"Lo bener-bener udah jadi berandal ya di sekolah? Ini udah kedua kalinya gue bawain lo kacamata baru!" omel Sinta saat ia menjemput Ava di sekolahnya sesaat sebelum bel sekolah pulang berbunyi.
Ava yang bersembunyi di balik topi SMA-nya masuk ke dalam mobil bersama seorang cowok berambut cepak dan memiliki mata yang hitam pekat namun memikat. Sinta menatap Ava untuk mencari jawaban siapa cowok ini, namun Ava tidak memperdulikannya dan langsung mengambil kacamata dari tangan Sinta dan memakainya.
"Lo nggak perlu kali pake kacamata itu lagi," ujar cowok itu.
Sinta melotot kepada Ava, menuntut jawaban. Ia tak ingin salah panggil namanya di depan orang lain. Ia sekarang jadi siapa? Ava? Tera?
"Kalo lo masih mau berhubungan sama gue, tolong lupain muka gue tadi dan jangan ungkit-ungkit ini lagi. Ngerti?" Ava bertanya pada cowok itu.
"Tapi kenapa? Wajah lo itu nggak seharusnya disembunyiin. Kalo satu sekolah tahu..."
"Justru itu yang nggak gue mau! Oke? Lo pernah jadi loner di sekolah ini, harusnya lo di antara yang lain, paham perasaan gue gimana," potong Ava.
"Maksud gue bukan itu. Kalo satu sekolah tahu, lo nggak akan masuk dalam list bully lagi dan lo bakal aman dari semua pendukung Stella."
Stella sapa lagi? Banyak pendukung berarti dia punya partai ato gimana sih? pikir Sinta.
Ia menemukan hal ini lebih menarik dari kolom gosip yang dibacanya tadi pagi di majalah. Dua remaja di hadapannya ini berbicara seolah ia tak ada di mobil ini. Padahal ini mobilnya!
"Gue nggak butuh aman dari bully karena penampilan gue. Gue cuma mau buktiin kalo Stella itu nggak sebaik yang mereka kira!" ujar Ava. Si cowok menggeleng pelan.
"Tera, lo nggak tahu Stella."
Tera? Ini cowok udah lihat Ava tanpa samaran dan masih manggil dia Tera?
"Lo juga nggak tahu siapa gue," ujar Ava.
What?? Nih cowok hidup di jaman mana sih? Dia nggak kenal Ava? The Ava?
Si cowok menghela napas, tampak kewalahan atas sikap keras kepala Ava.
Yeah, I feel you. Ava kadang memang bikin orang kehilangan kata-kata seperti itu.
"Oh, hallo, sorry, saya Bima." Si cowok cepak mengenalkan diri pada Sinta, seolah baru menyadari kehadirannya di mobil itu. Ia menjabat tangan Sinta.
"Sinta. Dan akhirnya kalian sadar gue di sini!" sindir Sinta.
"Stop it, just, help me to fix my make up, gue belum ambil tas di kelas," pinta Ava.
Sinta mengeluarkan alat make up dan menahan diri untuk tidak mencoret-coret muka Ava karena kesal. Ternyata like brother like sister, dua-duanya sukses membuatnya kewalahan atas sikap mereka yang semena-mena.
Sambil mengepang rambut Ava, kenangan Ben yang membelanya di depan Leo dan Maura sewaktu mereka di Singapore muncul lagi di benaknya. Dan bagaimana lembut dan sopan Ben memperlakukannya saat itu.
Setelah dari studio televisi saat itu, Sinta yang juga hanya manusia biasa dan mudah terhipnotis pesona charming Ben, seketika setuju saat diajak untuk berkeliling Singapore dengan double decker bus, naik boat di Clark Quay seperti turis, belanja gaun di Orchard dan berakhir dengan makan malam mewah di restoran Michelin star, Iggy's, yang berada di Hilton Singapore. Mereka mengobrol dan tertawa tentang apapun yang tidak melibatkan pekerjaan ataupun Ava.
Ia jadi tahu Ben diam-diam menyukai Nirvana, U2 dan Queens, meski di berbagai media ia mengatakan bahwa ia pecinta musik klasik dan opera. Sinta juga memberitahu Ben tempat persembunyiannya ketika ia sedang bertengkar dengan keluarganya: sebuah taman umum kecil di BSD yang tidak begitu ramai namun memiliki pemandangan malam yang terindah.
Itu menjadi salah satu momen terbaik dalam hidupnya.
Sinta menghela napas saat selesai mengepang rambut Ava. Ia melanjutkan lamunannya sambil memberi touch up make up pada wajah Ava.
Saat di Singapore, Sinta merasa seperti Cinderella yang tiba-tiba kembali menjadi upik labu saat ia mendengar Ava dan Gerry terjebak di studio rekaman. Dirinya dan Ben pun berpisah tanpa bertukar nomor HP ataupun ciuman perpisahan.
Just like that.
Sinta menghela napas lagi. Ia merasa konyol karena menganggap hari itu adalah kencan sungguhan dengan Ben. Ia merasa bodoh telah terbawa perasaan dengan pesona Ben yang telah mengacaukan harga dirinya.
"Lo kenapa sih? Sakit?" tanya Ava, curiga dengan wajah lesu Sinta.
"Mungkin," jawab Sinta. Sakit hati mungkin tepatnya.
"Bisa tunggu gue bentar ga buat ambil tas sama HP terus gue bisa nebeng ke apartemen?" pinta Ava.
"Ke apartemen? Lo nggak ke rumah Gerry?"
"Ngapain?"
"Mama Gerry jatuh sakit, lo nggak tau? Menurut lo gue di sini karena ditelpon sapa?" tanya Sinta gemas.
Sebelumnya, ia terkejut saat Gerry meneleponnya dengan suara panik dan memintanya segera datang ke sekolah Ava secepat mungkin dengan membawa kacamata baru karena ia harus balik ke rumah karena Mamanya jatuh sakit dan menolak untuk dibawa ke rumah sakit.
Ava terdiam, matanya yang kosong menatap ke setir mobil.
"Oh, itu kenapa dia manggil gue tadi," gumam si Bima di kursi belakang.
Tanpa berkata apa-apa, Ava dengan panik mencoba membuka dan mendorong pintu mobil Sinta yang masih terkunci.
"Woy bentar woy, sabar!" ujar Sinta sambil membuka kunci mobil yang disiksa oleh Ava. Begitu pintu mobil terbuka, Ava langsung berlari ke gerbang sekolah. Bahkan itu adalah pertama kalinya Sinta melihat Ava yang biasanya kalem dan teratur menjadi panik luar biasa.
Bima yang sedaritadi memperhatikan tingkah Ava kemudian ikut terdiam di kursi belakang. Wajahnya seperti merenungkan sesuatu dan dari tatapan matanya ia tampak seperti terluka.
Seketika Sinta mengerti. Mungkin Sinta memiliki tatapan seperti itu saat ia melihat HP nya setiap pagi. Terluka, karena Ben belum juga menghubunginya setelah "kencan" hari itu.
"Kak Sinta, Tera dan Gerry ada hubungan apa ya?" tanya Bima.
Sinta terdiam, ia belum kenal betul dengan cowok ini, jadi mungkin ia lebih baik tidak membocorkan informasi apa-apa.
"Sepertinya Tera yang paling berhak menjawabnya," jawab Sinta, bangga pada dirinya sendiri karena ia berhasil memenuhi sumpahnya saat menerima pekerjaan sebagai MUA Ava. Walaupun dalam hati ia gemas ingin berteriak 'Itu Ava leader The Females, mata lo di mana sih???? Dan Gerry tunangannya!!'
Bima tersenyum maklum saat mendengar jawaban Sinta. Wow, Sinta menangkap lesung pipi yang terlihat saat Bima tersenyum. Sinta berpikir bahwa jika dilihat-lihat, Bima memang memiliki daya tarik yang membuat orang-orang bisa merasa nyaman di dekatnya.
Tapi Ben lebih charming.
Sinta mengumpat dirinya sendiri karena berpikir tentang Ben lagi.
"Senang bertemu Kakak, aku balik dulu, Kak. Hati-hati di jalan. Salam untuk Gerry, semoga Mamanya cepat sembuh." pamit Bima sambil keluar dari mobil.
Mata Sinta mengikuti punggung Bima yang memiliki noda berpola persegi panjang melintang di seragamnya, seolah ia baru tidur di atas besi bangunan yang kotor.
***
KAMU SEDANG MEMBACA
Lavatera [completed]
Fiksi RemajaKehidupan Lavatera tidak pernah sama dengan remaja lainnya. Meski ia cantik luar biasa, emosi dan karakternya yang kompleks tidak pernah cocok untuk berteman, menjadi pemimpin grup, ataupun menjadi pacar seseorang. Tekadnya untuk hidup sendiri seum...
![Lavatera [completed]](https://img.wattpad.com/cover/124119485-64-k632995.jpg)