Hello im back again!!!
Part ini gue buat secepat mungkin biar ga kelamaan update.
Semoga part ini ga mengecewakan, ya.
Selamat membaca ~~
-----------------------------------------------------
"Dean! Gue ga bakal pergi dari sini sampai lo mau maafin gue!" Teriak Deandra yang masih berdiri di depan pintu gerbang rumah Wiradanu. Sore itu hujan sangat deras dan Deanita enggan membukakan pintu untuk Deandra.
Mata Deanita masih sedikit sembab karena menangis. Dia ganti baju dan mengambil minum di dapur. Dia mengecek ponselnya ada chat line dari kedua kakaknya.
Ka Dhika❤️
"D, kk ma ayah hrs ktmu sma Opa Juna. Mkan mlm sndri gpp y. Bsok kk yg bwt mkn mlam. Jgn mam mie instan!!!😤"
Ka Dhani❤️
"Lembur dadakan. Ga makan d rmah"
Semua pesan Dhika dan Dhani hanya dibalas "iya" sama Deanita. Jelas Deanita sedang tidak mood hari itu. Dia duduk di ruang tamu sambil main ponselnya. Cukup lama Deanita bermain dengan ponselnya. Dia membuka sedikit korden jendela rumah yang tertutup itu. Terlihat Deandra masih berdiri di depan gerbang dibawah hujan deras. Namun karena Deanita masih kesal dengan cowok nomor satu seangkatan sekolahnya itu, Deanita tidak peduli dan kembali memainkan gamenya.
Petir masih bergemuruh dan hujan belum ada tanda berhenti. Deandra tetap berdiri didepan gerbang berwarna biru langit itu.
*Gue terlanjur janji untuk ga jelasin kesiapapun tentang siapa Merry sebenarnya. Gue cuma mau memenuhi janji. Tapi gue tetep bakal bikin perhitungan sama orang sinting itu yang uda bikin cewek gue salah paham.* Pikir Deandra yang terus berdiri tanpa mengeluarkan sepatah katapun memohon kepada Deanita lagi untuk dimaafkan. Tentu saja itu akan membuang tenaganya jika dia terus berteriak.
Semakin lama Deandra semakin kesal. Bukan kepada Deanita yang tidak memberikan kesempatan kepadanya. Melainkan kepada dirinya sendiri dan kepada Merry yang sudah membuat Deanita salah paham. Deandra terus menunduk dan mengepalkan kedua tangannya. Akan tetapi mendadak tubuhnya tidak terhuyur hujan deras. Dia melihat sepasang kaki memakai sendal jepit pink yang tidak asing baginya. Jelas didepan matanya, gadis yang tingginya hanya sebahu dengannya memayunginya dari hujan deras.
"Ayo, masuk." Kata Deanita singkat kemudian menarik lengan Deandra mengajaknya maauk rumah.
Deandra duduk di sofa ruang tamu. Tak lama kemudian Deanita datang menghampiri menyerahkan satu set pakaian Wira jaman dulu beserta handuk kepada Deandra. Deandra hanya diam memandang Deanita.
"Ganti baju sekalian mandi. Uda gue siapin air buat mandi." Kata Deanita namun OiDeandra tetap memandangnya tanpa sepatah katapun. "Lo kenapa, sih!?" Akhirnya Deanita sedikit kesal dan memaksa Deandra untuk membawa sendiri pakain itu. Kemudian Deanita menarik tubuh Deandra dan mendorongnya agar menuju kamar mandi. "Kalo samponya habis ambil aja di kotak!" Tambahnya saat Deandra sudah benar-benar didalam kamar mandi.
Di dalam kamar mandi, Deandra masih bengong. Ada satu set pakian dan handuk ditangannya. Serta melihat bak mandi yang sudah penuh dengan air hangat. Deandra berpikir apakah Deanita sudah memaafkannya atau belum dengan perlakuannya seperti itu. Selama Deandra di rumah Deanita, Deanita selalu menyiapkan air hangat untuknya mandi.
Selesai mandi, terlihat Deanita sedang membuat sesuatu di meja dapurnya.
"Taruh baju basah lo di mesin cuci, ntar biar gue cuci." Kata Deanita yang meletakkan sebuah mangkok ramen dengan isinya yang terlihat masih panas dan segelas mug bening berisi air berwarna yang juga terlihat masih panas. Melihat Deandra yang masih terdiam di depan pintu kamar mandi membuat Deanita menghela nafas berat. "Lo malah ngapain, sih!?" Tegurnya yang kemudian melempar baju basah Deandra ke dalam bak mesin cuci.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Dean (END)
Teen Fiction++++++++++++++++++++++++++++++++++ Tentang Deanita dan Deandra. Kedua remaja tersebut memiliki kriteria sendiri dalam memilih teman. Deanita tidak begitu menyukai orang kaya. Deandra yang kaya raya ingin mencari teman yang tidak mementingkan materi...
