"Siapa tadi?" Tanya Dirga datar.
"Bukan siapa-siapa, gak penting juga." Jawab Alana menatap lurus ke depan.
"Terus kenapa bisa kenal?" Tanya Dirga masih dengan suara datarnya.
"Tadi,"
"Gue tanya kenapa bukan kapan!"
Alana menolehkan kepalanya, "ye sante dong, jangan ngegas!"
"Jangan-jangan selama seminggu lo jauhin aku, gue jalan lagi sama cowok lain!"
Alana menghela napas kasar. "Terserah mau bilang apa, gue gak peduli!" Jawab Alana malas, daripada ujung-ujungnya nanti berantem lagi mending mengiyakan apa yang dikatakan Dirga tentang dirinya.
"Tuh, kan! Lo tuh gak bisa dipercaya. Gue kan udah bilangin buat gak deket-deket sama cowok selain gue. Lo tuh ngerti gak sih sama apa yang gue omongin? Atau lo gak ngerti bahasa yah?! Atau lo tuli? Berulang-ulang dibilangin jangan deket masih aja tetep ganjen, deket sama cowok sana sini. Emang satu cowok gak cukup buat lo?! Emang gue gak cukup buat ngisi hati lo? Kenapa Alana? Kenapa? Lo itu lama-lama buat gue pusing tau gak mikirin lo yang gak pernah bisa buat ngikutin perintah gue?!"
"Dirga berhenti, turunin gue disini!" Alana berujar dingin, tatapannya masih lurus ke depan.
"Gak!"
Alana diam tak membalas.
"Sekali lagi, gue liat lo deket sama cowok, lo akan liat apa yang selama ini gue ingin lakukan, agar semua orang tau kalau lo itu milik seorang Dirga! Dan apapun yang telah menjadi milik gue tidak boleh ada yang menyentuhnya selain gue!" Dengan tanpa rasa bersalahnya Dirga melanjutkan memperimgati Alana.
"Mau sampai kapan lo gini terus! Gue capek Dirga, dengerin lo bilang kalau gue itu milik lo, gue kira lo udah sadar kemarin, eh taunya belum!"
"Sampai lo gak ngelanggar apa yang gue bilang!"
***
Alana berjalan lesu memasuki rumahnya. Berdebat dengan Dirga itu menguras tenaganya begitu banyak karena memelurkan tingkat kesabaran yang sangat tinggi.
"Astagafirullah," Alana memegangi dadanya akibat keterkejutannya saat melihat siapa yang berada di kamarnya.
"Kamu udah pulang?" Ujar perempuan paruh baya yang kini tengah memasukkan pakaian dari lemari Alana ke dalam koper.
"Mama kapan datang?" Tanya Alana mendekati Arin, ibunya.
"Baru tadi, cepat kamu bantuin mama masukki semua pakaianmu ke dalam koper, dan bawa barang-batang yang ingin kamu bawa," ujar Arin yang masih fokus memindahkan pakaian Alana ke dalam koper.
"Loh, emangnya Alana mau kemana? Dan kenapa mama cuma sendiri? Papa dimana?" Tanya Alana bingung, yang mendadak datang seorang diri dan memindahkan semua pakaiannya ke dalam koper.
"Papa kamu lagi sakit, jadi mama sendiri ke sini. Dan kamu akan tinggal di rumah teman mama. Setelah ini mama akan kembali lagi ke Jerman, karena hanya kakak kamu yang jagain papa kamu."
"Loh, kok Alana pindah ke rumah teman mama, sih?"
"Gini yah, Alana, mama kesini karna khawatir sama kamu, yang nomornya gak aktif-aktif. Kalau diajak ke Jerman pasti kamu nolak, jadi kamu tinggal aja sama teman mama supaya mama bisa tau keadaan kamu, dan juga ada yang jagain kamu, sekalian kamu bisa mengenal anaknya lebih dekat, mama lupa namanya siapa,"
"Hah? Maksud mama supaya aku lebih dekat gimana?"
"Mama mau jodohin kamu sama anaknya teman mama," seketika Alana membelakkan matanya, mendengar apa yang dikatakan oleh Arin.
"Hah? Mama, aduh ma, kok main jodoh-jodohan sih? Sekarang udah 2019 ma,"
"Tenang, mama gak ngejodohin kamu sama om-om, mungkin seumuran sama kamu. Lagian kamu coba aja dulu kenal, siapa tau kamu suka, kalau kamu gak suka mama gak akan maksa."
"Yahh, mama, Alana gak mau!"
"Udah sekarang bawa barang-barang kamu. Kita berangkat!"
***
"Mama, Alana gak mau."
"Alana, kamu hanya coba untuk mengenal, kalau kamu gak suka yah udah. Lagian dia anak teman mama dari kecil."
"Yah, terus kenapa kalau dia teman mama dari kecil!" Kesal Alana.
Arin memencet bel rumah bercat biru itu. "Alana gak ada salahnya mencoba!"
"Yah, tapi--" ucapan Alana terputus kala pintu rumah itu terbuka menampakkan seorang perempuan cantik seusia Arin.
"Sinta." Arin langsung langsung memeluk perempuan yang baru saja membuka pintu itu.
"Ini Alana," ujar Sinta menujuk Alana yang berdiri di samping Arin.
"Iya tante," ujar Alana yang langsung menyalimi Sinta.
"Wah, kamu tambah cantik yah," ujar Sinta menatap Alana yang ditanggapi Alana dengan senyum canggungnya.
"Ohiya, Sinta, aku nitip Alana yah, maaf ngerepotin," ujar Arin mengalihkan pandangan Sinta.
"Eh, gak kok, aku seneng malah, kamu kan tau sendiri kalau aku dari dulu pengen punya anak cewek," ujar Sinta tersenyum menatap Alana yang kini juga tersenyum canggung.
"Ya udah masuk yuk," lanjutnya mengajak Alana dan Arin memasuki rumahnya.
"Ah, sepertinya aku harus segera pergi," ujar Arin melihat jam pada pergelangan tangannya.
"Loh, kok cepet banget, baru juga sampai," ujar Sinta menghela napas kecewa.
"Takut nanti ketinggalan pesawat, aku minta maaf, tolong jaga Alana," dengan terburu-buru Arin pergi meninggalkan rumah bercat biru itu setelah mencium Alana dan tentunya memberitahu Alana agar tak merepotkan Sinta dan keluarganya.
Sinta mengajak Alana menaikki lantai 2 rumahnya dimana kamar yang telah ia siapkan untuk Alana berada.
"Nah, kamar kamu disini," ujar Sinta saat pintu bercat pintu itu tebuka.
"Iya makasih tante,"
"Tante tinggal dulu yah,"
"Iya," ujar Alana kemudian menutup pintu kamarnya setelah Sinta pergi menjauh.
Alana melemparkan badannya pada kasur, memikirkan segala kemungkinan yang akan terjadi pada hidupnya di hari-hari berikutnya setelah hari ini.
Alana yang merasa haus, mencoba untuk memberanikan diri untuk turun ke bawah untuk mencari keberadaan dapur, jujur ia masih merasa canggung.
Alana yang melihat seseorang yang tengah membelakanginya. Ia pun berniat menanyakan keberadaan dapur pada orang itu. Daripada ia kesasar, mana rumahnya besar lagi.
"Eh, permisi, dapur dimana yah?" Alana mengetukkan jari telunjuknya pada lelaki jangkung yang membelakanginya.
Saat laki-laki itu membalikkan badannya membuat Alana sedikit tertegun. "Adnan?"
KAMU SEDANG MEMBACA
My Possessive Ice Boy
Teen Fiction[SELESAI] ▪︎Segera direvisi▪︎ Bagi Dirga, Alana adalah miliknya, dan akan tetap menjadi miliknya apapun yang terjadi, sekalipun itu menyakiti Alana. Bagi Alana, Dirga adalah kelemahannya, sekuat apapun Alana menolak Dirga, maka sekuat itu pula ia ha...
