TUDUHAN
Alana mengerjapkan matanya saat mendengar ponselnya berbunyi, dengan lesu ia meraih ponselnya.
Tanpa melihat siapa yang menelponnya ia langsung mengangkatnya.
"Maaf nomor yang ada tuju sedang ingin tidur, cobalah hubungi setelah ia sudah bangun, terima kasih," ujar Alana dengan nada khas orang bangun tidur.
"Alana!"
Baru saja Alana ingin mengakhiri panggilan itu, namun mendengar suara orang yang menelponnya, membuatnya membelalakkan matanya.
Untuk memastikan dugaannya, Alana mengucek matanya dan melihat siapa yang menelponnya.
Dirga.
Seketika Alana bangun dari posisi tidurnya, mati dia, Dirga yang menelponnya.
"Halo halo halo, apa ..., gue nggak dengar halo halo." Dengan segera Alana langsung memutuskan panggilan, mending ia pura-pura tidak mendengar daripada harus mendengar omelan dari Dirga.
Alana melirik jam berbentuk lingkaran yang tergantung di dinding sudut kamarnya.
"What! Jam enam lewat!" Dengan segera Alana langsung berlari menuju kamar mandinya, mengabaikan ponselnya yang berdering.
Setelah hampir lima belas menit berada dalam kamar mandi, Alanapun keluar dan langsung mencari seragamnya.
Setelah mendapatkan seragamnya, Alanapun segera memakainya.
Mendengar ponselnya yang terus saja berdering, dengan malas Alana mengangkatnya.
"Iya, halo kenapa?" Alana menggenggam ponselnya dengan tangan kirinya dan menempelkannya di telinganya, sedangkan tangan kananya ia pakai untuk menyisir rambutnya.
"Lo di mana sih? Gue udah nunggu dari tadi di depan rumah lo,"
Mendengar itu, Alana langsung mengintip di jendela kamarnya, benar saja ada mobil yang terparkir di depan rumahnya.
"Iya iya tunggu," Alana langsung mematikan panggilan itu dan dengan tergesa-gesa ia mengambil tas-nya dan berlari turun ke lantai satu.
Alana segera bergegas keluar dari rumahnya dan menghampiri di mana mobil Dirga berada.
"Udah lama?" Tanya Alana setelah ia masuk ke dalam mobil Dirga dengan napasnya yang terengah-engah.
"Menurut lo!" Dirga mulai melajukan mobilnya.
"Maaf." Hanya kata itu yang keluar dari bibir Alana, dan selajuntnya suasana pun hening.
Merekapun sampai di sekolah, Alana segera turun dari mobil Dirga, Dirga pun demikian, ia keluar dari mobilnya.
Dirga langsung menghampiri Alana, dan menggenggam tangan Alana, membuat Alana sedikit tertegun, dan melirik Dirga yang juga sedang meliriknya hingga mata mereka bertemu.
Begitu lama mata mereka bertemu, hingga Alana membuang mukanya mengakhiri kontak matanya dengan Dirga.
"Kenapa? Nggak suka?"
"Bukannya gue nggak suka, tapi gue agak risi." Alana menarik tangannya dari genggaman Dirga, "kita nggak usah nggenggam-nggenggaman, lagian kita mau masuk ke sekolah bukan mau nyebrang di jalan raya." Alana mulai berjalan meninggalkan Dirga.
Bukannya ia tak ingin bergenggaman dengan Dirga, namun ia tak ingin menjadi pusat perhatian dan yang ada nanti ia tambah di benci lagi sama deretan fans-nya Dirga.
Baru beberapa langkah Alana berjalan, Dirga langsung menariknya kasar, membuat gadis itu tertarik ke belakang dan tangannya langsung menyentuh dada bidang Dirga, membuat jarak antara dirinya dan Dirga menipis.
Dirga mengangkat dagu Alana, "lo nggak mau ketahuan kalau udah punya pacar sama selingkuhan lo? Hah?!"
Mendengar itu membuat Alana langsung mendorong Dirga dan menjauhkan dirinya dari Dirga, namun dengan cepat Dirga kembali menarik Alana membuat jarak diantara keduanya sangat dekat.
"Dirga, tolong, ingat kita berada di mana." Alana berusaha melepaskan tangannya dari cengkraman Dirga.
"Kenapa? Lo takut dilihat sama selingkuhan?"
Dengan kekuatannya yang masih tersisa, Alana menghempaskan tangan Dirga yang mencekram tangannya dan membuat jarak di antara ia dan Dirga.
"Dirga, stop! Gue nggak selingkuh! Gue nggak ngerti sama jalan pikiran lo, lo itu sering berpikir yang tidak-tidak tentang gue!"
Dan entah sejak kapan, banyak siswa yang berkerumunan melihat Alana dan Dirga, dengan kesal Alana membelah kerumunan itu dan berjalan menuju kelasnya.
Alana juga punya batas kesabaran, ia jengah dengan Dirga yang selalu menuduhnya berselingkuh, dan entah atas dasar apa cowok itu menuduhnya.
Dirga yang melihat kepergian Alana, lantas membuatnya langsung mengejar langkah gadisnya itu, membelah kerumunan yang menjadikan ia dan Alana tontonan di pagi hari yang cerah ini.
Bukan tanpa alasan Dirga menjadi orang yang mudah curigaan, terutama kepada wanita, hanya satu alasannya, masa lalu.
Tidak butuh berapa lama dengan langkah lebarnya, Dirga sudah menyamai langkah Alana.
Alana terus saja berjalan menyusuri lorong sekolah tanpa memperdulikan Dirga yang berjalan beriringan dengannya.
Dirga yang merasa diabaikan sontak membuatnya memegang pergelangan tangan Alana untuk menghentikan langkah Alana, namun Alana dengan cepat langsung menghempaskan tangan Dirga yang memegang pergelangan tangannya, dan Alana kembali melanjutkan langkahnya.
Mendapat penolakan dari Alana membuat Dirga tersulut emosi, dengan kasar ia menarik Alana dan membenturkan punggung gadis itu di sisi dinding lorong sekolah, dan mengurung Alana dengan kedua tangannya.
"Dirga, ini sekolah, tolong," Alana berseru dengan nada memohon pada Dirga dan tentunya dengan menahan rasa nyeri di punggungnya yang terbentur dinding.
"Jangan coba-coba untuk nolak gue!"
Tbc
Makasih udah baca cerita 'My Possessive Ice Boy'.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Possessive Ice Boy
Fiksi Remaja[SELESAI] ▪︎Segera direvisi▪︎ Bagi Dirga, Alana adalah miliknya, dan akan tetap menjadi miliknya apapun yang terjadi, sekalipun itu menyakiti Alana. Bagi Alana, Dirga adalah kelemahannya, sekuat apapun Alana menolak Dirga, maka sekuat itu pula ia ha...
