnya 'YOURS' cek aja di profil akunku.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Possessive Ice Boy
Ficção Adolescente[SELESAI] ▪︎Segera direvisi▪︎ Bagi Dirga, Alana adalah miliknya, dan akan tetap menjadi miliknya apapun yang terjadi, sekalipun itu menyakiti Alana. Bagi Alana, Dirga adalah kelemahannya, sekuat apapun Alana menolak Dirga, maka sekuat itu pula ia ha...
