Ronny tidak berhenti menatap genggaman tangan Gerry dan Ava dengan sedikit jengkel. Ternyata begitu cepat Ava bisa move on darinya dan menerima pertunangan yang sudah diatur oleh kedua orang tuanya. Ia juga tidak menyangka Ava bisa menurut kepada Papanya seperti ini. Bukankah selama ini ia selalu berusaha berontak dari Papanya?
"Thanks ya udah mau ketemu hari ini, Ron," ujar Ava padanya. Ronny mencoba menatap mata Ava yang sedari dulu sudah menghantui mimpi indahnya. Kini sudah tidak ada percikan memuja di sana, atau pipi yang bersemu ketika mata mereka bertabrakan. Semua kembali di saat pertama mereka bertemu. Dingin.
Hatinya mau tak mau terasa sedikit menyengat dan sakitnya meradang ke seluruh organ tubuhnya.
"Nggak apa-apa. Kebetulan gue lagi ngurusin proyek di sini." Ronny berusaha terdengar normal meski hatinya mendidih.
"Gue mau tanya," Ava melepaskan genggamannya dan meletakkan tangannya di meja. Namun si cowok caper itu masih saja mencoba menggandeng Ava. "Ger, apa sih?" bisik Ava. Namun tak lama ia tertawa melihat mimik Gerry yang melotot padanya. Iya, tawa dengan kedua matanya yang terpejam khas Ava.
Ronny memutar bola matanya.
"Sorry sorry, Ron. Bentar.." Ava menarik Gerry ke bagian belakang cafe. Mereka tampak berdebat namun Ava lagi-lagi tersenyum padanya. Tatapan itu, senyuman itu, seharusnya untuknya!
Tak lama Ava kembali ke meja mereka. Gerry mengekor di belakang Ava namun akhirnya duduk di meja sebelah mereka, memberi ruang kepada Ava meski Ronny tahu telinganya akan dilebarkan untuk berusaha mendengar percakapan mereka.
Ronny tersenyum licik, biar saja dia mendengar semua, toh hari ini Ronny memang berniat untuk mengatakan semuanya sejujurnya. Kali ini ia ingin benar-benar meluapkan semua perasaannya kepada Ava.
"Baru jadian?" tanya Ronny, sambil meminum sedikit kopi panasnya.
"Iya," jawab Ava sambil tersenyum bahagia.
Tangan Ronny membeku. Ingin rasanya ia melempar kopi ini ke muka si bocah yang senyum-senyum mendengar jawaban Ava dari meja sebelah.
"So? Lo cuma mau pamer pacar baru atau apa?" Ronny hampir tidak dapat menyembunyikan kecemburuannya.
"Nggak. Gue mau tanya soal Ben."
Alis Ronny ditarik sebelah.
"Ben? Kenapa?"
"Lo tahu tentang penyakit nyokapnya?"
Ronny kaget. Ia tak menyangka Ava akan menanyakan hal ini.
"Lo tahu dari mana?"
"Jadi gue anggap lo tahu."
Pelan, Ronny mengangguk. "Baru aja tahunya. Pas meninggal. Ben juga baru tahu."
Ava terdiam, seperti berpikir.
"Lo... Ngerasa ada yang aneh sama Ben semenjak itu?" tanya Ava lagi.
"Dia mah udah aneh dari dulu."
"Anehnya kenapa?"
"Ya... Kadang dia ceria, kadang nggak... Kadang jadi anak teladan, kadang berontak... Tapi bukannya memang kalian begitu karena tekanan dari keluarga?"
Lalu Ronny teringat deal itu. Deal antara dirinya dengan Cynthia, yang berakhir dirinya kehilangan Ava.
"Tapi, gue perlu cerita sama lo..."
Ava menatap Ronny dengan datar, menunggu lanjutannya.
"Tentang gue sama Cynthia..."
"Gue nggak perlu..."
"Tapi ini menyangkut Ben juga."
"Maksudnya?"
"Entah kenapa, Ben dari dulu memang seakan menarik ulur ijinnya buat gue ngedeketin lo." Ronny melirik Ava untuk melihat reaksinya. Karena tidak ada reaksi, ia melanjutkan, "Inget kita dulu janjian mau ke The Wee Red Bar di Edinburgh? Ben bilang lo bakal datang untuk ngasih gue sesuatu, jadi gue nungguin lo di depan bar karena lo belum bisa masuk ke dalam. Tapi pas di sana, gue malah disuruh dia jagain temen dia yang lagi mabuk waktu itu. And you never came.."
"Gue dateng."
"Hah?"
"Iya, dateng buat ngelihat lo nyium cewek itu."
"Nggak! Itu dia lagi mabuk! Gue aja baru kenal dari Ben malam itu!"
"Hey, it's ok. Terus?"
"Terus waktu nikahan temen kuliah gue sama Ben, Reynold. Lo datang ke Edinburgh kan? Itu gue yang minta sama Ben biar gue bisa ajak lo ke nikahan Rey, dan gue diminta ngajak Vellani, biar dikenalin ke Ben. Tapi nyatanya? Dia ngebatalin sepihak karena Vellani nggak sesuai sama kriterianya. Terpaksa gue jadinya datang sama Vellani, karena gue udah ngajak dia..."
Ava terdiam, namun raut wajahnya berubah.
"Dan Cynthia... Lo tahu kan perusahaan bokap gue lagi pailit? Satu-satunya kesempatan perusahaan bokap buat survive cuma di proyek Black Bridge, salah satu proyek sama Harianto Group juga. Kira-kira dua tahun lalu, supplier bahan kita udah nggak bisa kasih bahan buat perusahaan gue, yang bisa kasih dengan kriteria bahan yang serupa dengan kuantitas yang cukup banyak dan harga yang pas, cuma dari perusahaan keluarga Cynthia..." cerita Ronny. "Dan salah satu syarat dari mereka untuk kasih supply ke perusahaan kita, cuma dengan gue bisa bareng Cynthia... But I was about to end it and fight once again for you..."
"Dan lo berharap gue mau menunggu? Dan lo pikir gue bisa mengkhianati temen baik gue demi lo?" tanya Ava bertubi-tubi.
Pertanyaan itu seakan menampar wajahnya keras. Ia tahu benar Ava bukan orang yang seperti itu. Betapa bodohnya ia menganggap Ava akan menunggunya selama ini? Namun apa lagi pilihan yang bisa dia ambil saat itu? Keluarganya membutuhkannya, sementara Ben menawarkan cara mudah...
Ah, mengapa hal ini tidak terpikir oleh dirinya sebelumnya?
"Ava, did I lose you because of my best friend played a plot on me?"
Apakah aku kehilangan Ava karena Ben menaruh skenario di kehidupan gue selama ini? pikir Ronny.
Ava menatapnya kosong.
"Nggak, lo kehilangan kesempatan lo karena lo kurang berjuang buat dia," jawab Gerry dari meja sebelah. Ia beranjak berdiri dan menarik Ava. "Dan karena dia emang ditakdirkan buat ketemu gue lagi," lanjut Gerry. "Yuk, kita pergi, Va."
Ava mendongak. Dan lagi-lagi tersenyum tulus pada Gerry. Ia mengangguk.
"Ron, makasih ya atas penjelasannya. Maaf kalau selama ini gue banyak salah sama lo..."
"Don't! Please, Ava..."
Ronny menolak mendengar kata-kata perpisahan itu. Ia benci kekalahan.
"Be good to Cynthia... Dia benar-benar sayang sama lo..."
Ronny menundukkan kepalanya. Tidak ingin mendengar ataupun melihat Ava tersenyum lagi ke arah cowok itu.
Ia tak percaya selama ini ia kehilangan kesempatannya untuk bersama Ava karena sahabat terdekatnya.
Tapi... Kenapa? Kenapa Ben mempermainkannya seperti ini?
***
KAMU SEDANG MEMBACA
Lavatera [completed]
Roman pour AdolescentsKehidupan Lavatera tidak pernah sama dengan remaja lainnya. Meski ia cantik luar biasa, emosi dan karakternya yang kompleks tidak pernah cocok untuk berteman, menjadi pemimpin grup, ataupun menjadi pacar seseorang. Tekadnya untuk hidup sendiri seum...
![Lavatera [completed]](https://img.wattpad.com/cover/124119485-64-k632995.jpg)