40 - Out of Reach

86 6 2
                                        

Gerry: Sorry nggak bisa pulang bareng, ada rapat OSIS.

Ava mengembalikan ponselnya ke saku.

TRING!

Dengan kesal, ia kembali mengeluarkan ponselnya.

Gerry: Nggak dibales?

Ava menarik bibirnya ke samping.

Me: OK.

Gerry: Gitu aja?

Me: ?

Gerry: Marah ya aku nggak bisa pulang bareng kamu?

Ava menaikkan alisnya sebelah.

Me: Enggak, jangan GR. Gue jalan dulu.

Gerry: Ke mana?

Me: Incubic

Gerry: Tuh kan! Kenapa malah ketemuan ama Bima sih?

Ava menarik napas dalam-dalam dan mengeluarkannya pelan-pelan.

Seperti inikah yang namanya pacaran? Karena belum terbiasa, terkadang Ava merasa sulit bernapas dengan tingkah Gerry. Maksudnya, ia mengerti bahwa ada perasaan berbunga-bunga saat bertemu dan chatting setiap saat dengannya, namun terkadang Gerry meminta laporan 24 jam tentang jadwal Ava, dan itu membuatnya sedikit sesak.

Me: Udah, lo rapat duluan aja! Nanti hubungin gue lagi ya...

Gerry: Miss...

Belum sempat ia melihat chat terakhir Gerry, Ava sudah memasukkan ponselnya ke saku.

"Tera!" panggil seseorang saat Ava sedang menuju ke mobil jemputannya yang diparkir agak jauh dari gerbang sekolah.

Ava menoleh ke sekelilingnya dan menemukan Nina yang sedang melambai ke arahnya sambil tersenyum, membuat Ava waspada.

Ada apa nih, senyum-senyum?

"Boleh ngobrol sebentar?" tanyanya saat jarak mereka sudah dekat.

Ava mengerutkan keningnya, heran. Biasanya Nina tidak pernah minta ijin untuk berbicara padanya. Akhirnya Ava mengangguk pelan, ingin mendengar apa yang ingin dia katakan.

"Jangan di sini yuk, banyak wartawan," Nina melihat wartawan yang masih berada di sekeliling sekolah. "Ke kafe deket sini aja, yuk!" ajaknya.

Ragu-ragu, Ava mengikuti Nina ke kafe dekat sekolah mereka. Kafe Restu memang tampak sederhana dan tidak memiliki desain yang unik seperti Incubic. Temboknya yang agak mengelupas memiliki warna cat pastel yang beragam: pink, kuning, hijau, dan biru, cukup menarik perhatian di area perumahan dekat sekolah yang didominasi warna natural. Menu dan harganya mengikuti kantong anak sekolah, sehingga biasanya kafe ini penuh dengan siswa dari SMA Beringin. Namun karena sekolah sedang school meeting, banyak siswa yang lebih memilih untuk mengunjungi kafe lainnya yang lebih jauh untuk mencari suasana baru.

Setelah sama-sama memesan, Ava memperhatikan Nina yang tiba-tiba jadi grogi. Mungkin karena sudah lama tidak melihatnya di sekolah, Nina terlihat semakin kurus, meskipun tetap terlihat cantik dengan rambutnya yang hitam legam. 

"Kenapa, Nin?" tanya Ava langsung, setelah mereka membawa minuman masing-masing ke meja kecil di pojok kafe.

"Ter, gue tahu hubungan lo sama Ava."

Deg! 

Nina tahu? How? Apa Gerry yang kasih tahu? tanya Ava dalam hati.

"Hmm?" tanya Ava ragu-ragu.

Lavatera [completed]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang