Ava menghentikan langkahnya. Ia berdoa Nina yang sedang berjalan ke arahnya itu tidak melihatnya. Ava bergerak canggung, antara ingin berbalik atau meneruskan langkahnya. Sinta yang melihatnya jadi bingung sendiri.
"Kenapa sih lo?" tanya Sinta. Ava memejamkan mata sejenak, berdoa agar Nina tidak mendengar Sinta yang ikut senewen dengan sikap Ava.
"Tera?"
Ava makin memejamkan matanya. It's too late. Akhirnya ia ketahuan ada di sini, sedang dalam perjalanan untuk mengunjungi Gerry.
Apa yang harus ia katakan pada Nina?
Namun akhirnya dia memberanikan diri mengangkat wajahnya dan menatap Nina. Ava agak heran ketika melihat mata cantik Nina terlihat sembab.
"Eh? Nina?" Ava mengeluarkan akting cool-nya.
Sinta sepertinya menangkap situasi saat melihat seragam Nina yang sama dengan yang dipakai Ava.
"Lo..." Nina memiringkan kepalanya.
"Gue mau jenguk temennya kakak gue. Lo ngapain?" Ava memotong pertanyaan Nina, seolah ingin semua rutinitas menyapa-saat-di-luar-sekolah ini segera berakhir.
"Gue jenguk cowok gue," jawab Nina.
Bagaimana Ava lupa kalau Nina pacar si playboy itu? Terus maksudnya apa semalam Gerry mengingat-ingat first kiss atau bikin password HP dari tanggal ultahnya?
Sebelum dicegah, hatinya bergetar sedikit.
"Oh. Ok kalau gitu. Gue duluan ya," pamit Ava buru-buru.
"Bentar. Gue tadi mau tanya. Lo... bolos sekolah lagi?" tanya Nina lagi.
Kini baru jam 1 siang, masih 2 jam lagi untuk jam pulang SMA Beringin.
"Oh, gue..."
"Dia tadi saya jemput. Saya sudah bilang sama wali kelasnya, kalau dia perlu ikut saya. Ada urusan keluarga juga," Sinta nimbrung, berusaha menyelamatkan Ava.
Kini Nina melihat ke arah Sinta dan menyipitkan matanya.
"Dan Anda..."
"Kakak gue," potong Ava. Jarang sekali ia merasa panik seperti ini. Biasanya dia kalem dan terorganisir. Namun ia benar-benar ingin mengakhiri sesi interview singkat ini dan melanjutkan hari yang biasa.
"Halo, saya Sinta," Sinta mengenalkan diri sambil tersenyum.
Nina melotot. Ava langsung merasa ada yang salah.
O o, jangan bilang...
"Sinta... Rasinta Nindi? Wuah.. lo adiknya Sinta?" tanya Nina ke Ava takjub. "Saya subscribe Kakak di Youtube, saya suka lihat makeup tutorial Kakak. Nama saya Nina, teman satu sekolah Tera," ujar Nina sambil menjabat tangan Sinta, tersenyum dengan mata sembab itu.
Sinta yang tampak bingung karena ternyata ada juga yang melihat Youtube-nya hanya tersenyum canggung.
"Gue balik sekolah dulu ya Ter, ada yang perlu diurus. Daah.." pamit Nina.
Tadi itu... apa? pikir Ava. Nina yang dari dulu tampak tidak suka kepadanya, kini bersikap layaknya teman sekolah biasa.
Apapun itu, kini Ava sudah merasa tidak ingin mengunjungi Gerry. Ia merasa ini semua salah. Kejadian semalam juga salah. Ia tahu mereka ditunangkan oleh orang tua mereka, tapi itu paksaan. Bukan keinginan Gerry sendiri. Yang Gerry inginkan adalah Nina, pacar sah yang sudah diketahui oleh publik.
Ava berhenti melangkah.
"Apa lagiii?" tanya Sinta yang sudah jauh di depan Ava, jengkel.
"Kayaknya gue harus balik apartemen, Sin. Ada tugas yang harus gue selesein," alasan Ava.
KAMU SEDANG MEMBACA
Lavatera [completed]
Teen FictionKehidupan Lavatera tidak pernah sama dengan remaja lainnya. Meski ia cantik luar biasa, emosi dan karakternya yang kompleks tidak pernah cocok untuk berteman, menjadi pemimpin grup, ataupun menjadi pacar seseorang. Tekadnya untuk hidup sendiri seum...
![Lavatera [completed]](https://img.wattpad.com/cover/124119485-64-k632995.jpg)