Sinta menatap dingin pada pria yang kini tersenyum di balik topinya. Mereka kini sedang di sebuah lounge eksklusif di pinggiran Jakarta yang cukup sepi di hari kerja. Beberapa pria lainnya tampak bersantai di bar stool menghadap ke meja bartender, membelakanginya. Hanya ada satu meja di belakang restoran yang terisi oleh pasangan om-om dan perempuan yang bahkan terlalu muda untuk masuk ke lounge seperti ini. Mungkin mereka rekan kerja, atau teman, bisa juga partner. Entahlah, Sinta tak ingin menilai, karena mungkin seperti itulah orang-orang menilainya dulu ketika bersama pria yang sudah memiliki kekasih ini.
Tentu saja Leo mengajak ke tempat yang terpencil dan sepi agar tidak terlihat oleh Maura yang basically memiliki koneksi di semua tempat nongkrong di Jakarta. Sinta merasa bodoh dulu sempat percaya bahwa hal itu karena Leo tidak ingin dilihat oleh paparazzi.
Memangnya paparazzi bakal berhenti ngikutin kalau Leo ada di Tangerang? Kini Sinta menyadarinya.
"Thanks ya Sin, udah mau datang..."
"Ini terakhir kalinya gue peringatin lo ya, Le. Jangan hubungin gue lagi," sela Sinta.
"Gue..."
"Jangan pikir dengan gue datang ke sini berarti gue masih mau jadi tempat sampah lo lagi ya. Oh, nggak, Leo, gue nggak sebego itu. Gue di sini karena gue udah muak sama semua pesan yang lo kirim ke gue lewat semua social media atau WA dan telefon-telefon yang nggak pernah berhenti meski nggak gue angkat." Sinta mencercanya tanpa ampun. "Lo pikir karena lo selebriti lo bisa mempermainkan perasaan orang lain sesuka lo, hanya karena perasaan lo dimainin sama cewek lain?" lanjutnya. Sinta menambahkannya dengan hembusan napas sambil tertawa sinis. "Lo salah kalo lo mikir gitu tentang gue."
"Gue nggak pernah mikir..."
"Yes, you did!" Sinta mencoba menghembuskan napas lagi dengan lebih pelan dan menaruh sebagian rambut pendeknya ke belakang telinga. Ia mengatur lagi nada bicaranya. Ia tak bisa lepas kontrol dan membuat seolah ia masih ada rasa. "But anyway, bukan itu tujuan gue ke sini. Gue mau kasih lo peringatan langsung karena lo sepertinya nggak paham bahasa manusia kalau dihalang oleh media telekomunikasi yang namanya HP. So please, Leo... Berhenti ganggu gue. Tolong jangan hubungi gue, meski tentang pekerjaan sekalipun, biarkan manajer lo yang atur semua itu. Sorry gue nggak bisa jadi 'teman' lo lagi."
Wajah Leo tidak pernah terlihat lebih pucat dari ini. Tangannya dari seberang meja bermaksud ingin meraih tangan Sinta, namun tangan lain mencegahnya di tengah meja. Mereka berdua mendongak melihat pemilik lengan tersebut.
Sinta merasakan sensasi panas di jantungnya ketika melihat Ben menggenggam pergelangan tangan Leo.
"Didn't I make myself clear? Don't touch my woman," ujar Ben sambil melempar tangan Leo dengan kasar, meninggalkan bekas merah di pergelangan tangan Leo.
Sinta terdiam, entah apa yang dirasakannya sekarang. Lega karena melihat wajahnya lagi, atau marah karena sikap Ben yang berubah dengan cepat? Ia tahu ini sandiwara yang dibuat oleh Ava hanya untuk menghukum Leo, namun Ben tak perlu membuatnya menjadi berlebihan sehingga membuat sinetron ini terasa nyata. Karena sungguh, jika Ben juga memberinya harapan palsu, sangat sulit bagi Sinta untuk melewati rasa patah hati ini lagi dan menguatkan dirinya agar tidak selamanya berada di lubang hitam itu.
Sinta tetap diam dan menyerah ketika tangannya digenggam oleh Ben dan dibawa keluar dari lounge. Ia mengutuk hatinya yang masih berdebar meski otaknya memintanya untuk berhenti merasa. Namun saat mereka keluar dari lounge, Sinta menyentakkan tangannya, tetapi ternyata tangan Ben lebih kuat.
"Ben, tolong lepasin." Sinta masih berusaha memutar-mutar pergelangan tangannya agar lepas dari genggaman Ben. Namun Ben bergeming, masih menarik tangan Sinta dan memaksanya untuk mendekati mobilnya. "Apa-apaan sih?!" Sinta mulai jengkel.
Ben akhirnya melepas tangan Sinta, baru menyadari tangannya membekas merah di pergelangan Sinta.
Sinta mencium ada bau aneh dari blazer Ben. Bau alkohol.
"Kamu abis minum? Di hari kerja?" tanya Sinta heran. Baru kali ini ia melihat Ben seberantakan ini. Matanya redup dan tidak mengintimidasi seperti biasanya. Ben menatap sendu tanpa menjawab pertanyaan dari Sinta.
"Bisa nggak, kamu nemenin aku hari ini?" tanya Ben balik.
Sinta terdiam, dia menimbang-nimbang antara membantu Ben namun berisiko sakit hati atau tidak memperdulikannya dan diam-diam menyesal.
"Ke mana?"
"Ke tempat favoritku," jawab Ben sambil tersenyum lemah.
Tiba-tiba perasaan itu datang lagi. Perasaan penasaran dengan cowok yang paling susah ditebak ini sekaligus bachelor yang paling diinginkan di seantero Indonesia. Sinta merasa kesempatan ini cuma sekali, kesempatan untuk mengetahui tempat bersembunyi Ben. Dan Sinta yakin, tidak banyak wanita yang pernah melihatnya.
Sinta mengangguk pelan, seolah ia terpaksa.
"Asal aku yang nyetir."
***
KAMU SEDANG MEMBACA
Lavatera [completed]
Teen FictionKehidupan Lavatera tidak pernah sama dengan remaja lainnya. Meski ia cantik luar biasa, emosi dan karakternya yang kompleks tidak pernah cocok untuk berteman, menjadi pemimpin grup, ataupun menjadi pacar seseorang. Tekadnya untuk hidup sendiri seum...
![Lavatera [completed]](https://img.wattpad.com/cover/124119485-64-k632995.jpg)