14 - Crush

277 28 6
                                        

Tangis Tera belum juga mereda. Bima tidak tahu apa yang harus ia lakukan jika ada cewek menangis seperti kesakitan kayak gini. Tangannya sudah diangkatnya dan kini menggantung di udara. Haruskah dia memeluknya? Ah, bisa-bisa ditonyor orangnya. Bima meletakkan kembali tangannya. Tapi lagi-lagi Bima merasa ingin menyentuhnya dan menenangkannya, sudah 10 menit berlalu dan bahu Tera yang ditutup jaketnya masih naik turun, menahan suara isak tangis yang begitu mengilukan di telinga Bima. Apa dia harus menepuk-nepuk bahunya? Drama Korea banget ya kayaknya?

Trus gimana doooonggg?? pikir Bima, frustasi.

Karena bingung harus bereaksi seperti apa, akhirnya Bima hanya duduk terdiam di sebelah Tera, karena tangis Tera pun telah tampak mereda.

Ia berpikir, hal apa yang dapat membuat orang sedingin Tera bisa menangis seperti ini? Apa anjingnya hilang? Tapi sepertinya Tera bukan orang yang memelihara binatang, apalagi dia tinggal di apartemen yang tidak membolehkan penghuninya untuk memelihara hewan.

Apa ada keluarganya yang meninggal? tebak Bima.

"Ter..."
Baru saja Bima ingin bertanya apakah keluarganya dalam keadaan baik-baik saja, kepala Tera pelan-pelan jatuh ke bahunya. Jaket yang menutupi wajahnya turun ke bawah, mengekspos wajahnya yang sembab, meski kacamata masih bertengger di hidungnya.

Tera tampak tertidur dengan pulas. Ya, tentu saja menangis seperti itu akan menguras energinya. Apa jangan-jangan dia menahan tangisannya dari semalam? Dari lingkaran hitam di bawah kaca matanya, sepertinya ia tidak tidur semalaman...

Deg. Hati Bima berdetak secara tidak wajar lagi saat menatap wajah Tera. Ia mengalihkan pandangannya ke arah yang berlawanan. Namun tak lama, lagi-lagi Bima menoleh ke wajah Tera yang tertutup rambut.

Pelan-pelan tangan sebelah kiri Bima memindahkan rambut yang masuk dalam kacamata Tera. Bima tersenyum.

Jadi ini rasanya ngeliat cewek yang disukai, pikir Bima. Ia sering mendengar dari teman-temannya bahwa jika menemukan perempuan yang kita sukai, meski ia sedang tidur, sakit, atau tidak menggunakan make up, hati kita akan bergetar dengan cara yang sama.

Lalu ia melihat gitar yang masih dipegang Tera, dan mengingat lagi suara paling merdu yang baru saja didengarnya secara langsung.

This girl can sing! Dan mendengar bagaimana ia bernyanyi tadi, suaranya sudah seperti seorang penyanyi yang terlatih. Ada sebuah ciri khas dari suaranya yang pernah ia dengar di suatu tempat. Tapi di mana yah?

Dan bagaimana ia tadi menyanyikan lagu patah hati itu...

Eh eh... Bentar deh... Tera nangis setelah nyanyi lagu Mantan Terindah itu... Jangan-jangan...

Apa Tera baru putus dari pacarnya?

***

Ellen: Udah belom?
Bima: Sejam lagi ya, dia kurang tidur kayaknya. Pules bener..
Ellen: 🙄🙄
Bima: Ga kasian lo sama temen lo? Udah kayak linglung gitu mukanya daritadi.
Ellen: Kenapa yah dia? Baru putus ato gimana dah?
Bima: Sstt! Jangan gosip ah!
Ellen: Tadi ada sih cowok ganteeeeng banget dateng ke apartemen, tapi katanya itu sepupunya sih.
Bima: Ya berarti memang sepupunya. Enggak usah gosip!

Ting tong!

Seketika Tera terkejut dan langsung duduk tegak, terbangun dari tidurnya. Jaket Bima yang semula ada di atas kepalanya terseret turun ke karpet, membuat rambutnya makin berantakan. Matanya yang masih berat kini membuka dan menutup dengan perlahan.

Lalu ia menoleh ke arah Bima. Matanya sedikit membesar lalu menyentuh kacamata, rambut, dan pipinya. Bima memiringkan kepalanya.

She's so cute, pikir Bima.

Ting tong! Bel apartemennya kembali berbunyi.

Hadeeehhh siapa sihhhh? Ellen dah dibilangin jangan balik dulu juga! pikir Bima lagi.

Ketika mencoba berdiri membukakan pintu, kaki Bima terdiam kaku karena kesemutan. Lalu sudut matanya menangkap tatapan Tera yang sedang memperhatikannya. Bukan, jika tidak ada kacamata yang menghalangi, rasanya sekarang ia sedang melotot ke arah Bima.

"Kesemutan ya?" tanya Tera. Bima cuma meringis. "Salah sendiri duduk nggak bergerak dari sejam yang lalu!" sindirnya.

Lah? Kenapa dia yang marah-marah?

Lama-lama Bima tersenyum sendiri, kini dengan desisan tawa kecil. Sepertinya kini Bima merasa sedikit mengenal Tera. Ia merasa Tera cenderung akan mengatakan sesuatu yang menyakitkan untuk membuat orang lain menjauhinya, apalagi saat ia merasa bersalah atau ketika orang lain berbuat baik padanya. Seperti saat ini. Tidak disangka sifat lembut itu dibalut dengan sikap begitu dingin khas Tera, sehingga membuatnya tampak tegar meski Bima yakin, dalam hatinya, Tera sedang merongrong meminta bantuan.

Tera akhirnya berdiri dan membuka pintu apartemennya.

Bima bertanya-tanya, dengan sifat seperti ini, apakah orang tuanya sadar bahwa terkadang Tera bersikap kebalikan dengan hatinya? Jujurnya, ia merasa sedikit iba. Mengapa ia mendorong semua orang untuk menjauhinya? Apa dia pernah merasa kecewa terhadap orang terdekatnya? Begitu banyak pertanyaan yang ingin ia tanyakan.

Pelan-pelan, Bim... Take it slow... Bima mengingatkan dirinya sendiri.

Memasuki dunia milik Tera terasa begitu menantang dan tidak membosankan bagi Bima. Gadis ini memiliki sisi misterius yang ingin ia ungkap lapis demi lapis.

Dan, ia ingin mendengar suara itu lebih lama lagi. Suara paling indah yang pernah ia dengar secara langsung. Suara yang membuatnya jatuh cinta pada sosok misterius ini.

Ellen: Udah beloooom? Belet pipis nihhh!
Bima: Iya balik aja, keganggu nih ama kedatangan duo weirdo.

Bima melirik si kembar Leon dan Lenny yang baru datang, sambil mengetik di ponselnya, bertukar pesan LINE dengan Ellen yang masih di Supermarket.

Ellen: Kayak situ normal aja???

***

Lavatera [completed]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang