"Aww!" pekik Alana kala jarinya terkena pisau, gadis bermata sembab itu menatap nanar jari telunjuknya yang terus mengelurkan darah, entahlah ia seperti kehilangan akal sehatnya sekarang, hingga hanya menatap setiap tetes darah dari jari telunjuknya yang mulai jatuh mengenai lantai, tempat ia berpijak sekarang.
"Alana kena-- astaga Alana!" Dinda yang tadinya khawatir mendengar pekikkan Alana kini berkali lipat panik kala melihat jari Alana yang berdarah, sedikit berlebihan memang tapi disini yang membuat Dinda khawatir adalah sikap Alana yang hanya diam melihat darahnya terus mengalir.
Dengan cepat Dinda mencari plester luka, dan mendudukkan Alana pada kursi yang berada pada sisi ruang tamu rumahnya.
"Na, lo kenapa sih?" Ujar Dinda dengan nada khawatir melihat Alana yang kini hanya menatap kosong lurus kedepan.
Bukannya menjawab pertanyaan Dinda, Alana justru menutupi wajahnya dengan kedua tangannya dan menangis pilu, Dinda juga merasakan sesak saat melihat sahabatnya menangis tersakiti.
"Alana, lo kenapa?" Dinda mengulang pertanyaannya, berharap cewek itu mau bercerita, jujur Dinda sangat khawatir melihat Alana, bahkan awal kedatangan Alana ke rumahnya sudah membuatnya khawatir, bagaimana tidak, gadis itu datang dengan pandangan kosongnya dan matanya yang sembab, untung orang tuanya sekarang sedang ke Bandung menjenguk neneknya yang sakit, jika tidak, dapat dipastikan mamanya pasti akan heboh sendiri dan menanyakan ini itu pada Alana, karena ibunya sudah menganggap Alana seperti anaknya sendiri, bahkan Dinda sering bertanya yang anak itu dia atau Alana.
Alana menurunkan kedua telapak tangannya, dan mengusap kasar air matanya, "gue gak pa-pa kok," ujarnya mengulas senyum menatap Dinda, yang kini dibuat bingung dengan sikap Alana.
"Gak pa-pa gimana, orang lo nangis kek ditinggal nikah sama mantan!"
"Gue cuma nangis karena tangan gue sakit," ujar Alana mengangkat tanganya yang sakit. Yang membuat Dinda menggelengkan kepalanya, sepertinya Alana sedang sakit, bukan, bukan sakit fisik melaikan sakit jiwa! Jelas-jelas ia melihat sendiri bagaimana cewek itu hanya membiarkan darahnya mengalir. Namun, Dinda sedang tak ingin memperdebatkannya, karena sekarang cacing dalam perutnya sedang membuat konser, ia butuh makan sekarang!
"Sekarang kita cari makan!" Putus Dinda yang membuat Alana sedikit tersentak karena Dinda mengucapkan dengan teriakkan yang begitu menyiksa bagi indra pendengaran Alana.
Alana menunjuk ke arah dapur dimana ia dan Dinda tadi hendak memasak sop ayam yang tertunda karena tangannya yang tak sengaja terkena pisau. "Tapi-"
"Ah, sudahla lupakan itu, kita cari makan sekarang gue udah gak kuat,"
"Tapi---"
"Sudah jangan banyak tapi-tapian!"
Dinda langsung menarik Alana keluar dari rumahnya, "Lana, gue baru ingat, kenapa kita gak pesan makanan aja," Dinda menepuk jidatnya saat menyadarinya, bukan, bukan menyadari tentang makanan, melainkan tentang tetangganya yang baru saja kembali setelah sekian lama pergi meninggalkanya, ah sudahlah ia sudah seperti akan bertemu dengan kekasihnya.
Dinda itu cewek tipe cewek yang susah beradaptasi, sedikit tomboy dan agak cuek dengan lingkungan sekitar, namun lain ceritanya dengan orng sudah dekat dengannya, makanya meski sudah ditinggal, ia akan tetap setia, padahal hubungan pun tak pasti, hanya sebatas tetangga, tak lebih.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Possessive Ice Boy
Ficção Adolescente[SELESAI] ▪︎Segera direvisi▪︎ Bagi Dirga, Alana adalah miliknya, dan akan tetap menjadi miliknya apapun yang terjadi, sekalipun itu menyakiti Alana. Bagi Alana, Dirga adalah kelemahannya, sekuat apapun Alana menolak Dirga, maka sekuat itu pula ia ha...
