So hey, let's be friends
I'm dying to see how this one ends
🐾🐾🐾
"Yahh, kok udah selesai. Yahh, padahal saya masih mau belajar!" Jerit Jisoo, ketika bel pulang berbunyi.
Temannya yang lain sudah tidak terkejut dan hanya paham, betapa penipunya Jisoo ini. Hingga temannya serempak mengikuti.
"Aduhhh bu, kok udah bel."
"Kok waktunya cepet banget sih bu?"
"Yahh, kok udahan!"
Ibu guru hanya mendesah disertai kekehan dari teman kelas Jisoo. Nampaknya ibu guru sudah menyerah menghadapi Jisoo beserta teman-temannya.
Beruntungnya Jisoo, berada di kelas itu. Teriakan masih saling menggema, memekakkan telinga. Ia bangga betapa akur kelasnya itu. Terlihat jelas, dari kompaknya mereka bergerak keluar kelas.
Setelah berpamitan dengan Rose, Jennie, dan Lisa. Jisoo pun melangkah. Ia bersenandung kecil, hingga tidak sadar di belakangnya ada sepasang kaki yang mengikutinya.
"Hei Jisoo, gue Taeyong." Jisoo terkejut, ia menoleh sejenak. Ohhhh tuhan, betapa tampannya makhluk ini!
"Hei juga,"
"Sendiri?"
"Iya, heheh," Jisoo hanya bisa tertawa canggung. Otaknya masih blank. "Ehmmm, lo?"
"Gue Taeyong," ujar Taeyong mengulurkan tangan.
"Gue tau, maksud gue... Ahh," nampaknya Jisoo akan kehilangan kesabarannya saudara-saudara, "Gue Jisoo,"
"Gue tau,"
Oke fixs, jangan cari Taeyong besok. Karena hari ini, Taeyong akan Jisoo sekap, di karungin, dan dibawa pulang. Hihihi.
Taeyong bergerak maju, mensejajarkan diri dengan Jisoo, "Mau kemana?"
"Niatnya sih pulang," sebelum Taeyong menjawab, Jisoo memberi kode, "Tapi kalau emang ada Arjuna ngajakin jalan, ya gue mah bisa apa, selain nerima. Ya ngga?"
"Okee, mau kemana?" Astaga ternyata wajib Pramuka saat kelas 10. Ada manfaatnya. Taeyong paham akan kode itu. Dan Jisoo tentu sudah jungkat-jungkit jumpalitan sambil tersenyum lebar.
"Makan, boleh," Jisoo hanya ingin terjaga, ia berharap dengan makan maka ia dapat berfikir. Karena sungguh benar, lelaki bernama Lee Taeyong ini menghancurkan fokusnya.
"Ya udah, ayo!"
Yess, alamat makan gratis. Ditemenin cogan lagi. Terima kasih atas rejekimu.
Jisoo memang begitu, mottonya mencuri kesempatan itu boleh saja. Seraya berjalan beriringan dengan Taeyong, ia tetap begitu, senyumnya selalu tersungging.
Nice to meet you angel, Jisoo cekikikan dalam hati. Hatinya terasa tumbuh bunga. Ia bingung, kapan ia sempat menanam bibitnya? Ia bahkan tidak tahu.
🐾🐾🐾
Melihatnya kini tersenyum melegakan bagi Taeyong. Ia merasa hatinya ringan juga membingungkan. Aneh bukan, tidak ada yang khusus hari ini.
Hanya jalan dengan Jisoo, hanya itu dan tidak lebih. Tapi, ayolah mengapa dadanya kian bertalu. Apakah ia memiliki gangguan jantung, kalau iya sebaiknya ia menjauh dari Jisoo.
Ia pun tersadar. Senyum jisoo tidak baik bagi kesehatan jantungnya.
"Taeyong," sapa Yuta dari ujung lapangan, "Sini sebentar woy!"
KAMU SEDANG MEMBACA
Selembar Hati
FanfictionDilema Jisoo, tentang 2 matahari yang masuk ke dalam kehidupannya Bukan, itu salah. Mataharinya ya cuma satu. Tapi, kenapa rembulan yang semula ia hiraukan berubah menjadi setitik matahari kecil Jadi, Jisoo harus bagaimana? Haruskah ia tetap pada ma...
