Dunia membawa restunya, restunya...
Inilah waktu untuk bilang cinta
Bolehkan aku bilang cinta
- Senja Teduh Pelita by Maliq & d'essentials
***
Meski telah menjadi seorang superstar, Ava memiliki tingkat kepercayaan diri yang rendah. Terkadang ia bertanya, apakah ia pantas untuk disayang kakaknya? Pantaskah memiliki fans loyal dari pecinta The Females? Atau pantaskah ia mendapatkan cinta yang tulus dari seseorang?
Sehingga ketika Bima menyatakan perasaannya saat itu, dan dengan kejadian membingungkan dengan Gerry sore ini, membuat Ava tidak tahu harus bereaksi apa. Ava takut akan terluka kembali jika mereka berdua tahu siapa Lavatera sebenarnya: anak dari seorang perusak rumah tangga.
Namun sekuat apapun ia menahan perasaannya, rasa itu dengan keras kepalanya tetap bertahan di sana, terombang-ambing di tengah, menunggu untuk terjun ke salah satu sisinya.
***
Suatu keajaiban kelompok Ava bisa lolos dari hukuman permainan sore itu. Setelah kejadian lengan Ava yang terluka, mereka berlima mencoba untuk berpikir strategis secara bersama-sama dan bekerjasama dengan cukup kompak. Semua itu demi waktu bebas yang bisa mereka dapatkan di malam ini.
"Yah, lo... Lumayan juga cara berpikirnya." Sarah berkata sambil melihat ke tanah dan melirik ke Ava. "Sampe ketemu di sekolah," lanjutnya.
Lalu Via melirik lengan Ava yang sedang diperban.
"Cepet sembuh," tambah Via cepat lalu berlalu dengan Sarah.
Ava dan Ellen saling melirik seolah berpikir, 'Mereka ngomong apa sih?', lalu tertawa kecil.
"Tera, Ellen, thanks for today. Gue mau siap-siap nonton Maliq & d'essentials. Kalian juga kan?" tanya Nina. Ellen mengangguk. "Sampe ketemu di sana," lanjut Nina sambil tersenyum manis sebelum akhirnya berlari... ke arah Gerry.
Meski Nina menghampirinya, Gerry hanya menatap ke arah Ava, sambil tersenyum.
Ava membuang muka karena grogi, sebagian juga karena tidak ingin melihat mereka berdua bersama. Ellen yang tidak sengaja melihat kejadian itu seketika curiga.
"Lo... kenal baik sama Kak Gerry?" tanya Ellen.
"Huh? Nggak juga..." jawab Ava. "Kenapa?"
"Hmm... Nggak apa-apa sih... Cuma lo tahu nggak dulu Bima dan Kak Gerry sahabat baik?"
"Hah? Emang iya?"
Ellen mengangguk.
"Kami bertiga dulu sama-sama satu SMP. Bima deket banget sama Kak Gerry, walaupun mereka selisih satu tingkat."
"Terus? Kenapa kok sekarang mereka kayak... beda?"
"Hmm... Kalau nggak salah tahun lalu, Kak Gerry pacaran sama sahabat Bima, Velicia. Emang sih Veli yang katanya ngejar-ngejar Kak Gerry. Kayaknya mereka jadian terpaksa atau gimana, akhirnya Kak Gerry kayak bikin Veli mutusin dia dan akhirnya Veli sampai pindah ke luar negeri gara-gara dibuli sama fansnya Kak Gerry," cerita Ellen. "Yah gitu deh. Denger-denger sih Kak Gerry kayak terlalu baik sama cewek sampe nggak ada bedanya sama temen-temen ceweknya yang lain. Jadi Veli dibilang ke-GR-an sama fans-fansnya Kak Gerry, tapi herannya Kak Gerry juga nggak belain Veli. Itulah kenapa Bima marah sama Kak Gerry."
Ava mengepalkan tangannya, menahan sakit yang tiba-tiba dari tusukan kecil di nadinya. Tapi, apakah benar apa yang dikatakan Ellen?
"Tapi yang pasti... Fans-fans Kak Gerry penasaran sama first love Kak Gerry. Katanya sih temen sejak kecilnya ya. Kayaknya Kak Gerry belum move on makanya belum bisa serius sama cewek lain," lanjut Ellen sambil mengangkat kedua bahunya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Lavatera [completed]
Dla nastolatkówKehidupan Lavatera tidak pernah sama dengan remaja lainnya. Meski ia cantik luar biasa, emosi dan karakternya yang kompleks tidak pernah cocok untuk berteman, menjadi pemimpin grup, ataupun menjadi pacar seseorang. Tekadnya untuk hidup sendiri seum...
![Lavatera [completed]](https://img.wattpad.com/cover/124119485-64-k632995.jpg)