Dalam hal akademik, Ava tidak pernah menang dari kakaknya. Nilainya selalu pas-pasan, tidak pernah mendapat nilai yang luar biasa. Bukan berarti nilainya terlalu jelek, hanya pas di atas rata-rata.
Karena itulah hari ini Ava mengikuti abangnya ke kantor pagi ini. Ben janji untuk mengajarinya matematika, mumpung sekolah Ava kini sedang minggu tenang sebelum ujian akhir. Jadwal The Females ataupun berhubungan dengan pembuatan lagu juga sudah diberhentikan sementara. Jika ia tak bisa mendapatkan nilai bagus di ujian kali ini, ada kemungkinan Papanya akan menolak untuk tanda tangan kelanjutan kontrak dengan TF.
"Gimana tidur lo? Udah nggak pernah mimpi buruk lagi?" tanya Ben sambil lalu saat Ava mencoba menyelesaikan salah satu rumus aritmatika.
"Selama gue nggak tidur di rumah, gue jarang mimpi lagi, Ben. I guess I have to move to the appartment for good?"
Ben menghembuskan napas.
"Lo sadar kan lo nggak bisa keluar dari rumah itu selama di Indo? Ava, lo tuh public figure. Mungkin lo udah lupa siapa diri lo sebenarnya karena terlalu lama pake make up dan akting seperti anak sekolah biasa. Tapi lo harus sadar ini cuma sementara. Lo nggak bisa hilangin nama Ava dari The Females setelah lo yang ngebet mau bikin grup ini. Lo juga nggak bisa lawan kenyataan kalo lo itu Lavatera, anak kandung Harianto."
Menyebut nama Papanya, mood Ava menjadi down. Perlukah dia bilang pada Ben bahwa ada orang yang ingin menyakitinya, dan ia curiga orang itu Papanya?
Yeah right Ava, yang ada lo malah diceramahin Ben, sama seperti reaksi Gerry waktu itu.
"Ben, hmm... Lo inget nggak gue ada kenangan buruk apa sama gudang itu?" tanya Ava penasaran. Karena gudang itu seperti pemicu dari semua mimpi buruknya.
"Yang gue tahu lo pernah kekuncian di sana. Gue juga nggak begitu inget," jawab Ben sambil kembali ke monitor laptopnya dengan jari-jari lincah mengetik di keyboard-nya.
Saat mengingat masa lalu, entah mengapa Ava ingin sekali bercerita tentang kejadian di rumah Gerry beberapa hari yang lalu.
"Oh iya Ben... Hmm... Gue... Waktu di rumah Gerry.. dikasih tahu foto nyokap," ujar Ava pelan.
Jari Ben berhenti mengetik. Ia melirik ke arah Ava.
Ava tahu Ben seharusnya marah jika mereka membahas tentang ibu kandung Ava, bagaimanapun karena mamanya lah keluarga mereka berantakan.
Ia terdiam sejenak. Lalu tersenyum.
"Bagus. Akhirnya lo berani menghadapi masalah lo satu per satu. Jangan lari lagi ya, hadapi!" Ben mengacak rambut adiknya.
Ava ikut tersenyum lega. Hanya Ben yang mengertinya. Ia merasa dapat bercerita tentang apa saja ke kakaknya itu. Akhirnya ia pun memutuskan untuk memberitahunya tentang kecurigaan Gerry yang selama ini mengganjal di hatinya.
"Ben, Gerry bilang... Ada yang mau nyakitin gue. But... why?" tanya Ava sambil meminum Sprite-nya. Kini ia sudah tidak konsen lagi dengan latihan soal di depannya.
Ben beralih dari laptopnya lagi dan melirik Ava dengan sarkastik seperti berkata 'Really??? You really don't know why?'
"This is why... Gue bilang lo harus pulang, di rumah ada security, ada bodyguard yang benar-benar bisa jagain lo dari dekat. You have no idea berapa orang yang mau nyulik atau nyakitin gue karena gue dianggap penerus Papa," kata Ben tampak sedikit kesal. Ia sudah kembali mengetik di laptopnya.
"But Ben... you are."
"Huh?"
"I mean, lo kan memang penerus Papa, kenapa lo masih bilang 'dianggap'? Dan juga, lo emang disiapin buat nerusin semua ini dari kecil. Ya iyalah banyak yang ngincer lo."
Ben terdiam dan matanya menerawang ke depan.
"You'll never know," ujar Ben sambil mengangkat pundaknya. "Siapa tahu gue maunya jadi rocker?" lanjutnya sambil menarik sudut bibirnya, tersenyum jahil.
Ava melotot.
"Sejak kapan lo belajar daddy jokes kayak gitu?" Ava melempar permen yang ada di meja kakaknya.
Ben menghindari lemparan permen adiknya sambil tertawa.
"Emangnya lo doang yang pengen terkenal?"
Kini giliran Ava yang menatapnya sambil mengangkat sebelah alisnya.
"Nggak usah sok down to earth. Gue tahu rock bukan aliran lo."
Ben tertawa sambil kembali menatap laptopnya.
HP Ava bergetar. LINE dari Bima.
Bima: Ada konser Maliq&d'essentials habisnya ujian.
Tera: I know. Udah abis juga tiketnya.
Bima: Oh itu serahkan sama Babang Bima. Tapi bisa kan?
Ava memutar bola matanya. Kenapa semua orang tiba-tiba pengen melucu padahal nggak lucu?
Tanpa membalasnya, Ava kembali ke rumus aritmatika yang tadi baru diajarkan oleh Ben.
Ava dan Ellen sudah mencari tiket konser yang rencananya akan digelar di pentas seni salah satu sekolah di Bandung. Tidak cuma Maliq&d'essentials, tapi juga ada band sekolah kami yang akan manggung di sana. Sayang mereka kehabisan tiket, katanya tiket itu sold out hanya dalam beberapa hari dan mereka baru tahu tentang acara tersebut setelah semua tiket habis.
Ketika melirik Ben, Ava jadi teringat ingin menanyakan tentang alasan mengapa Papa Bima dipecat.
"Ben, gue denger arsitek kita ganti ya?"
"Hah? Denger dari mana?"
"Nggak sengaja aja ada bokapnya temen gue ternyata orang kantor," jawab Ava setengah menutupi bahwa sebenarnya orang yang dimaksudnya adalah papa Bima.
"Tumbenan aja lo tanya tentang orang kantor."
Waduh.
"Nggak juga, sekilas aja gue denger dia cerita kalau dulu kerja di tempat kita. But ya nevermind, nggak terlalu penting."
"Yang penting itu... Gimana caranya lo bisa lulus kalau soal satu gini aja lo kerjainnya setengah jam?!" sindir Ben sambil geleng-geleng.
Ava mengeluarkan raungan kesal. Dia lebih baik disuruh nyanyi 2 jam non-stop daripada mengerjakan satu soal ini.
"You know, ada beberapa saudara kita yang mengincar perusahaan Papa," cerita Ben tiba-tiba, masih sambil mengetik. "Sebelum gue masuk perusahaan, Om Tara, sepupu Papa, yang jadi Vice President di perusahaan. Setelah gue join, banyak mata-mata Om Tara yang mau jatuhin gue, terpaksa banget gue harus menata lagi susunan karyawan di kantor. Well, mungkin arsitek itu salah satunya," lanjutnya lalu menatap Ava sendu.
Ava tidak tahu harus berkata apa. Tanpa ia ketahui, kakaknya memiliki begitu banyak beban sebagai penerus Harianto Group. Jika dipikir-pikir lagi, Ben bahkan tidak pernah punya teman selain Ronny, mereka juga tidak pernah tampak hang out tanpa kehadiran Ava.
Masa muda Ben hanya dipenuhi dengan belajar, kelas tambahan, dan juga meeting. Jika dibandingkan dengan dirinya yang masih bisa bernyanyi meski diasingkan keluarga, Ava merasa Ben lebih menderita dan sesak napas berada di keluarga inti ini.
Ava menatap Ben. Ingin sekali ia memeluk kakaknya namun ia tahu Ben tidak suka dikasihani, sama seperti dirinya. Entah kesalahan seperti apa yang mereka lakukan di kehidupan sebelumnya, sehingga takdir mengacaukan kehidupan muda mereka seperti ini.
***
KAMU SEDANG MEMBACA
Lavatera [completed]
Teen FictionKehidupan Lavatera tidak pernah sama dengan remaja lainnya. Meski ia cantik luar biasa, emosi dan karakternya yang kompleks tidak pernah cocok untuk berteman, menjadi pemimpin grup, ataupun menjadi pacar seseorang. Tekadnya untuk hidup sendiri seum...
![Lavatera [completed]](https://img.wattpad.com/cover/124119485-64-k632995.jpg)