Setelah hari perayaan ulang tahun Ava yang mengungkapkan beberapa fakta mengejutkan bagi semua orang yang menghadirinya, Ava dan Ben menjadi sorotan media di beberapa hari ini. Keputusan mereka yang dianggap impulsif membawa kontroversi di tengah-tengah masyarakat. Ada yang mendukung karena merasa perusahaan dan keluarga mereka tidak berhak untuk memutuskan bagaimana cara mereka menjalani kehidupan di masa depan; namun ada juga yang merasa bahwa mereka terlalu egois karena tidak mempedulikan nasib perusahaan yang masih terombang-ambing karena lowongnya posisi pemimpin di Harianto Group.
"Setidaknya dengan pengumuman gue kemarin, Om Tara tidak akan berani memberitahu semua orang bahwa gue anaknya," ujar Ben ketika ia sedang mempersiapkan Rapat Pemegang Saham yang akan berlangsung sebentar lagi.
Ava melirik kakaknya dan tersenyum sinis.
"Apa itu tujuan utama pengumuman kemarin? Bukan karena lo deeply in love with Sinta?" goda Ava yang membuat wajah kakaknya memerah.
Ben berdeham kecil untuk menggantikan rasa malunya. Ava menggeleng pelan sambil tertawa. Baru kemarin ia melihat Ben grogi dan tidak percaya diri saat berhadapan dengan Sinta. Bahkan ia membuang semua wibawanya dan memohon untuk diterima Sinta di depan publik.
"Ava, kita harus konsen sama rapat kali ini. Mereka bisa membawa semua hasil kerja Papa kepada orang yang salah," Ben kembali mengingatkan Ava terhadap tujuan mereka hadir di rapat kali ini.
"Lo udah visit pemegang saham lainnya?" tanya Ava kembali serius.
Ben mengangguk. "Tapi nggak banyak yang benar-benar mau membantu kita. Mereka pikir, Papa sudah sakit parah, jadi karena belum ada orang dewasa yang cukup stabil untuk ambil alih perusahaan, mereka masih berpikir untuk memberikannya ke Om Tara."
"Kenapa mereka nggak pilih Om Darius?" tanya Ava. Menurutnya, memberikan kepercayaan kepada Papa Gerry yang sudah lama mengenal Papanya, lebih baik daripada ke Tara.
"Nggak cukup kuat dukungan kalau nggak ada pertunangan kalian," jawab Ben. "Mungkin Om Tara memang menyebalkan, tapi yang dikatakannya benar, Va. Tanpa kepastian lo sama Gerry, atau gue sama Astrid, we're screwed."
"Ugghhh... These people made me sick!" keluh Ava.
"Tell me about it."
"Mungkin kita bisa ambil kasus Om Tara yang mau nyelakain gue waktu di Singapore?" usul Ava.
"Not strong enough."
Lalu Ava teringat bagaimana cerita Bowo--Papa Bima--yang pernah menceritakan bagaimana Tara dulu memfitnahnya dan memiliki banyak kasus penggelapan dana yang ditutupinya.
"Oh, andaikan gue punya bukti kasus penggelapan dananya..." gumam Ava.
"How do you know that?" tanya kakaknya.
Ava mengedikkan bahunya.
"Someone told me," jawab Ava. "Papanya Bima dulu pernah kerja di sini."
Ben terdiam sambil berpikir.
"Oke, kita akan bagi tugas sebelum rapat mulai. Kita cuma punya 3 jam dari sekarang. Lo cari tahu ke Papa dari teman lo itu tentang kasus Om Tara. Gue bakal meyakinkan lagi para pemegang saham buat vote untuk kita, I think I can dig some of their cases and thread them..."
"Ben! Kalau kita mau melakukan ini, kita harus melakukannya dengan benar! Kalau kita mengancam mereka, apa bedanya antara kita dan Om Tara?" tanya Ava.
"Okay, you're right. I'll just keep trying, I guess..."
"You better!" ancam Ava.
Ben tertawa dan mengacak rambut Ava.
KAMU SEDANG MEMBACA
Lavatera [completed]
Novela JuvenilKehidupan Lavatera tidak pernah sama dengan remaja lainnya. Meski ia cantik luar biasa, emosi dan karakternya yang kompleks tidak pernah cocok untuk berteman, menjadi pemimpin grup, ataupun menjadi pacar seseorang. Tekadnya untuk hidup sendiri seum...
![Lavatera [completed]](https://img.wattpad.com/cover/124119485-64-k632995.jpg)