MPIB'19

33.9K 1.7K 29
                                        

"Mau lo apa sih?!" Teriak Alana kesal.



"Gue mau lo berhenti bersikap seperti cewek murahan!"



Plak.



Alana langsung mendaratkan tamparannya pada Dirga dengan keras, namun tamparan itu seakan tidak mempan untuk membuat Dirga sadar buktinya cowok itu masih setia dengan mata elangnya yang menatap Alana tajam.



"Maksud lo apa? Hah?!" Tanpa disadari setetes air mata mengalir dari pelupuk mata Alana dan dilanjutkan dengan tetesan berikutnya yang semakin mengalir deras.



"Lo itu murahan Alana! Semua cowok lo pikirin! Bahkan mungkin gue gak pernah ada di pikiran lo!" Dirga menghiraukan air mata Alana yang sedari tadi mulai mengalir. Egonya lebih mengusainya sekarang, membutakan hatinya yang membuat hati Alana merasa sakit, rasa sakit yang paling menyakitkan dari semua rasa sakit yang pernah dirasakannya.



Alana dengan kasar mengusap air matanya, cukup sudah bersabar menghadapi Dirga yang selalu saja merendahkannya. "Memangnya lo siapa sampai harus ada dipikiran gue, hah?!" Tanya Alana menggebu, memangnya Dirga siapa harus mengaturnya? Bahkan orang tuanya pun tak segitu mengatur dirinya.



Kau tau? Bahkan orang baikpun bisa menjadi buruk. Dan alasan dari perubahan itu kebanyakan dari hati yang tersakati. Jadi, jangan salahkan Alana jika ia berubah, ia sungguh tak tahan dengan Dirga, membuat hidupnya mati rasa.



Mendengar kalimat yang diucapkan Alana membuat amarah Dirga berada pada puncaknya. "Lo bilang apa tadi?!" Dirga mencekram pergelangan tangan Alana sangat kuat.



Alana berusaha untuk tidak terlihat lemah didepan Dirga dengan menahan sakit pada pergelangan tangannya yang sungguh tangannya itu seperti ingin patah sekarang. "Lo bukan siapa-siapanya gue Dirga! Jadi, gak ada gunanya gue mikirin lo yang jelas-jelas gak penting!" Ujar Alana berusaha untuk menahan rasa sakit yang ditimbulkan dari cengkraman Dirga yang semakin kuat.



"ALANA!!!" Bentak Dirga. Tidak! Kali ini Alana tidak akan lagi takut, ia sudah lelah bersabar menghadapi sikap Dirga belakangan ini, dan juga lelah ketika kesabarannya tidak dihargai sama sekali. Sekarang tunduk pada apa yang dilakukan ataupun yang diinginkan cowok itu sama saja menjatuhkan harga dirinya. Dan bagi Alana harga diri adalah harga mati.



"DIRGA BERHENTI BENTAK-BENTAK GUE. BUKA PINTU MOBILNYA SEKARANG, GUE MAU PULANG!"



"TERNYATA LO UDAH BERANI YAH ALANA," ujar Dirga dengan penuh penekanan dan memegang dagu Alana.



"JAUHIN TANGAN KOTOR LO DARI GUE DIRGA!" ujar Alana menghempaskan tangan Dirga yang memegang dagunya.



"ALANA BERANINYA KA---"



"Dirga lo gak capek bentak-bentak mulu dari tadi, hah?! Gue mau pulang, kalau lo gak mau anterin gue yaudah buka pintu mobil lo, gue mau pulang! Waktu gue terlalu berharga buat ngeladenin lo!" Ujar Alana memutar kedua bola matanya malas.



***



Baru saja Erlan sampai di depan pagar rumahnya. Sebuah mobil dari arah berlawanan dengannya berhenti juga di depan rumahnya.



Erlan yang awalnya mengerutkan keningnya berpikir pemilik mobil itu, namun ketika seseorang yang dikenalnya keluar dari sana membuatnya segera turun.



Dinda yang melihat pergerakan Erlan yang tiba-tiba keluar dari mobil tanpa mengatakan apapun membuat cewek itu segera mengikuti Erlan keluar dari mobil.



"Regina," Erlan langsung menghampiri Regina dan memeluknya mengusap rambutnya lembut dan tak lupa ia menatap Arka yang baru saja keluar dari mobilnya dengan tajam.



Arka yang mendapat tatapan demikian dari Erlan membuatnya menghela napas, ini seperti ia yang dilihat seperti telah membawa lari seorang gadis, dan kini kakak gadis itu menatapnya seakan ingin membunuhnya.



"Lo gak liat gue segitunya, gue gak ngapa-ngapain adik lo," ujar Arka malas.



"Loh, Arka lo disini?" Ujar Dinda yang baru saja menghampiri mereka.



"Yah gue ada disinilah, jelas-jelas lo liat gue disini," jawab Arka yang membuat Dinda kesal yang mendapat tanggapan yang demikian.



"Yah, gak usah ngegas juga kali,"



"Makanya kalau mau nanya yang bermutu jangan nanya yang jawabannya udah jelas-jelas ada didepan mata! Dasar ogeb!"



"Yaudah sih gak usah marah-marah!" Kini keduanya pun berdebat mengabaikan Erlan dan Regina yang melihat keduanya dengan tatapan yang berbeda.



"Lo sendiri yang marah ogeb!"



"Lo yang ogeb, ogeb!"



"Ogeb teriak ogeb,"



"Lo duluan yang bilang gue ogeb berarti lo yang ogeb,"



"Hm hm," deheman Erlan, membuat Dinda dan Arka yang tadinya saling menatap sengit, kini mengalihkan pandangannya pada Erlan.



"Lo apain adik gue?" Tanya Erlan to the point menatap Arka tajam yang membuat Regina refleks menyikut pelan lengan Erlan, namun Erlan tak memperdulikannya.



"Lo negatif mulu yah pikirannya sama gue," Arka terkekeh pelan menjawab pertanyaan Erlan.



Erlan berjalan mendekat ke arah Arka. "Hari ini gue liat adik gue nangis karena lo. Kalau bukan karena Alana yang nahan-nahan gue mungkin lo udah dapat hal yang setimpal dengan apa yang lo lakuin sama adik gue. Sekali lagi lo berani buat setetes air mata adik gue menetes, maka gue akan buat darah lo juga menetes, sebanyak air mata adik gue!" Ujar Erlan pelan agar tak didengar oleh Regina, namun penuh penekanan.



Dinda yang berada di dekat Arka mendengar apa yang dikatakan Erlan yang sontak membuatnya langsung memengang lengan Erlan kuat. Mendengar itu Dinda merasa itu bukan Erlannya. Terlalu kejam jika membayangkan jika air mata dibalas dengan darah. Itu cukup mengerikan bagi Dinda.



My Possessive Ice BoyCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang