Ava berlari sekuat tenaga menuju gerbang sekolahnya. Sinta lagi-lagi membuat masalah dengan datang terlambat ke rumahnya pagi ini. Jika bukan karena Sinta baru pulang dari Pusat Rehabilitasi tempat Ben dirawat, ia pasti sudah memarahinya habis-habisan.
Ketika jarak sekolah sudah dekat, Ava memperlambat langkahnya untuk menarik napas. Dari kejauhan, ia melihat segerombolan siswa lain yang juga terlambat sedang disidang oleh para OSIS. Ava menghela napas.
Not again...
Bima yang datang dari belakang Ava, menarik tangan Ava untuk bersama-sama lari ke gerbang.
"Ngapain bengong? Buru, yuk!" seru Bima.
Begitu sampai gerbang, pandangan Gerry langsung melihat ke arah mata Ava, lalu baru ke tangan Bima dan Ava. Melihat arah mata Gerry, Ava yang baru tersadar langsung melepas tangannya dari genggaman Bima.
"Heh, anak baru..." panggil Gerry pada Ava. Matanya terlihat marah terbakar cemburu.
"Ya, Kak..." Ava mencoba merayunya dengan memanggilnya Kakak.
Namun tidak berhasil, Gerry masih terlihat marah.
"Kamu tuh udah mau lulus, masih aja terlambat!"
"Maaf, Kak! Saya kesiangan!" jawab Ava.
"Kenapa? Ketiduran?"
"Iya, Kak, maaf!" ujar Ava, lalu mendekat. "Gara-gara mimpi pacar saya," bisik Ava.
Skak mat nggak! Bibir Gerry tertarik sedikit dan mencoba menahan senyumnya.
Bima melirik ke arah Ava dan mendengus tidak percaya dengan pendengarannya.
"Woyy masih pagi wooyyy..." gumam Bima, pura-pura tidak melihat kemesraan mereka.
"Eh, kalian dengar nggak? Tera punya pacar!" teriak Gerry ke pasukan OSIS-nya. Orang-orang lainnya hanya menengok sebentar ke Ava, dan kemudian melanjutkan aktivitas mereka lagi, merasa tidak tertarik.
Ava tersenyum geli.
"Jadi jangan ada yang deket-deket Tera ya! Apalagi megang-megang tangannya!" sindir Gerry tanpa memandang ke Bima.
"Perasaan lo udah bukan ketua OSIS lagi deh, kenapa masih di sini sih? Bukannya nyiapin kuliah?" tanya Bima jengkel.
"Berisik! Lo tuh lagi dihukum gara-gara telat!" hardik Gerry.
"Ya udah buruan kasih hukumannya, gue mau masuk kelas nih!" dengus Bima.
"Oke, Bima hukumannya jadi penghibur kita waktu makan siang nanti! Lo ntar bawa ukelele lo ke kantin ya ngamen selama makan siang! Mumpung hari ini kelas XII terakhir sekolah, jadi perlu hiburan."
"Trus gue makan siangnya kapan?"
"Di sela-sela lagu lah! Berat? Namanya juga hukuman... Sana masuk!" suruh Gerry.
Bima menggerutu sambil masuk ke sekolah.
"Kalo saya, Kak? Hukumannya apa?" tanya Ava.
"Hmmm... Kamu ikut saya, nanti saya hukum!"
"Ih, nggak jelas! Apa dulu hukumannya, Kak?"
"Ya udah nanti lihat sendiri!" Gerry beralih ke teman-temannya. "Yo, Ron, gue masuk dulu, sekalian mau kasih hukuman ke anak baru nih! Lo ambil alih ya!" Gerry berpamitan kepada temannya.
"Oke, Bro!" jawab Roni, anak OSIS lainnya yang sedang piket.
Gerry menengok kanan kiri sebelum menarik Ava ke lorong antara taman dan ruang musik.
KAMU SEDANG MEMBACA
Lavatera [completed]
TienerfictieKehidupan Lavatera tidak pernah sama dengan remaja lainnya. Meski ia cantik luar biasa, emosi dan karakternya yang kompleks tidak pernah cocok untuk berteman, menjadi pemimpin grup, ataupun menjadi pacar seseorang. Tekadnya untuk hidup sendiri seum...
![Lavatera [completed]](https://img.wattpad.com/cover/124119485-64-k632995.jpg)