Berpuluh-puluh flash kamera menyorot Ava yang ada di dalam mobil. Sore itu akhirnya Ava nekat menerobos media yang berkumpul di depan rumahnya. Ia tak peduli lagi, hanya jawaban yang ingin ia cari di rumah itu, karena berpuluh kali ia menghubungi Ben namun tidak ada jawaban.
Setelah sampai di rumah, ia langsung menuju kamar Ben, nihil. Lalu ia ke ruang kerja, dan mendapati Ben sedang bersama seorang pria yang belum pernah Ava temui.
"Ava? Kenapa lo malah ke sini?" Ben menghampiri Ava.
Ava terdiam, namun pandangannya tetap ke arah pria asing itu.
"Hai Ava, sudah lama ya kita nggak ketemu? Ternyata selama ini di Kanada? Wah, Harianto benar-benar pintar menyembunyikan kamu," ujar pria itu, menyeringai dengan cara yang menyeramkan.
"Om, sebaiknya Om pergi sekarang," pinta Ben, sambil memalingkan muka.
Pria asing itu tersenyum dan melirik Ava dari atas sampai bawah sambil melewatinya.
"Ben, ingat kata-kataku tadi. Kita belum selesai," ujarnya sebelum pergi dari ruangan.
Ben menutup pintu dan terdiam sejenak sebelum menghadapi Ava.
Matanya terlihat lelah, bahkan ada lingkaran hitam di seputar matanya.
"Thank you, Sis. Untung lo tadi masuk. Kalau nggak, gue nggak bisa ngadepinnya."
"Siapa dia?" tanya Ava sambil sengaja menjaga jarak dari kakaknya.
"Om Tara, sepupu Papa."
Oh, dia yang selama ini membuat onar di perusahaan?
"Ada urusan apa sama lo?" tanya Ava lagi, masih berdiri sambil melihat-lihat deretan buku koleksi kakaknya.
"Biasa, kerjaan," jawab Ben yang kini sedang membereskan berkas-berkas di mejanya. "Kenapa tiba-tiba ke sini?"
"HP lo rusak?"
"Gue aja nggak tahu HP gue di mana. I'm stuck here. Working like hell."
"Ben,"
"Hmm?"
Ava terdiam ragu-ragu.
"Do you hate me that much?" tanya Ava akhirnya memutuskan untuk to the point.
Ben berhenti bergerak. Perlahan matanya mendongak ke arah Ava.
"Maksudnya?"
"I remember," Ava mulai mengingat-ingat kembali ingatan masa kecilnya. "I finally remember... Gue ingat gimana bencinya lo sama gue waktu kecil. Di depan Papa dan Mama lo, lo pura-pura baik sama gue, belain gue..." Ava memejamkan mata dan berusaha untuk tidak mengingat bagaimana takutnya ia saat berada sendirian di gudang itu tanpa air dan makanan. Bagaimana dia hampir memakan pasir yang ada di gudang dan berhalusinasi di sepanjang malam yang gelap.
Ava membuka mata dan melihat Ben menatapnya.
"Gue juga tahu kalau lo yang jauhin Ronny dari gue, padahal lo tahu betul kalau gue dulu suka sama dia. Lo berbuat itu bukan karena Ronny, tapi karena gue kan? Lo nggak mau gue bahagia kan?" Ava mulai menaikkan nadanya. Hatinya berdebar kencang sekali, antara marah dan tidak percaya kakaknya bisa sekejam itu.
"Kenapa, Ben?" tanya Ava, hatinya sungguh sakit. Selama ini ia mengidolakan kakaknya, ia menyayangi Ben lebih dari semua orang yang ia kenal. Tapi mengapa Ben membencinya seperti ini?
Ben menunduk dan menghela napas panjang.
Lalu muncullah wajah itu. Seringai yang menghantui mimpi-mimpi buruk Ava. Bulu kuduk Ava merinding melihat sisi ini di wajah Ben.
KAMU SEDANG MEMBACA
Lavatera [completed]
Fiksi RemajaKehidupan Lavatera tidak pernah sama dengan remaja lainnya. Meski ia cantik luar biasa, emosi dan karakternya yang kompleks tidak pernah cocok untuk berteman, menjadi pemimpin grup, ataupun menjadi pacar seseorang. Tekadnya untuk hidup sendiri seum...
![Lavatera [completed]](https://img.wattpad.com/cover/124119485-64-k632995.jpg)