"Takdir itu ketetapan yang tak bisa diubah. Aku tidak suka jika takdir itu memisahkan kita yang baru bertemu."
-Adira-
- - - -
Mobil Bang Azka berhenti tepat didepan sebuah cafe. Aku tidak pernah ke sini, tapi aku tau tempat ini. Aku dengar, cafe ini memang banyak pengunjungnya. Yah sebagian besar pengunjungnya anak muda. Aku tahu itu dari Diska.
"Yuk turun!"
Aku menoleh. "Nggak ah Bang, gue dimobil aja. Males gue ke dalem, paling cuma duduk nggak jelas," kataku.
"Beneran mau disini aja?"
"Iya. Tapi lo jangan lama-lama. Kasihan Bunda dirumah sendiri," ujarku.
"Iyaa."
Bang Azka pun turun dari mobil dan berjalan menuju cafe.
Sebenarnya alasanku tidak ingin masuk cafe bukan karna malas. Lebih tepatnya aku tidak ingin bertemu teman sekelasku disana. Selain tiga kampret itu, Bang Azka punya teman tongkrongan dari kelas 11 dan 10. Diantara mereka juga ada teman sekelasku. Aku malu jika aku bertemu dengan mereka.
Aku pun menyalakan tab yang ada didalam mobil. Kuputar lagu untuk mengisi keheninganku.
Jalanan tampak ramai diisi oleh kendaraan bermotor dan angkot kota yang sedang mengisi penumpang dipinggir jalan.
Seketika mataku menangkap sosok nenek tua seperti ingin menyebrang dengan ragu karna kendaraan yang melaju dengan kencang tanpa henti.
Aku pun dengan niat baik menghampiri nenek tersebut.
"Mau nyabrang ya nek?" ucapku sopan sambil tersenyum.
"Iya cu." Suara parau itu kudengar dari nenek yang sudah bekeriput di sekujur tubuhnya.
Tak tau kenapa hatiku tersentuh ketika melihat nenek itu harus berjalan dan berdiri dibawah teriknya matahari. Kulihat keringatnya mulai keluar dengan derasnya. Tapi satu yang menghangatkanku, senyum tulusnya masih bisa ia ukir di usia senja ini.
"Ayo nek, saya bantu," pintaku sambil memegang lengan nenek itu.
"Makasih ya cu," kata nenek itu tersenyum tulus.
Aku hanya tersenyum mengangguk.
Aku dan nenek itu pun melangkah dengan pelan ditepi jalan untuk menyebrang. Aku mencoba untuk mencari waktu yang pas untuk menyebrang. Tapi sedari tadi banyaknya motor selalu melaju dengan kencang membuatku susah untuk membantu nenek ini.
Tiba-tiba seseorang datang dari sebelah kanan nenek itu.
"Mau nyebrang ya nek?" Suara itu kudengar tak jauh dariku. Aku pun menoleh kearahnya. Aku terkejut ketika kudapati Reihan tengah berdiri disamping nenek itu.
"Reihan," gumamku.
Reihan menoleh kearahku. Kurasa ia terkejut dengan adanya diriku disini.
"Adira, kenapa?" tanyanya.
Aku hanya diam, aku tak tau apa yang harus ku ucapkan.
KAMU SEDANG MEMBACA
ADIRA (Completed)
Teen Fiction"Jika cinta diciptakan menjadi rumit, lalu kenapa kehidupanku jadi ikut rumit?" Adira Melinda, cewek feminim berusia 17 tahun itu mulai tau jika perasaan lebih rumit dari yang ia bayangkan ketika ia menemukan sosok cowok yang menjadi alasan kerumita...
