MPIB'14

47.1K 2.1K 19
                                        

"LALU, APA MAKSUD DARI KEPEDULIAN LO SAMA GUE?!"



Pertanyaan Dirga masih saja terngiang dalam ingatan Alana, jelas jawabannya karena Alana mencintai Dirga, namun, Alana menepisnya dengan berbagai alasan yang membuatnya merangkai kalimat kebohongan.



Sungguh, Alana mencintai Dirga, bahkan ialah yang dulu menyatakan perasaannya lebih dulu.



Dingin, itulah yang membuat Alana merasa Dirga itu berbeda. Bagi Alana cowok yang dingin pasti tidak akan banyak mengatur karena mereka terkesan cuek, tapi ia tahu jauh dalam lubuk hatinya pasti ada kehangatan.



Namun, belakangan ia merasa tidak suka dengan sikap Dirga, sungguh ia bukan tipe yang suka diatur, ia benci diatur.



"Alana, lo ngelamunin apa?" Pertanyaan itu membuyarkan lamunan Alana.



"Eh, Arka," ujar Alana melihat Arka, "ARKA!!!" teriak Alana kemudian yang membuat Arka kaget dibuatnya.



"Lo kenapa teriak?" Tanya Arka mengusap kedua telinganya yang sakit akibat teriakkan Alana.



"Lo ngagetin gue," ujar Alana yang langsung bangkit dari duduknya.



"Lo yang ngagetin gue," kesal Arka. "Lo ngapain duduk ngelamun sendirian disini, gak takut lo sama penunggu disini," lanjutnya melihat sekeliling yang hanya terdapat bangku serta rumput dan pepohonan yang menambah kesan mistis tempat itu.



"Gak, lagian gue suka disini, tenang gak ada yang ganggu,"



"Yaiyalah sepi, orang taman belakang sekolah, mana ada yang mau kesini,"



"Terus kenapa lo kesini?"



"Yah, Lana gue cariin lo, tadi gue cuma liat Dinda sama Regina di kantin,"



Regina? Yah cewek yang dulu datang ke rumah sakit menjenguk Arka, hari ini adalah hari pertamanya di sekolah ini, cewek itu sekelas dengan Alana, dan Dinda juga mengatakan bahwa Regina adalah adiknya Erlan. Dan Alana hanya membalas ala kadarnya jika diajak berbicara oleh cewek itu.



"Arka lo ada hubungan ya sama Regina?" Tanya Alana dan melangkah lebih dulu meninggalkan taman belakang dan diikuti dengan Arka yang berhasil menyamai langkahnya dengan Alana.



"Gak, gue sama Regina itu gak ada apa-apa,"



"Berhenti ngikutin gue Arka! Gue gak mau nanti Dirga ngamuk lagi," Alana memperingati Arka, tatkala ketika keduanya tengah berjalan di koridor.



"Kenapa? Lo takut lihat gue dipukul sama Dirga? Atau lo takut liat Dirga dapat pukulan dari gue?" Arka masih nekat berjalan di samping Alana, membuat Alana berhenti.



"Dua-duanya! Jadi tolong jaga jarak," ujar Alana setenang mungkin.



"Kenapa? Kenapa harus begitu? Bukankah sekarang lo bukan siapa-siapanya Dirga?"



"Sebaiknya, lo kembali ke masa lalu lo Ka, Regina, sepertinya cewek itu masih cinta sama lo,"



Tanpa keduanya sadari kini banyak yang memperhatikan pergerakan mereka.



"Gak, gue gak cinta sama Regina, bahkan dulupun gue gak pernah cinta sama Regina, gue cintanya sama lo," Alana menggeleng mendengar penuturan Arka.



"Lupain gue," Alana mengedarkan pandangannya ia tak sengaja melihat Regina disana, sepertinya cewek itu mendengarnya.



"Regina..." Alana meninggalkan Arka dan mengejar Regina yang berlari.



Regina memasuki kelasnya dan menenggelamkan kepalanya pada tumpuan tangannya.



"Regina, itu tadi... sebenarnya gak seperti yang lo pikirin, Arka itu cinta sama lo, mungkin dia belum menyadari perasaannya, Arka itu keliru," Alana menjelaskan, entahla walaupun ia belum terlalu mengenal cewek itu, sepertinya ia harus memberikan penjelasan padanya karena ia merasa cewek itu bersedih karenanya.



Regina mengangkat wajahnya menatap Alana dengan matanya sembab, "benarkah?" Tanyanya yang langsung dianggukki oleh Alana, "kalau begitu tolong bantu gue buat Arka sadar akan perasaannya sama gue,"



Mendengar itu membuat Alana bingung ingin berkata apa, cukup masalahnya dan Dirga yang ia pikirkan, jangan lagi ditambah. Tapi ia juga merasa bersalah melihat Regina. Akhir-akhir ini ia seperti banyak merasakan persaan bersalah hingga membuatnya tak mampu bahkan untuk menolak atau berkata tidak.



"Ba---"



"Ginaa," Alana mengalihkan pandangan pada seseorang yang baru saja memasuki kelasnya dan langsung menghampiri Regina mengabaikan keberadaanya.



"Gue kan udah bilang, Arka itu gak cinta sama lo, dia itu gak baik buat lo," ujar cowok itu mengusap rambut Regina, dan kembali Regina mengeluarkan air matanya akibat perkataan cowok itu.



Sedangkan Alana yang melihatnya hanya bisa menggelengkan kepalanya, Regina terlalu mudah meneteskan air matanya, tunggu dulu tapi bukankah ia juga seperti itu? Mungkin inilah yang dirasakan orang jika melihat menangis, sedikit kesal.



"Berhentilah menangis! Arka harus membayar atas terbuang sia-sianya air mata lo," Cowok itu bangkit dan berjalan dengan cepat dengan kilatan amarah pada matanya, tanpa ba-bi-bu Alana bangkit dan mengejar cowok itu, dengan sedikit berlari, karena Alana tahu maksud dari apa yang cowok itu ucapkan.



"Erlan, tunggu!" Alana masih berlari mengejar Erlan, padahal cowok itu hanya berjalan.



"Lo anak baru disini jangan buat keributan," sepanjang koridor Alana berlari meneriakki Erlan dengan kata-kata yang mungkin bisa meredam sedikit amarah lelaki itu.



Tanpa Alana sadari sedari tadi seseorang terus melihat pergerakannya, semuanya! Mata tajam itu menatap Alana, hanya Alana. Bahkan sedetikpun matanya tak ia alihkan pada yang lain selain pada gadis yang sekarang kini telah jatuh di lantai.


My Possessive Ice BoyCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang