Mengencani seorang minor bisa jadi sebuah lelucon sekaligus dipidana. Namun bagaimana Ronny tidak menyukai gadis ini, yang terlihat polos meski keras kepala, cantik tapi galak setengah mati seperti kakaknya. Mungkin gue harus sabar, pikir Ronny, geli dengan pikirannya saat itu. For God's sake, she's still underage!
Tiga tahun yang lalu, Lavatera mengunjungi Ben di University of Edinburgh untuk pertama kalinya. Badannya yang tinggi tidak terlihat seperti masih 14 tahun, karena itu teman-teman Ben sempat heboh dengan kehadiran Ava, apalagi saat itu berita ia baru debut bersama grup internasional The Females sedang ramai dibicarakan di Indonesia. Tentu saja teman-teman Ben yang berdarah Indonesia mulai norak dan meminta foto juga tanda tangan Ava.
"Minggir semua! Gue bogem lu macem-macemin adek gue!" ancam Ben waktu itu begitu melihat adiknya dikepung oleh teman-temannya.
"Nggak macem-macem kok, satu macem aja..." canda Ronny sambil tertawa kaku. Dia takut Ben ngamuk beneran.
Ben memang dikenal sebagai cowok galak dan berwatak keras di kampusnya. Dia jarang bisa bercanda jika menyangkut keluarganya. Dan boleh dibilang, adiknya juga 11 - 12 dengannya. Jangankan mendekati, untuk berkenalan dengan Ava sungguh sangat sulit!
"Halo, adiknya Ben ya? Dia lagi kelas tuh," sapa Ronny ketika Ava mengunjungi Ben lagi di kampus.
Ava hanya memberikan lirikannya dan kembali memainkan ponselnya.
Merasa agak malu, Ronny melihat sekeliling, ternyata ada beberapa temannya yang menahan tawa melihat Ronny yang salah tingkah. Ketidakpedulian Ava memancing harga diri Ronny sebagai pria. Merasa tertantang, ia pun tidak menyerah untuk mencoba berkenalan dengan Ava.
"Gue sahabat Ben di sini. Dia banyak cerita tentang lo lho..."
Tetap tidak ada tanggapan. Ni cewek nggak tuli kan? Atau buta? Hellooo.. I'm Ronny!
"Hmm.. Kita ke dalam aja yuk? Panas banget lho di sini," Ronny mencoba duduk di sebelah Ava.
Sambil mengerutkan dahinya yang seolah menyatakan "tolonglah-jangan-ganggu-gue", Ava mengambil earphone dari ranselnya dan sekali lagi tidak menghiraukan Ronny juga tawa teman-teman Ronny yang melihat mereka.
Diperlakukan seperti itu, Ronny semakin frustasi. Reputasinya sebagai playboy kampus merasa tertantang. Saat itu dipikirannya hanyalah bagaimana cara ia membuat Ava tertarik pada dirinya, seperti wanita lain yang mengenalnya.
Ia pun jadi selalu mengekor Ben ketika mengunjungi Ava di Kanada atau menonton konser Ava di negara-negara sekitar mereka. Namun Ava masih menganggapnya invisible.
Hingga beberapa bulan setelahnya dan melalui berpuluh-puluh pertemuan tanpa dihiraukan oleh Ava, Ronny dengan ajaib mendapatkan perhatian dari Ava ketika mereka sama-sama menunggu Ben di apartemen Ava.
Karena bosan melihat siaran televisi lokal yang leluconnya tidak bisa ia mengerti, Ronny iseng memainkan gitar di ruang keluarga. Jari-jarinya secara otomatis memainkan versi fingerstyle dari lagu "Sound of Silence" dari Simon & Garfunkel yang pernah ia tekuni saat masa SMA.
Ava pelan-pelan mendongak dari majalah yang ia baca, dan melirik bagaimana jari-jari Ronny memainkan gitar itu.
Kedua alis Ronny naik ketika melihat Ava yang untuk pertama kalinya lebih memilih untuk memperhatikannya—ralat, jarinya—daripada majalah ataupun televisi di hadapan mereka. Merasa mendapat kesempatan, ia terus memainkan gitar dan memutar otak lagu apa lagi yang harus dimainkannya, karena sejujurnya it's been years since he played guitar for the last time.
Ronny tersenyum kecil mengingat bagaimana naifnya dia dan teman-teman SMA-nya yang bermimpi untuk berkarir di dunia musik.
Bahkan mereka pun pernah mengamen di sekitar kampus-kampus atau manggung di cafe untuk mengumpulkan uang pendaftaran festival musik.
Namun di tahun terakhir SMA, Ronny mulai realistis. Musik tidak dapat membayar warisan hutang keluarganya yang menumpuk.
Begitu mengingat itu, Ronny segera mengenyahkan ingatan buruk masa lalunya.
"Wanna try?" tanya Ronny sambil menawarkan gitarnya kepada Ava yang sedari tadi antara melirik tangannya dan pura-pura membaca majalah.
Pelan-pelan, Ava meraih gitar dari tangan Ronny dan mencoba mereplika fingerstyle yang dimainkan oleh Ronny.
Ketika sampai di tengah lagu, tiba-tiba Ava tertawa grogi.
"Aduh lupa tadi gimana ya? Hahahaha"
Ronny terdiam karena terpana melihat detail tawa Ava: Matanya sedikit terpejam dan terlihat seperti bercahaya di balik bulu matanya yang lentik, lesung pipi sebelahnya terlihat menjorok ke dalam, bibirnya yang merah terbuka, mengekspos dua deret gigi rapinya. Dan tawa renyahnya... terdengar lebih merdu dari suara gitarnya.
Ronny tidak pernah melupakan tawa indah itu.
***
Ronny juga tidak akan dapat melupakan wajah sedih Ava pagi ini.
Cynthia memaksa dan mengancamnya untuk datang ke Press Conference hari ini. Agendanya tentu saja untuk meluruskan kepada publik bahwa Ronny hanya milik Cynthia dan tidak ada hubungan khusus antara ia dan Ava.
Terkadang Ronny bingung dengan pacarnya ini. Ia yakin Cynthia-lah yang menyebarkan foto palsu itu. Tapi Cynthia juga yang sewot dengan publikasi mengenai Ronny dan Ava.
"Foto ini sebenarnya direkayasa oleh pihak lain. Ada empat orang di foto tersebut. Saya, Ronny, dan dua sahabat kami. Jarak antara wajah saya dan Ronny juga diperpendek sehingga terjadi kesalahpahaman di sini," ujar Ava dengan raut wajah sedatar mungkin, Ronny tahu wajah ini adalah mode standar Ava ketika berbicara di publik. "Tidak ada hubungan spesial antara saya dengan Ronny, dan tidak akan pernah ada. Kami sudah lama berteman karena sahabat saya adalah sahabat dia sejak kuliah. Dan kini ia adalah pacar teman yang sudah saya anggap saudara perempuan saya," lanjutnya.
Ronny tersenyum pahit menanggapi kata-kata Ava yang menyakiti hatinya. Tidak akan pernah ada. Begitu mustahilnya ya cerita kita, Va?
"And we are fine. Ava still part of our The Females group, but she takes a break for a while. Ronny and I are still madly in love, for sure," Cynthia mengambil alih perhatian pers dengan menggenggam tangan Ronny.
Meski sedikit kaget dengan genggaman Cynthia yang tiba-tiba, Ronny segera memaksakan senyuman fotogeniknya kepada berpuluh-puluh kamera yang memenuhi salah satu meeting room Fairmont Hotel.
What can he do? It's part of his contract with Cynthia.
***
KAMU SEDANG MEMBACA
Lavatera [completed]
Ficção AdolescenteKehidupan Lavatera tidak pernah sama dengan remaja lainnya. Meski ia cantik luar biasa, emosi dan karakternya yang kompleks tidak pernah cocok untuk berteman, menjadi pemimpin grup, ataupun menjadi pacar seseorang. Tekadnya untuk hidup sendiri seum...
![Lavatera [completed]](https://img.wattpad.com/cover/124119485-64-k632995.jpg)