"Hai, Ger!" sapa Sinta ketika Gerry membuka pintu rumahnya. Gerry tersenyum lemah pada Sinta, namun senyumnya lenyap saat melihat Ava yang ada di belakangnya.
"Ger, coba kamu beli obat..." Om Darius terhenti ketika melihat tamu yang ada di depan teras. "Eh Ava! Masuk masuk!" Papa Gerry mempersilahkan.
"Kak, Mama minta..." seorang cowok berkacamata langsung terdiam begitu melihat Ava dan Sinta. Gelas yang ada di tangannya terlepas namun Gerry sempat menangkapnya sebelum jatuh ke lantai.
"Bani, ati-ati dong!" hardik Gerry.
Namun Bani tetap terdiam melongo menatap Ava yang saat itu sedang tidak menggunakan kacamatanya.
"Ava belum kenal sama adiknya Gerry ya? Ini Bani, dia beda 2 tahun sama Gerry.." Om Darius memperkenalkan.
"Hallo..." Ava belum sempat memperkenalkan diri, namun Bani langsung berlari kembali ke dalam kamarnya.
Gerry tersenyum tipis.
"Dia agak pemalu. Maaf ya, Lavatera. Ini... teman kamu?" tanya Om Darius.
"Iya Om, yang bantu saya make up setiap hari, Sinta," Ava memperkenalkan. Sinta mengangguk sopan.
"Kamu pasti capek ya setiap hari harus kayak gitu. Kenapa nggak jadi diri kamu sendiri aja, Va?" tanya Om Darius. Gerry melirik Ava ingin melihat tanggapannya.
"Hmm... Belum saatnya mungkin, Om," jawab Ava. "Tante Bertha gimana keadaannya, Om? Sakit apa?" tanya Ava mengalihkan pembicaraan.
"Biasa tekanan darahnya turun, kecapekan.. Tadi pingsan di ruang keluarga makanya jadi agak heboh. Permisi Ava, Om harus balik ke kantor lagi. Tante baru istirahat nih, kalian ikut Gerry aja dulu beli obat, nanti pulang dari beli obat baru sekalian jenguk, gimana?" tawar Om Darius.
"Saya juga mau langsung pamit, Om. Saya ada janji sama klien yang lain. Va, Ger, gue pamit dulu ya. Semoga tante Bertha cepet sembuh," pamit Sinta.
Ava melongo. Berarti... tinggal dia dan Gerry?
***
Sudah setengah jam di mobil bersama, Ava dan Gerry masih tidak mengucapkan sepatah katapun. Anehnya, sedari tadi Gerry pun tidak berusaha menyalakan musik atau radio, membuat suasana di dalam mobil semakin canggung.
"Lo... nggak apa-apa?" tanya Gerry akhirnya, masih memperhatikan jalan di depannya.
Gerimis yang cukup deras telah membuat mobil-mobil semakin melambatkan lajunya. Kemacetan ibukota saat hujan sudah menjadi salah satu tradisi yang hampir tidak dapat dihindari.
Ava hanya mengangguk menjawab pertanyaan Gerry. Namun saat jari Gerry bergerak menyentuh pipinya yang masih perih, Ava terkejut, ia menghindar sambil meringis kesakitan. Tamparan Sarah tadi rupanya masih terasa panas di pipinya.
Gerry terdiam sambil kembali menggenggam setirnya dengan erat.
"Jadi bener kata orang-orang Sarah tadi nampar lo? Gue nggak habis pikir, kenapa lo berubah sih? Lo bukan orang yang suka ikut campur masalah orang, tapi tiba-tiba aja belain Rea kayak gitu. Lo tau kan kesalahan Rea?" tanya Gerry, jengkel.
"Gue heran ya sama semua orang, nggak ada yang percaya sama gue. Gue lihat sendiri Stella bilang gitu sama Rea! Ini bukan cuma kesalahan Rea, tapi memang kesalahan satu kelompok, Ger! Tapi mereka semua nyalahin Rea kayak itu salah dia seorang!" Ava tak kalah jengkel.
"Bukan nggak percaya. Gue diminta keluarga lo buat jagain lo di sekolah. Kalo lo yang cari masalah, gue harus gimana?" tanya Gerry, merendahkan nadanya agar Ava tidak ikut lepas kontrol.
KAMU SEDANG MEMBACA
Lavatera [completed]
Fiksi RemajaKehidupan Lavatera tidak pernah sama dengan remaja lainnya. Meski ia cantik luar biasa, emosi dan karakternya yang kompleks tidak pernah cocok untuk berteman, menjadi pemimpin grup, ataupun menjadi pacar seseorang. Tekadnya untuk hidup sendiri seum...
![Lavatera [completed]](https://img.wattpad.com/cover/124119485-64-k632995.jpg)