Ava membuang napas untuk kesekian kalinya. Pikirannya sudah terlalu kacau dan hatinya terus-terusan merasakan nyeri yang menjalar hingga membuatnya sesak, seakan menyakitinya tanpa ampun.
Ingin rasanya ia menyelesaikan semuanya dalam satu tangisan, namun air mata itu pun tak kunjung muncul, membuat kepalanya ikut sakit dan pikirannya linglung.
What can she do? Kini Ava merasakan patah hati karena Ronny... lagi, sekian kalinya. Ia pikir karena sudah terbiasa disakiti seperti ini, ia akan merasa terbiasa, namun ternyata tidak. Rasa sakitnya sama seperti pertama kali ia melihat Ronny mencium cewek bule di sebuah club di Edinburgh, atau saat Ronny membawa supermodel Indonesia ke pernikahan salah satu teman kuliahnya dan Ben.
Sampai kapan cinta pertama tak berbalasnya ini akan berlangsung? Sudah cukup berkali-kali ia dipermainkan oleh Ronny seperti ini. Terkadang saat ia ingin move on dan berkenalan dengan cowok lain, Ronny menariknya kembali ke gravitasinya.
"Dasar egois!" maki Ava tanpa sadar.
Lalu sebuah gitar tiba-tiba diberikan ke hadapannya. Saat menoleh, Bima menggerak-gerakkan gitar itu di depan wajah Ava.
"Nih, biar gua nggak dikatain egois.." ujar Bima.
"Bukan..." Ava tidak melanjutkan kalimatnya, malas untuk harus menjelaskan kepada orang yang tidak ia kenal baik.
Bima kembali menggerak-gerakkan tangannya yang memegang gitar, meminta tanggapan Ava.
Ava menerima gitarnya, lalu dengan refleks memetik string gitar membawakan lagu Kahitna berjudul Mantan Terindah versi akustiknya sendiri.
"Mau di kata kan apa lagi.. Kita tak akan pernah satu..." Ava bernyanyi.
Ava masih tidak mengerti apa yang membuatnya dan Ronny tidak bisa bersatu. Perbedaan umur? Mereka hanya berjarak 5 tahun. Apa karena ia sahabat kakaknya? Tapi Ben tidak pernah terlihat keberatan.
Well, Ava tahu Ben pasti akan banyak mencampuri urusan mereka jika ia dan Ronny pacaran. Yah.. mungkin juga akan menghajar Ronny jika Ronny memutuskannya, dan persahabatan mereka akan tidak lagi terasa sama. But still, tidak bisakah mereka mencobanya sekali saja? And see if it actually works? For God sake, Ava bukan memintanya untuk cepat-cepat menikah. Bukan pacaran yang terlalu serius atau apa, hanya kebersamaan yang bisa membuat mereka sama-sama bahagia: Bergandengan tangan saat jalan berdua, saling bercerita tentang keseharian atau saling tukar link 9gag yang menurut mereka lucu, merasakan ciuman pertama... Sesimpel itu yang diinginkan Ava.
Ava menggeleng-gelengkan kepala.
Apa yang Ava suka dari Ronny? Hmm... He's a hard worker indeed, dia bukan dari keluarga yang tidak punya, juga bukan yang terlalu kaya, namun dia pintar, pekerja keras dan menjadi tulang punggung keluarganya. Ava merasa aman dan nyaman jika ada Ronny di sampingnya. Berjalan di trotoar tidak lagi menyeramkan karena ia selalu berada di sisi jalan untuk melindunginya. Ronny juga sering menjadi bodyguard pribadi Ava saat fans The Females menyerbunya. Ronny lucu, selalu membuatnya tertawa dengan semua lelucon garingnya. Ronny pun selalu membela Ava saat mereka adu argumen dengan Ben, meski jika ternyata Ava yang salah, Ronny selalu menyambungkannya dengan hal yang konyol sehingga argumen Ava terdengar cukup masuk akal.
Terkadang Ava berpikir bahwa Ronny juga merasakan hal yang sama, mungkin ini hanya bukan saatnya untuk mereka berdua. Ava hanya perlu menunggu hingga saat itu tiba.
"Yang kau t'lah buat, sungguhlah indah... Buat diriku..."
Ava terdiam sejenak.
"Susah lupa..." Ava mengakhiri lagunya. Lagu dari band favorit Ben ini selalu sukses membuat hati Ava tercabik-cabik.
Satu tetes. Dua tetes. Hingga akhirnya tetesan-tetesan air mata itu terus keluar dari kedua kelopak matanya. Tanpa sadar, Ava sudah menangis sesegukan hingga dadanya sudah tidak dapat menampung sakit hatinya lagi.
Sampai kapan aku harus menunggu? Apa ini cuma halusinasiku saja, berpikir bahwa dia merasakan hal yang sama? Tapi tatapan itu... Senyum itu... Berpuluh-puluh rangkai bunga... Kenapa dia memperlakukanku seperti itu jika pada akhirnya dia hanya akan menggantungku seperti ini?
Bima duduk mendekati Ava, jaketnya disampirkan ke kepala Ava hingga bagian depannya menutupi wajah Ava, dengan begitu Ava tak perlu merasa malu untuk menangis di sampingnya.
This is my last cry for you, Ronny. I have to end this hopeless crush. Goodbye, my one sided love.
***
KAMU SEDANG MEMBACA
Lavatera [completed]
JugendliteraturKehidupan Lavatera tidak pernah sama dengan remaja lainnya. Meski ia cantik luar biasa, emosi dan karakternya yang kompleks tidak pernah cocok untuk berteman, menjadi pemimpin grup, ataupun menjadi pacar seseorang. Tekadnya untuk hidup sendiri seum...
![Lavatera [completed]](https://img.wattpad.com/cover/124119485-64-k632995.jpg)