"Aku ingin dia saja. Bukan yang lain. Kalaupun ada yang lain, tolong buat yang sama seperti dia"
-Adira-
- - - -
Siang sekitar pukul 10 aku melangkahkan kaki menuju pintu. Namun sebuah panggilan terdengar membuatku membalikan tubuhku.
Seseorang menghampiriku dengan sedikit berlari.
"Mau kemana lo?" tanyanya.
Aku berpikir sejenak. Aku tidak bisa mengatakan bahwa aku akan pergi ke rumah sakit untuk mengantarkan Lena check up. Karna pasti Bang Azka sudah akan mengira aku akan bertemu dengan Reihan.
"Emm, mau ke rumahnya Gea. Ambil laporan magang gue," kataku. Tentu saja itu bohong.
"Beneran?"
"Iya Bang, bener kok."
"Nanti malem jangan lupa. Lo berangkat sama Rey," kata Bang Azka datar.
"Hm," dehamku. "Udah ya, gue pergi dulu."
Aku pun berjalan kembali melanjutkan langkahku keluar rumah.
Aku sudah membuat janji dengan Reihan bahwa kami akan bertemu di rumah sakit tempat Lena mengecek darahnya.
Sesampainya dirumah sakit. Aku melangkahkan kaki menelusuri koridor mencari ruangan yang sudah diberi tau oleh Reihan.
"Nah ini dia ruangannya," gumamku ketika mataku menemukan sebuah ruangan yang sedari tadi aku cari.
Hendak saja aku ingin membukanya, pintu ruangan itu terbuka menampilkan dua orang berjalan keluar.
"Udah selesai?" tanyaku.
"Iya udah," jawab Reihan. Tangannya merangkul bahu Lena yang kulihat wajahnya sedikit pucat.
"Yah gue telat dong," kataku merasa bersalah.
"Nggak papa kok Dir, lagipula tadi cuma cek darah aja kok." Lena tersenyum kepadaku. Lagi-lagi raut wajahnya selalu menampilkan wajah baik-baik saja.
"Terus gimana keadaan lo? Dokter bilang apa? Lo nggak papa kan?" tanyaku.
"Dokter bilang dia harus jaga kesehatannya. Dan jangan makan yang pedes-pedes," ujar Reihan mekirik Lena sekilas.
"Tuh kan, gue kan suka pedes. Kalo nggak makan yang pedes gue nggak mau makan." Lena terlihat cemberut dengan perintah Reihan.
"Lo mau sakit terus? Jangan bandel deh," ucap Reihan sedikit memaksa.
"Noh kan mulai, gini nih Dir kalo lo mau tau sifat Reihan yang sebenarnya. Suka maksa."
Aku tersenyum geli mendengar ucapan Lena.
"Bukan gue yang bilang, dokter nya yang nyuruh."
"Iya-iya bawel deh."
Bisa kurasakan bagaimana sikap pedulinya Reihan kepada Lena. Mungkin ini yang selalu membuat Reihan tertekan dalam menentukan perasaannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
ADIRA (Completed)
Fiksi Remaja"Jika cinta diciptakan menjadi rumit, lalu kenapa kehidupanku jadi ikut rumit?" Adira Melinda, cewek feminim berusia 17 tahun itu mulai tau jika perasaan lebih rumit dari yang ia bayangkan ketika ia menemukan sosok cowok yang menjadi alasan kerumita...
