Bertha, mama Gerry, tersenyum ketika melihat anak sulungnya yang berumur 7 tahun sedang ngambek kepada sahabatnya, Ava, karena menolak diajak ke taman hiburan yang sudah disusun sedemikian rupa olehnya untuk surprise birthday party.
Daripada ke taman hiburan, Ava lebih menginginkan untuk diajak ke pantai, karena selama 6 tahun hidupnya, ia belum pernah melihat pantai secara langsung. Semua itu karena mama tirinya yang terlalu protektif terhadap Ava, atau seperti itulah kelihatannya. Tante Feo, mama tiri Ava, tidak pernah senang jika Ava memiliki teman. Sementara anaknya, Ben, tidak pernah dikunjungi oleh temannya satupun. Ava adalah satu-satunya teman yang Ben miliki.
"Ger, jangan cemberut gitu ah, nggak sopan. Yang ulang tahun kan Ava, jadi biarin dong dia milih mau diajak ke mana," nasehat Bertha.
"Tapi kan Gerry sudah merencanakan semua, teman-teman Gerry juga sudah diundang ke sana buat datang," sungut Gerry.
"Loh, yang ulang tahun Ava kenapa kamu yang undang teman-teman kamu?"
"Mama nggak tahu? Ava nggak sekolah. Dia nggak punya teman. Makanya Gerry mau bagi teman ke Ava."
Bertha tersenyum melihat anaknya. Ia sedikit terharu atas kehangatan yang sudah ditunjukkan oleh Gerry semenjak kecil.
Ava yang diam sedaritadi di bangku belakang meski mendengar semua percakapan mereka, mulai mendekati kaca jendela lebih dekat saat melihat hamparan laut yang luas dari kejauhan. Mata kecilnya kini membesar, takjub melihat laut yang seperti tanpa tepi.
"Itu... laut?" gumam Ava.
"Iya," jawab Gerry, ikut-ikut menempel pada jendela. "Bagus ya..."
Hatinya mulai melunak setelah melihat pemandangan pantai yang terlihat menyenangkan siang itu. Ia sudah melupakan bagaimana ia membatalkan pesta kejutan dan menyuruh teman-temannya yang sudah di sana untuk pulang. Kini, alih-alih ia membayangkan akan bermain pasir dan berlarian dengan Ava di sana. Gerry tersenyum. Bermain bersama Ava selalu menyejukkan hatinya.
Ava masih saja terpukau menatap pantai meski mereka sudah turun dari mobil dan mendekati ujung ombak. Rambutnya yang panjang terurai tertiup angin pantai, cantik sekali. Gerry sampai melupakan keindahan pantai dan memandang Ava yang matanya terpejam karena menikmati angin pantai.
Lalu gadis kecil itu menoleh ke Gerry dan tersenyum.
"Terima kasih," ujarnya sambil tersenyum. "Ini kado ulang tahun terbaik."
Seperti terhipnotis, Gerry mendekati Ava tanpa melepaskan pandangannya.
Ia menggandeng tangannya tanpa malu-malu lalu mencium pipi Ava lembut.
"Itu kadoku sebenarnya." Gerry tersenyum saat Ava tersenyum. Lalu mereka tertawa lepas sambil saling mengejar di pantai.
***
Gerry membuka matanya yang terasa berat. Bukan mencium bau pantai, samar-samar ia malah mencium bau antiseptik.
Di mana ini?
Matanya menangkap sosok Mamanya yang bermata sembab namun mencoba terlihat tegar di depan Gerry.
"Ma..." gumam Gerry sambil tersenyum lemah.
Pelan-pelan ia mulai mengulang kejadian terakhir sebelum ia blackout.
Ava. First kiss. Ulang tahun Ava.
Gerry mendengus, menyumpahi dirinya mengapa membuat password dari tanggal lahir Ava. Just.... Why???
Mungkin karena tanggal itu tidak pernah pergi dari benaknya. Mungkin karena first kiss itu, atau mungkin karena kepalanya memang dipenuhi oleh Ava sejak dulu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Lavatera [completed]
Teen FictionKehidupan Lavatera tidak pernah sama dengan remaja lainnya. Meski ia cantik luar biasa, emosi dan karakternya yang kompleks tidak pernah cocok untuk berteman, menjadi pemimpin grup, ataupun menjadi pacar seseorang. Tekadnya untuk hidup sendiri seum...
![Lavatera [completed]](https://img.wattpad.com/cover/124119485-64-k632995.jpg)