Ava maupun Ben tidak pernah terjebak di area abu-abu yang membuat mereka susah untuk memilih. Opini mereka sungguh gamblang, antara kopi atau teh, tak pernah mencoba kopi susu ataupun thai tea. Dibesarkan tanpa keluarga yang lengkap membuat hati mereka dingin dan tanpa kompromi.
Namun akhir-akhir ini, Ava menemukan hal-hal baru di luar hitam dan putih, ia mulai belajar mengenai tenggang rasa dan bagaimana masyarakat di Indonesia berinteraksi. Hal itu juga membuatnya mulai memahami perasaan orang lain, dan mulai membuat kompromi.
Seperti hari ini, ia berkompromi dengan sifat introvert-nya ketika berpuluh-puluh mata tertuju padanya. Ava berpikir apakah ia harus membatalkan niatnya untuk membantu Rea? Memang ia sengaja ingin diasingkan bersama Rea agar tidak ada yang mendekatinya, namun ia tak berpikir bahwa ia juga harus menjadi bahan bully sekolah.
Dan sepertinya Rea melihat ketidaknyamanan ini di wajah Ava.
"Tera, gue nggak apa-apa kok sen... AAAA!"
BRUK! PRANG!
Rea tiba-tiba terjatuh dengan bunyi yang cukup keras karena ia juga menjatuhkan piring makan siangnya ke lantai kantin.
Kaki milik cowok yang tadi menjegal Rea telah kembali sembunyi di bawah meja. Cowok itu tertawa terbahak-bahak bersama teman-teman satu mejanya, lalu satu kantin ikut menertawakan Rea yang masih terdiam sambil merapikan roknya yang sedikit terungkap saat ia terjatuh. Rambutnya berantakan dan seragamnya kotor karena terkena bumbu kuning Nasi Padang yang tadi ada di piringnya.
Rea menahan tangisnya.
Oke, ternyata tidak semua orang di Indonesia mempraktekkan pelajaran moral, dan pengaruh Barat dalam mem-bully orang terbukti telah mendarat dengan sempurna di sekolah ini.
Ava yang sebelum balik ke Indonesia tentu tidak akan ikut campur dalam drama sekolah itu dan tetap menjalani harinya dengan tenang.
Tapi tidak hari ini.
Ava menggebrak keras nampannya yang penuh makanan di meja para pembuat masalah itu, hingga makanannya pun ikut berhamburan ke meja dan isi Sprite-nya yang sudah dibuka jatuh tepat ke celana milik cowok usil yang menjegal Rea tadi. Ava melirik tag namanya. Ferry.
"APA-APAAN NIH?" teriak Ferry sambil berdiri. Celananya kini membentuk pola ngompol di celana. Wajahnya merah antara marah dan malu. Muka teman-teman semejanya pun berwarna sama, namun lebih ke menahan tawa daripada marah.
Ava mengedikkan bahunya tak peduli dan hendak berlalu.
"LO PIKIR LO SAPA, HAH?!" Ferry menarik kerah Ava. Namun tangannya langsung dipelintir ke belakang bahunya oleh seseorang.
Bima.
"Mau ngapain lo pegang-pegang Tera?" bisik Bima.
"AW, Bim, bentar Bim, ADOW, lepasin dulu.. Dia yang mulai dulu... AW AW AW IYA GW SALAH, SAKIT INI LENGAN GW MAU PATAH!"
Begitu dilepaskan oleh Bima, Ferry melirik sekitarnya sambil meringis kesakitan, lalu memutar-mutar persendian lengannya.
"Ferry! Lo ngapain sih?" Stella tiba-tiba datang ingin menengahi. Di belakangnya sudah ada Nina dan Gerry.
Ava memutar bola matanya. Ia yakin akan ada drama yang akan tayang sebentar lagi dengan hadirnya drama queen di sini. Live. Mungkin seseorang harus merekamnya.
Oh, they did. Beberapa orang refleks mulai merekamnya dengan ponsel mereka.
"Ini temen lo nih, masa mau mukul cewek," ujar Bima.
KAMU SEDANG MEMBACA
Lavatera [completed]
Fiksi RemajaKehidupan Lavatera tidak pernah sama dengan remaja lainnya. Meski ia cantik luar biasa, emosi dan karakternya yang kompleks tidak pernah cocok untuk berteman, menjadi pemimpin grup, ataupun menjadi pacar seseorang. Tekadnya untuk hidup sendiri seum...
![Lavatera [completed]](https://img.wattpad.com/cover/124119485-64-k632995.jpg)