41 - I'd rather stuck with you

97 7 3
                                        

Sinta melangkah ke belakang, mencoba melihat lagi hasil karyanya di wajah cantik Ava. Akhirnya saat ini tiba, dia memiliki kesempatan untuk membuat Ava terlihat cantik dan bukan sebaliknya! Ia cukup terkejut saat sekretaris Ben menghubunginya lagi untuk menyewa jasanya mendandani Ava di perayaan ulang tahunnya. Bahkan ia tidak tahu Ava berulang tahun minggu lalu.

The Females memiliki make up artist professional (MUA) khusus dan Sinta hanyalah MUA untuk make up Ava di sekolah. Karena itu kali ini Sinta ingin berusaha sebaik-baiknya selagi mendapat kesempatan emas ini.

"Sin, berapa lama lagi? Ini udah 2 jam gila... Pegel gue," keluh Ava.

Sinta kembali mengoleskan kuas ke pipi ramping Ava.

"Bawel ih! Ini bentar lagi juga kelar... Kan mau kelihatan cantik juga di depan calon tunangan nanti, cieh... Kok lu nggak bilang-bilang sih ultah lo udah dari hari Minggu lalu?" tanya Sinta, kembali memeriksa riasan di wajah Ava.

"Emang lo mau ngadoin gue?" goda Ava.

Sinta mencibir, ia tahu Ava tidak akan terkesan dengan hadiah mahal yang bisa dibeli sendiri olehnya. Meski baru mengenal Ava selama beberapa bulan, Sinta cukup tahu bahwa ada beberapa hal yang dihargai oleh Ava lebih dari harta: musik adalah satunya. Karena itu ia memberi Ava hadiah pick gitar bertuliskan 'Lavatera' yang dibungkus di boks kecil hitam manis dan ditumpuk rapi di meja hadiah.

"Done!" Sinta puas dengan karyanya hari ini. Ia mengikuti personality Ava yang senang dengan warna-warna natural dan tidak terlalu mencolok. Ia tidak mengubah wajah Ava, namun menonjolkan kecantikan Ava dengan cara yang natural.

"Wah, Sin... Kayaknya lo udah belajar banyak?" Ava cukup puas melihat hasilnya.

Well, itu pujian kan? selidik Sinta dalam hati. Kadang ia tidak tahu mana yang pujian dan mana yang bukan jika sudah menyangkut opini dari Ava.

Memang benar kata mentor make up nya dulu, jika ingin mendandani orang, jangan memikirkan apa yang kita pikir bagus untuknya, namun kenali pribadi dan karakteristiknya, sehingga memberikan kepuasan kepada mereka.

"Va, kita udah ditung..." suara Ben terhenti ketika melihat Sinta membeku. "Hai," sapa Ben.

Sinta mengangkat tangan kanannya setengah jalan ingin balas menyapanya, namun Ben sudah mengalihkan pandangannya kembali ke Ava yang senyum-senyum melihat mereka berdua.

"What?" tanya Ben.

Ava menaikkan kedua bahunya dan keluar dari ruangan, meninggalkan Ben dan Sinta di ruang rias.

"Ng... Gue... Gue minta maaf kemarin hectic banget karena Papa sakit, jadi... Jadi belum bisa bales pesan lo..."

Sinta menutup matanya, malu karena ia terlalu khawatir saat mendengar Papa Ben sakit dan terus menghubungi ponselnya. Sudah berhari-hari ia menatap ponselnya berharap benda itu akan berdering dari nomor Ben.

"Ng... Nggak kok, nggak apa-apa, gue ngerti..." ujar Sinta terbata-bata. "Gimana Om Harianto? Udah sehat?"

"Ya belum sehat juga sih... Tapi udah baikan,"

Sinta mengepalkan tangannya, mencoba menahan untuk ingin tahu lebih banyak lagi mengenai Ben. Kadang ia merasa Ben menyukainya, namun kadang juga ia merasa Ben hanya mempermainkannya. Bagaimanapun, ia menyadari tidak ada masa depan untuk mereka berdua karena selain status mereka yang berbeda, masa depan Ben pun sudah ditentukan oleh keluarganya.

Tapi, mengapa masih terasa begitu sakit jika melihatnya seperti ini?

Ben tampak lebih kurus dari terakhir kali ia melihatnya di taman itu. Lingkaran hitam yang menaungi bawah matanya menjadi bukti bahwa ia mendedikasikan seluruh waktunya untuk bekerja.

Lavatera [completed]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang