"Va, lo tahu nggak sih tentang Gerry jadi professional gamer ini?" bisik Sinta saat mereka berjalan ke Head Office grup pemilik The Females yang ada di Singapura.
"Don't know, don't care."
"Gue tadi google tentang Thunder, memang agak susah carinya dengan minimnya key words, sampe gue tambahin kata 'game online'. Mulai tuh muncul berjibun. Eh ternyata dia tahun kemarin masuk semi final turnamen dunia loh, Va. Dan itu nggak main-main hadiahnya, juara 3 sama 4-nya aja bisa sampai 4 Miliar rupiah! Seorang dapet se-miliar, o em ji, kalah deh itu hadiah acara ajang bakat," Sinta masih menjelaskan meski tidak ditanya.
Melihat Ava tidak bereaksi dan diartikan oleh Sinta sebagai 'Gue dengerin tapi nggak mau lo tau gue tertarik dengerin', ia melanjutkan penjelasannya. "Tapi sayangnya dia nggak sampe ke Final, walaupun sebenarnya itu udah kebanggan banget sih orang Indonesia yang bisa masuk tim internasional, meski cuma cadangan juga. Eh, apa karena Papanya yah dia berhenti main? Lo denger nggak tadi si cowok sengak itu ngomong sama si Gerry?" Sinta menunjuk Ben sekilas dengan dagunya.
"Neng bawel, kita mau meeting abis ini. Udahan ah!"
Diam-diam Sinta melayangkan tinju ke arah Ava dari belakang punggungnya.
"Gue lihat," Ava bergumam sambil melihat tingkah Sinta dari pantulan pintu lobby yang otomatis terbuka.
"Gue nggak peduli," balas Sinta.
Senyaman itulah pertemanan mereka sekarang, sampai Sinta berani mengungkapkan hatinya ke 'majikannya' tanpa harus khawatir dipecat dari pekerjaannya. Ia tahu di dalam hati Ava yang gelap gulita dan dingin itu, ia masih punya selera humor yang bagus.
***
Kenyataan itu seakan menghantam Sinta: Setiap hari ia bertemu artis papan atas seperti Ava.
Saat bersama para anggotanya, Ava seakan memiliki karisma tersendiri yang berbeda. Memimpin, menuntut, bahkan menuntun, meski ia jauh lebih muda di antara anggotanya yang lain.
Suaranya? Sudah tidak diragukan lagi, inilah mengapa ia menjadi leader dari grup vokal itu, bahkan Sinta bergidik ketika mereka berlatih sebentar untuk menyatukan pitch. Ia masih tak percaya bisa melihat konser singkat gratis yang bahkan harga tiket konser VIP backstage nya saja tidak mampu ia beli. Bukan nggak mampu sih, tapi nggak rela. Hellaw, dengan harga tiket segitu ia akan memilih untuk meng-upgrade merek make up-nya.
Sekilas, ia menoleh ke Ben yang sedang sibuk dengan iPad nya, kemudian ke si Thunder yang sedang bermain dengan serius dari ponselnya.
Ini berdua lagi maen game online bareng atau gimana sih?
"Ger," panggil Sinta. Ia mulai merasa bosan karena tidak melakukan apa-apa.
"Hm," gumam Gerry tanpa mengalihkan pandangannya dari ponselnya.
"Ben itu siapanya Ava emangnya?" Sinta kepo.
Gerry masih terdiam dengan memencet-mencet layar touch screennya dengan super cepat.
"Woy!" Sinta makin kesal dicuekin.
"Iya Kak, bentar, lagi mau menang nih."
"Ih, Ger, Ben itu siapanya Ava? Pacar?" tanya Sinta sekali lagi, tidak menghiraukan Gerry yang masih serius dengan ponselnya. Gerry mendengus mendengar pertanyaan Sinta.
"Nggak mungkin ya? Iya juga sih, nggak mungkin Ava doyan cowok sok gitu. Tapi gue nggak pernah lihat Ava nyaman dengan cowok manapun." Lalu ia teringat apa yang dikatakan asisten Ava dulu waktu di rumah sakit. "Eh, jangan-jangan... Abangnya?"
"He-em," jawab Gerry masih konsen dengan game-nya, meski Sinta melihat perubahan sikap Gerry selama sepersekian detik, seperti baru saja keceplosan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Lavatera [completed]
Fiksi RemajaKehidupan Lavatera tidak pernah sama dengan remaja lainnya. Meski ia cantik luar biasa, emosi dan karakternya yang kompleks tidak pernah cocok untuk berteman, menjadi pemimpin grup, ataupun menjadi pacar seseorang. Tekadnya untuk hidup sendiri seum...
![Lavatera [completed]](https://img.wattpad.com/cover/124119485-64-k632995.jpg)