MPIB'21

35.1K 1.8K 29
                                        


Sudah seminggu Alana menghindari Dirga. Dan Alana bersyukur, Dirga tak begitu terobsesi untuk mendekatinya. Mungkin cowok itu telah kembali pada jati dirinya yang dingin dan cuek, mungkin.

Alana menatap lurus ke depan dimana keberadaan Dirga berada, mengamati gerak-gerik cowok itu. Tidak ada yang berubah, cowok itu tetap terlihat cuek seperti sedia kala.

"Alana," Alana tersentak kala ada seseorang yang menyikutnya dari samping.

"Kenapa, Din?" Alana mengalihkan pandangannya pada Dinda dengan tatapan bertanya.

"Lo, kenapa?" Dinda menatap Alana lekat.

"Kenapa apanya?" Alana semakin memperlihatkan raut kebingungannya memdengar pertanyaan Dinda.

"Dari tadi gue ngomong sama Regina lo kacangin mulu dan lebih milih liatin Dirga, kalau belum move on, bilang!"

"Kalau ngomong jangan sembarangan apalagi volume suara lo, liat keadaan sekitar napa?" Cibir Alana menatap Dinda kesal yang dengan tanpa dosanya berbicara dengan volume yang tak terkontrol, beruntung kantin saat ini bising seperti pasar jadi suara cewek itu bisa diminimalisir.

"Jelas-jelas lo tadi---"

"Iya-iya emang lo sama Regina ngomongin apa? Penting? Sampe-sampe tu makanan lo anggurin," potong Alana kesal dan menatap Dinda dan Regina bergantian dan makanan yang berada di depan kedua cewek itu, kemudian melanjutkan memakan nasi gorengnya.

"Yayaya, terus menurut lo liatin Dirga itu lebih penting dari makanan yang baru sekarang lo sentuh?"

Alana meletakkan kembali sendok yang dipegangnya pada piring. "Gue ke kelas duluan, kalian lanjutin makannya." Alana bangkit pergi meninggalkan kantin dengan kesal.

"Loh, Alana," Regina hendak menahan Alana, namun Dinda melarangnya.

"Nanti juga baik sendiri." ujar Dinda yang diangguki Regina.

***

"Aww!" Pekik Alana tatkala ia merasakan sebuah benda menghantam kepala cewek itu dengan keras.

"Eh, lo gak pa-pa?" Entah datang dari mana seseorang menghampiri Alana yang kini masih memegangi kepalanya. Terdengar nada kecemasan dari suara itu.

"Maaf, gue tadi kekerasan lempar bolanya, gak tau kalau ada lo yang lewat. Gue antar lo ke UKS." Lanjutnya kemudian membantu Alana yang masih memegang kepalanya untuk berjalan menuju UKS.

***

"Tuhkan Din, Alana kayaknya marah deh, buktinya dia gak ada di kelas. Kan tadi katanya mau ke kelas, kok sekarang gak ada," cemas Regina kala tak mendapati Alana berada di dalam kelas.

"Mungkin Alana lagi ke toilet kali, lo gak usah mikir yang gak-gak, gue kenal Alana, kalau marah paling juga bentar dan yang paling penting Alana gak akan ngelakuin hal yang gak-gak," ujar Dinda dan mengeluarkan buku mata pelajaran yang akan dimulai sebentar lagi dari tas-nya.

***

"Lo udah gak pa-pa?" pertanyaan itu menyapa kesadaran Alana yang sialnya masih merasakan sedikit pusing.

Alana menolehkan kepalanya menatap seseorang yang kini menatapnya dengan raut khawatir. "Sedikit pusing," Alana berujar sembari mengedarkan pandangannya pada ruangan yang didominasi warna putih itu.

"Maafin gue, gue gak sengaja tadi,"

"Yah, gak mungkin juga lo sengaja, tapi lo gak usah ngegas juga lempar bolanya,"

"Kalau gitu, salam kenal, nama gue Adnan, sebelas IPS 1," cowok bernama Adnan itu mengulurkan tangannya.

"Alana, sebelas IPA 3," Alana membalas uluran tangan Adnan.

"Sekarang jam berapa?"

"Jam 4."

"What!!!"

***

"Dari mana?" Tanya Dirga yang melihat Alana yang sedari tadi membuatnya resah.

Alana yang baru saja memasuki kelasnya berniat untuk mengambil tas untuk pulang, sedikit terkejut akan kehadiran Dirga dan juga tentunya kedua temannya Dinda dan Regina.

"Aduh, Alana lo kemana aja?" Dinda menghampiri Alana.

"Kok belum pulang?" Tanyanya pada Dinda mencoba mengabaikan keberadaan Dirga.

"Gimana mau pulang, orang lo-nya pergi entah kemana,"

"Ck, gue mah pasti di sekolah lah, gak mungkin hilang, dikira gue bocah apa," Alana berjalan menuju bangkunya dan mengambil tas-nya. "Jadi, sekarang ayo pulang," ajaknya pada kedua temannya.

Dirga yang sudah muak dengan sikap Alana yang mengabaikannya, dengan kasar Dirga menarik pergelangan tangan Alana, menyeretnya keluar kelas, meninggalkan Dinda dan Regina yang terpaku melihat keduanya.

"Sekarang sudah selesai main-mainnya Alana! Jangan kira lo bisa bebas, hanya karena gue menuruti kemauan lo untuk menjauh!" Dirga menyeret Alana sepanjang koridor, yang untungnya sekarang tengah sepi.

"Dirga, lepasin tangan gue!" Alana berusaha melepaskan pergelangan tangannya.

"Gak!"

"Dirga, nanti tangan gue patah!"

"Salah sendiri!"

"Salah gue apa, anjir?!"

"Banyak!"

Sepanjang koridor hanya dihiasi oleh suara perdebatan antara Alana dan Dirga.

"Alana?" Suara itu memberhentikan langkah Dirga yang menyeret Alana, yang kini telah memasuki area parkiran.

"Eh, Adnan," sapa Alana mengarahkan pandangan pada sesosok lekaki yang mengenakan jaket berwarna army itu.

"Belum pulang?"

"Ini mau pulang, gue duluan yah," Alana segera menarik Dirga berjalan ke arah mobil cowok itu.

Dan sekarang, jadilah Alana yang menarik-narik Dirga. Daripada nanti terjadi hal yang tidak diinginkan mending dia narik Dirga. Biarlah ia kena omelan Dirga yang dirindukannya selama satu minggu ini, eh mungkinkah Alana merindukannya?



My Possessive Ice BoyCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang