MPIB'29

26.3K 1.3K 31
                                        


"Maaf, Dirga. Gue gak bisa. Gue harap lo ngerti. Gue udah tunangan Ga, selama dua tahun ini gue kira rasa lo mulai memudar dan gue berharap itu terjadi." Alana menatap sendu Dirga, kini ia dan Dirga tengah berada di pasar malam lebih tepatnya kini keduanya tengah duduk pada bianglala. Tentunya dengan paksaan Dirga.

"Gue gak peduli, lo udah tunangan atau gak!" Dirga mendengus tak suka. Membuat Alana jengah sendiri.

"Lo jangan keras kepala dong Dirga! Gue gak bisa bersama lo, sementara gue udah tunangan. Gue gak bisa Dirga, dan walaupun gue juga mau bersama lo, gue tetap gak bisa, gue gak bisa khianatin hubungan gue sama Adnan yang udah berstatus sebagai tunangan gue, Ga," ujar Alana dengan menunjukkan telapak tangannya di depan wajah Dirga, dengan jari manisnya yang sudah dilingkari sebuah cincin putih.

"Alana, gue bilang gue gak peduli, lo gak tau apa, dua tahun ini gue sangat tersiksa karna jauh dari lo dan sekarang gue gak akan ngelakuin kesalahan yang sama dengan mengikuti kemauan lo yang mau gue menjauh," ujar Dirga menangkup kedua pipi Alana.

Seketika, butiran air mata berhasil lolos dari kedua mata Alana, membasahi kedua pipinya dan tentunya membasahi juga kedua telapak tangan Dirga menangkup kedua pipinya. Dirga dengan sigap mengusap air mata Alana dengan ibu jarinya.

Tidak ada pembicaraan diantara keduanya. Hanya keheningan dengan suara isakan Alana yang hampir memudar dari pendengaran, hingga keduanya turun dari bianglala.

"Alana," panggil Dirga setelah terjadi keheningan yang cukup lama diantara ia dan Alana.

Alana menghentikan langkahnya mengikuti jejak Dirga yang juga memberhentikan langkahnya, menoleh ke samping menatap Dirga dengan tatapan bertanyanya.

"Gue mau...," Dirga menggantung kalimatnya membuat Alana mengerutkan keningnya, ditambah dengan Dirga yang tiba-tiba meraih tangannya.

Sepersekian detik kemudian, Dirga dengan kasar menarik paksa cincin yang melingkari jari manis Alana, dan langsung melemparnya sembarang arah, membuat Alana membulatkan matanya.

"DIRGA! Lo apa-apaan!" Alana meneriakki Dirga dengan kecemasan yang tercetak jelas pada wajahnya.

"Gue ngelakuin apa yang seharusnya gue lakuin!" Ujar Dirga tak mau kalah.

"Lo gila!" Alana tanpa basa-basi lagi langsung berlari ke arah dimana Dirga melempar cincinnya.

Dengan panik Alana mencari cincinnya, menelusuri rumput demi rumput. Sungguh Dirga bisa membuatnya jantungan jika seperti ini terus. Alana menghembuskan napasnya lega kala berhasil menemukan cincinnya.

Dirga langsung menarik Alana untuk berdiri dengan kasar, menarik lengan Alana dengan mencekramnya dengan kuat.

"Dirga, lepasin!" Alana meronta, sekarang ia tidak akan menerima begitu saja apa yang dilakukan Dirga padanya. Tidak untuk sekarang dan seterusnya.

"Alana! Gue gak suka, liat lo lebih milih cincin itu daripada gue!" Ujar Dirga dengan masih menarik paksa Alana menjauh dari pasar malam itu.

Alana mengerjapkan matanya beberapa kali mendengar penuturan Dirga yang aneh.

"Dirga! Lepasin gue! Gue bisa pulang sendiri!" Alana berusaha melepaskan cengkraman Dirga.

"Gak!"

"DIRGA! LO MAU SAMPAI KAPAN KAYAK GINI TERUS! GUE KIRA LO UDAH BERUBAH! GUE UDAH TUNANGAN, LO TAU GAK SIH?! GUE UDAH TUNANGAN! TUNANGAN! LO DENGER GAK?! GUE UDAH TUNANGAN!" Alana meneriakki Dirga yang berada di di sisi kirinya.

Refleks Dirga melepaskan cengkramannya pada lengan Alana akibat merasakan gendang telinganya yang seperti ingin pecah akibat Alana yang meneriakkinya dari jarak yang sangat dekat.

"IYA ALANA, GUE TAU! DAN LO JUGA HARUS TAU SATU HAL, KALAU LO ITU MILIK GUE! LO MILIK GUE! LO DENGER GAK?! LO ITU MILIK GUE!" Dirga balas meneriakki Alana membuat Alana membulatkan matanya kala merasakan nyeri di telinganya akibat teriakkan Dirga.

"Anjir! Lo gak usah teriak-teriak! Gue gak budek gue masih bisa denger suara lo tanpa lo harus teriak-teriak! Telinga gue sakit! Kalau gue jadi tuli lo mau tanggung jawab, hah?!" Ujar Alana bertolak pinggang menatap Dirga kesal.

"Lo kira, teriakkan lo tadi gak nyakitin telinga gue apa?!" Tantang Dirga.

"Tau! Mending gue pulang daripada lama-lama sama orang yang sifat egoisnya masih tinggi gak berubah-ubah!"

"Gue anter!"

"Gak usah! Nanti lo gak bawa gue pulang ke rumah lagi!"

"Lo gak percaya sama gue?"

***

"Alana, tadi malam, mama nanyain lo, katanya hp-lo gak aktif," ujar Adnan yang menghampiri Alana yang tengah menyiapkan sarapan, kemudian duduk diikuti dengan Alana yang juga ikut duduk di depan Adnan.

"Hp gue lowbat," ujar Alana yang dibalas Adnan dengan deheman.

Alana memperhatikan Adnan yang tengah makan dihadapannya. Mengingat kejadian semalam, pasal Dirga yang membuat cincinya, membuat fokus penglihatan Alana menatap telapak tangan Adnan, yang tersadar akan satu hal bahwa tidak ada cincin yang melingkar pada jarinya.

Yang dilihatnya hanyalah jam berwarna hitam yang melingkari pergelangan tangan cowok itu. Dan lagi, jam itu seperti jam yang dipakai Dinda, sangat mirip. Entah sudah benda keberapa yang Alana lihat, milik Adnan dan Dinda akhir-akhir ini terlihat mirip.

Namun, dalam pikiran Alana, mungkin karena keduanya memiliki banyak kesamaan, itulah yang menyebabkan Adnan dan Dinda memiliki benda yang hampir mirip satu sama lain.

"Adnan, cincin lo mana? Dan, itu jam yang lo pake, kayak mirip sama jam yang juga dipake sama Dinda, bukan sih?" Tanya Alana penasaran, yang membuat pergerakan Adnan yang tengah menyatap sarapannya terhenti.

My Possessive Ice BoyCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang