Bima melirik Lavatera yang lagi-lagi datang ke Incubic dan duduk di tempat pertama kali ia mengunjungi cafe ini, spot itu menjadi favoritnya setiap saat. Namun kali ini ia tampak lain, semakin bingung, semakin sering melamun.
Begitu banyak pertanyaan yang ingin ditanyakan oleh Bima, namun ia urungkan karena masih sakit hati dengan kebohongan Ava.
Bima merasa seperti lelucon karena ia telah mencurahkan hatinya tentang keadaan keluarganya kepada Ava, sementara ternyata keluarga Ava adalah sumber masalahnya. Dia tidak sanggup membayangkan bahwa selama ini Ava diam-diam menertawakan keadaannya.
"Dia datang lagi," gumam Bowo, Papa Bima.
Bima masih terdiam dan kembali bereksplorasi dengan resep kopinya sendiri.
"Yakin kamu marah karena dia bohong tentang keluarga dan identitasnya? Bukan karena hal lain?" tanya Papanya lagi.
Cerita dari infotainment yang ia tonton di kantin waktu itu kembali menghantui benaknya. Harus diakui, saat itu hatinya marah dan panas saat mendengar kabar itu. Lagi-lagi ia merasa seperti pecundang yang mengemis cinta pada seseorang yang sudah memiliki tunangan, apalagi tunangannya adalah orang yang selama ini selalu menjadi rivalnya di sekolah.
Oh, akui saja, lo cuma nggak pengen dengar jawaban Ava sesungguhnya kan? pikir salah satu sisi batin Bima. Ia menghela napas.
"Papa lega, kamu belum terlalu suka sama dia, jadi mungkin sakitnya nggak akan terlalu lama..." pancing Bowo.
"Maksud Papa?" tanya Bima tidak mengerti.
Lalu Bowo melirik Bima, tersenyum.
"Benar kan? Kalau kamu benar-benar sayang sama dia, kamu nggak akan menghindari dia dan berlama-lama ngambek kayak gini. Justru kalau Papa jadi kamu, Papa nggak akan buang-buang waktu dan langsung tanya sendiri kebenarannya, mencerna penjelasannya, dan mungkin menghiburnya."
Bima berdecak. "Nggak semudah itu. Ini menyangkut Mama..."
"Bim, berapa kali Papa bilang sama kamu? Mama pergi karena pilihannya sendiri, jangan salahkan orang lain atas keputusan Mama. Itu bukan alasan untuk kamu bisa marah sama keluarga mereka. Lagian, kamu pikir tabungan Papa selama ini cukup buat bikin cafe ini? Papa Ava yang mengusahakan agar Papa masih dapat tunjangan yang berlebihan seperti ini, sehingga Papa bisa bikin cafe dan menyekolahkan kamu," jelas Bowo. "Nggak pernah terbesit di pikiran Papa kalau Papa gagal dalam hidup karena Papa di PHK sama Harianto Group. Papa baik-baik saja, Bim," lanjutnya. "Terima kasih ya, sudah peduli sama perasaan Papa," ujar Bowo sambil mengelus rambut anak semata wayangnya.
Bima melihat Ava kembali, menimbang-nimbang keputusannya.
"Pa, Bima pergi dulu."
Bowo membalasnya dengan tersenyum.
Bima lalu menghampiri Ava dan duduk di seberangnya.
"Ada perlu apa ke sini?" tanya Bima, agak grogi. Mau tidak mau hatinya tetap berdegup untuk gadis di hadapannya ini. Ava melihatnya sekilas dan meminum Sprite nya lagi.
"Udah nggak ngambek?" tanya Ava tenang.
Bima tahu Ava tidak bisa memilih kata-kata, namun amarah Bima tetap terpicu karenanya.
"Gue nggak pernah ngambek. Gue marah. Cerita gue lucu ya buat lo? Gue cerita kalau nyokap gue pergi karena keluarga lo, dan apa? Lo mungkin tertawa sebenarnya, kan?" amarah Bima tiba-tiba meluap.
"Apa menurut lo gue orangnya kayak gitu?" tanya Ava.
Bima terdiam, dalam hati ia pun marah pada dirinya yang menganggap Ava memiliki sifat seperti itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Lavatera [completed]
Roman pour AdolescentsKehidupan Lavatera tidak pernah sama dengan remaja lainnya. Meski ia cantik luar biasa, emosi dan karakternya yang kompleks tidak pernah cocok untuk berteman, menjadi pemimpin grup, ataupun menjadi pacar seseorang. Tekadnya untuk hidup sendiri seum...
![Lavatera [completed]](https://img.wattpad.com/cover/124119485-64-k632995.jpg)