"Aneh. Siapa? Kamu."
-Adira-
- - - -
"Nggak! Pokoknya gue nggak mau dianterin dia!" tolakku keras.
Aku benar-benar tak ingin jika Reihan yang mengantarkanku pulang. Aku tak mau!
"La terus lo mau pulang naik apa?" tanya Bang Azka.
"Naik mobil sama lo lah."
"Gue kan udah bilang gue nggak bisa Adiraa." Bang Azka menatapku lembut. Sepertinya ia ingin aku mengertinya. Tapi ia juga harus mengerti diriku, aku tidak ingin diantar oleh Reihan saat ini.
"Yaudah! Gue pulang sendiri!"
Akupun dengan cepat berdiri dan melangkahkan kaki pergi dari tempat itu.
Aku berdiri dipinggir jalan untuk menunggu taksi datang. Aku merasa kesal dengan Bang Azka. Bisa-bisanya ia membiarkanku pulang sendiri. Dia juga lebih mementingkan urusannya dengan Rey daripada aku adik kandungnya.
Sebenarnya aku tak ingin naik taksi. Uang yang ku bawa mungkin tidak akan cukup untuk membayar ongkos. Naik bus? Aku tau betul daerah ini. Bus tidak melewati arah ini. Naik angkot? Jika aku naik angkot, angkot tidak sampai didepan gapura rumahku. Itu berarti aku harus naik 2 kali. Ahh! Mana cukup uangku!
Tiba-tiba sebuah motor ninja berwarna merah berhenti tepat didepanku. Orang yang menaiki motor itu menutup wajahnya dengan helm. Aku tau motor itu. Aku sekarang tau siapa wajah yang ada dibalik helm itu. Aku pun hanya diam sambil memandang jalanan dengan tatapan kosong.
"Ayo naik!" kata orang itu.
Aku masih diam.
"Naik sendiri atau gue paksa?!"
Aku menoleh menatap matanya. Aku benar-benar ingin sekali mencabik-cabik wajahnya!
Aku menghembuskan nafasku kasar. Terpaksa aku harus naik, aku juga khawatir dengan Bunda dirumah. Aku pun dengan malas naik ke motor Reihan!
***
Sampai didepan gerbang rumahku. Aku turun dengan mulut yang masih ku tutup bungkam. Selama perjalanan tadi, tidak ada satu katapun yang kami ucapkan. Kami seperti membiarkan keheningan terjadi diantara kami.
"Makas-,"
"Adiraa!" Sebuah panggilan muncul dari belakang ketika aku hendak mengucapkan terimakasih kepada Reihan.
Aku menoleh ke sumber suara, kulihat Bunda menghampiri kami dengan membawa sebuah kotak yang lumayan besar terbungkus kertas berwarna coklat.
Reihan pun turun dari motornya. Ia tersenyum dan bersalaman dengan Bunda.
"Siang tante," ucap Reihan.
"Iya Siang. Ini siapa Adira?" tanya Bunda dengan wajah penasaran.
"Nama saya Reihan Tante, saya temen satu kelas nya Adira, temennya Bang Azka juga," kata Reihan.
"Bunda bawa apa?" tanyaku.
"Oh ini, Bunda mau minta tolong kamu buat anterin kotak ini ke Tante Loli. Kamu tau kan rumah Tante Loli? Bunda kan pernah ajak kamu kesana waktu itu," kata Bunda.
KAMU SEDANG MEMBACA
ADIRA (Completed)
Teen Fiction"Jika cinta diciptakan menjadi rumit, lalu kenapa kehidupanku jadi ikut rumit?" Adira Melinda, cewek feminim berusia 17 tahun itu mulai tau jika perasaan lebih rumit dari yang ia bayangkan ketika ia menemukan sosok cowok yang menjadi alasan kerumita...
