Mungkin takdir memang tak berpihak pada hubungan Dirga dan Alana. Masalah silih berganti datang menghampiri hubungan keduanya, bagaikan hari demi hari yang berganti, tidak ada ujungnya.
Alana yang tak tahu, jika Adnan adalah anak teman ibunya, yang katanya hendak dijodohkan olehnya, membuat Alana gelisah setengah mati.
Pasalnya Adnan satu sekolah dengannya, dan masalah terbesarnya adalah Dirga telah melihat Adnan dan dirinya bertegur sapa dan lagi-lagi kecerobohannya adalah dengan menyatakan pada Dirga bahwa Adnan bukan siapa-siapa dan juga tak begitu penting.
Lalu, apa yang akan dipikirkan Dirga, jika melihatnya kini tengah bersama Adnan di area parkiran sekolah? Dan ketahuilah bahwa sedari berangkat sekolah tadi, hanya kegelisahan yang menghinggapi Alana.
Alana tak punya alasan untuk tidak berangkat bersama Adnan. Dan sekarang iapun tak punya alasan untuk menjawab pertanyaan Dirga jika saja cowok itu melihatnya dan Adnan. Tak mungkin, Alana akan menjawab bahwa ia dan Adnan dijodohkan dan sekarang ia tinggal di rumah Adnan? Yang ada masalah akan bertambah, Alana yakin itu.
"Lo sakit?" Adnan sedikit mengguncang bahu Alana, pasalnya cewek itu sedari tadi melamun.
"Eh? Gak gak kok," jawab Alana yang awalnya sedikit tersentak akan sedikit guncangan yang diberikan Adnan pada bahunya.
"Ya udah, ayo masuk!" Ajak Adnan yang diangguki oleh Alana.
Alana yang merasa canggung melewati koridor menundukkan kepalanya, lain dengan Adnan yang mengangkat wajahnya tegas menatap jalanan di depannya, mengabaikan beberapa tatapan yang secara terang-terangan menatapnya dan Alana.
Alana bernafas lega kala ia sampai di depan kelasnya.
"Nanti, gue tunggu yah, kalau pulang," ujar Adnan yang diangguki oleh Alana. Adnanpun berjalan menjauh dari kelas Alana menuju dimana kelasnya berada. Begitupun dengan Alana yang melangkah masuk ke dalam kelasnya.
***
Saat bel berbunyi tanda jam istirahat, dengan sigap Dirga pergi ke kelas Alana mengajak---lebih tepatnya memaksa---Alana untuk ke kantin dengannya, mengabaikan kedua teman Alana, Dinda dan Regina.
Alana dengan halus menolak, ia ingin menenangkan dirinya pergi ke perpustakaan, karna disitulah satu-satunya tempat yang tenang untuk memikirkan solusi untuk masalahnya yang kian hari makin runyam, dan juga ia takut jika Adnan juga berada di kantin, ia belum siap berada dalam waktu dan tempat yang sama dengan Dirga dan Adnan, Alana benar-benar belum siap.
Untuk pertama kalinya Dirga mengalah, mungkin karna melihat Alana yang seperti sedang dirundung masalah. Walaupun ia akan tetap ikut berada disekitar gadis itu, sekalipun ia kini merasa lapar, kali ini ia rela menahannya untuk menemani Alana.
Dan yang dilakukan Alana hanya menghela napas kasar. Membiarkan Dirga mengikutinya pergi ke perpustakaan. Biarlah Dirga ikut, daripada ia harus ke kantin, dan ia takut jika Adnan berada disana dan menyapanya, dan berakhir dengan Dirga yang akan bertanya dan berakhir marah-marah, ia takut jika Adnan melihat sikap Dirga padanya dan mungkin akan mengadukannya pada tante Sinta dan tante Sinta akan memberitahu mamanya, dan mungkin dengan begitu mamanya akan menyuruhnya untuk pergi ke Jerman dan ia tak mau itu terjadi.
"Lo kenapa?" Tanya Dirga yang heran melihat Alana hanya diam dengan kedua tangannya yang memegang buku hingga Dirga hanya bisa melihat rambut dan mata cewek itu.
"Baca," jawab Alana singkat tanpa mengalihkan atensinya dari buku yang dipegangnya.
"Baca apanya? Buku yang lo pegang aja kebalik!" Sarkas Dirga yang membuat Alana melihat kembali tulisan yang berada dihadapannya, benar tulisannya terbalik. Ah, kenapa ia jadi seperti orang bodoh seperti ini, hingga tak menyadarinya padahal tatapannya sedari tadi hanya terpaku pada buku, yah tatapan kosong memikirkan solusi yang tepat untuk menyelesaikan masalahnya.
Haruskah ia memberitahu Dirga?
"Ah, itu gue lagi belajar baca buku kebalik,"
Dirga merotasikan matanya. "Emang itu tugas dari siapa? Guru yang mana? Mata pelajaran apa? Kok gue dulu gak pernah dikasih tugas baca buku kebalik," Dirga masih menatap lekat Alana yang kini tersenyum kikuk mendengar penuturan Dirga.
"Gue pengen aja," ujar Alana memaksakan senyumnya.
"Alana, jujur sama gue, gue tau lo sembunyiin sesuatu dari gue, bilang atau gue cari tahu sendiri?"
"Tidak, gue gak sembunyiin apa-apa kok," Alana merendahkan suaranya.
"Iya, apa gue tak begitu lo anggap? Sampai lo menyembunyikan sesuatu dari gue? Jawab Alana!" Ujar Dirga penuh penekanan.
Alana dengan gugup menjawab. "Bukan, bukan itu maksud gue--"
"Lalu apa?! Kenapa lo gak bilang jika bukan maksud lo begitu!" Gertak Dirga yang membuat Alana semakin tertekan.
"Sebenarnya gu..e...--"
"Sebenarnya apa?" Dirga bertanya dengan tidak sabaran mendengar penuturan Alana yang terbata-bata.
"Gue gue gue--"
"Iya lo kenapa?!"
"Gue sebenarnya di---"
"Hei, kalian berdua yang diujung, jika ingin membuat keributan tolong jangan disini, ini perpustakaan, bukan pasar!" Siska, guru yang menjaga perpustakaan itu memperingati Alana dan Dirga yang sedari tadi membuat kebisingan yang sangat mengganggu.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Possessive Ice Boy
Fiksi Remaja[SELESAI] ▪︎Segera direvisi▪︎ Bagi Dirga, Alana adalah miliknya, dan akan tetap menjadi miliknya apapun yang terjadi, sekalipun itu menyakiti Alana. Bagi Alana, Dirga adalah kelemahannya, sekuat apapun Alana menolak Dirga, maka sekuat itu pula ia ha...
