MPIB'09

57K 2.9K 87
                                        

PUTUS?

Pagi-pagi Alana pergi ke rumah sakit, ia takut jika Dirga tak menjaga adiknya, toh Arka juga seperti itu karenanya, walaupun sepenuhnya itu bukan kesalahannya.

Dengan hati-hati Alana membuka kamar rawat Arka, agar tak membangunkan Arka jikalau cowok itu kini sedang tidur.

Yang pertama dilihat Alana adalah Arka yang tengah tertidur, saat ia mengedarkan pandangannya ke penjuru ruangan itu membuatnya tertegun tatkala mendapati Dirga yang tengah tertidur pada sofa yang berada pada sudut ruangan.

Dengan perlahan Alana menutup kembali pintu kamar itu, perasaannya kini merasa lega dengan hardinya Dirga dalam ruangan itu.

Bruk

Ketika hendak mundur Alana merasa menubruk sesuatu di belakangnya. Dengan sigap Alana berbalik dan mendapati sepasang manusia yang mungkin sebaya dengannya kini menatapnya.

Cewek di hadapannya kini begitu cantik menurut Alana, ditambah dengan matanya yang terlihat indah dan hidungnya yang mancung. Tak lupa cowok yang berdiri disamping cewek itu yang membuat Alana sedikit terkagum melihatnya untuk pertama kali, ingat hanya sedikit.

"Apa ini kamar Arka?" Tanya cewek berambut kecoklatan itu dengan nada yang terdengar khawatir.

Alana hanya menanggapi dengan anggukan setelah sebelumnya ia terlihat bingung sekaligus penasaran dengan cewek yang bertanya padanya. Ia tak pernah melihatnya, bahkan jikalau pun dia dekat dengan Arka mengapa Arka tak pernah menceritakannya.

Cewek itu melewati Alana dan membuka pintu kamar rawat Arka, sebelum Alana memberitahukan bahwa yang berada dalam kamar itu masih terlelap.

Mau tak mau Alanapun ikut masuk diikuti oleh cowok yang berasama cewek tadi.

"Arka," ujar cewek itu cemas saat melihat Arka yang masih terlelap dan duduk pada kursi yang menghadap pada bankar dan langsung memegang tangan Arka.

Alana yang melihat itu tak bisa diam dan memberanikan diri untuk membuka suara, "maaf, hm, lo siapa yah?"

Cewek itu berbalik menatap Alana, "kenalin gue Regina," cewek bernama Regina itu mengulurkan tangannya.

"Alana...," baru saja Alana ingin membalas uluran cewek itu, namanya dilanggil dengan suara yang tak asing bagi indra pendengarannya.

Regina mengikuti arah pandangan Alana, "Dirga?" Ujar Regina sedikit terkejut dengan sosok yang dilihatnya.

Dirga sebenarnya sama terkejutnya dengan Regina, namun ia tetap harus menjaga sikapnya, sudah tentu cewek itu datang untuk Arka.

Dirga berjalan ke arah Alana, "ayo pulang!" Ucap Dirga dengan tenang tentunya dengan nada memerintah, iapun menarik pergelangan tangan Alana menuju pintu dengan sedikit mengeratkan genggamannya, oke sebenarnya sangat erat hingga Alana terlihat menahan rasa sakit pada pergelangan tangannya.

Sebelum Dirga membuka pintu, ia berbalik dan menatap cowok yang sedari tadi hanya memperhatikan interaksi mereka.

"Oh, ya Erlan," cowok itupun menatap Dirga dengan tatapan bertanya, menunggu apa yang akan diucapkan Dirga padanya.

"Tolong kasih tau adik lo buat jaga pacarnya itu agar gak gangguin milik orang lain, kalau gak mau berakhir di rumah sakit seperti sekarang ini," tanpa menunggu respon dan Erlan, Dirga langsung membuka pintu keluar dan membantingnya dengan keras yang membuat Alana sedikit meringis dengan kelakuan Dirga.

***

"Dirga lo ngapain bawa gue ke rumah ini lagi?" Tanya Alana dengan suara yang sedikit ketakutan mengingat apa yang dilakukan Dirga padanya ketika Dirga membawanya ke rumah yang katanya adalah rumah hukuman baginya. Apakah ia akan dihukum? Tapi ia salah apa, hingga benar ia akan dihukum?

Dirga kembali mencekram pergelagan tangan Alana dengan kuat, "katakan, apa yang lo lakukan pagi-pagi ke rumah sakit?" Tanya Dirga dengan amarah yang tertahan dengan semakin menguatkan cengkramannya pada pergelangan tangan Alana, membuat cewek malang itu meringis kesakitan hingga rasanya air matanya ingin menetes karena rasa sakit yang sangat teramat.

"Dirga lepas dulu tangan gue," ujar Alana tertahan dengan rasa sakit pada pergelangan tangannya.

Dirgapun menghempaskan tangan Alana kasar, beruntung Alana masih bisa menjaga keseimbangan tubunhnya jika tidak, mungkin sekarang pantatnya sudah mencium dinginnya lantai rumah itu.

"Bisa gak sih lo gak kasar? Lo itu seperti iblis yang nyiksa gue," ujar Alana mengerluarkan isi hatinya, dan itu benar adanya Dirga sudah seperti iblis sekarang, dan itu membuatnya takut.

"Jika lo ingin gue gak jadi seperti iblis, berhentilah untuk tidak mengikuti perintahku!"

"Dirga, kenapa gue harus mengikuti perintah lo, sedangkan lo sendiri tak ingin diatur? Gue juga sama dengan lo, tak ingin di atur!"

"Karna lo milik gue! Dan yang menjadi milik gue harus mengikuti perintah gue dan tidak boleh melakukan apa yang gue larang!"

"Jika gue milik lo, maka lo juga milik gue, berarti lo juga harus mengikuti perintah gue dan juga tidak melakukan apa yang gue larang! Adil bukan?!"

"Alana! Gue hidup bukan untuk diperintah dan diatur! Apalagi diatur oleh cewek seperti lo!"

"Dan Dirga! Gue juga hidup bukan untuk diperintah dan diatur! Apalagi diatur oleh iblis kasar seperti lo!"

"Alana!"

"Jika begini terus gue mau kita putus!"

"Baiklah, jika itu mau lo!"


TBC

My Possessive Ice BoyCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang