37. Tenang Sebelum Petang

1.7K 137 171
                                        

Tes.

Halo?

[Edit] thank you for 29k reads and 3,6k votes 💜

I made sure I tried to mengecek ombak on April 2nd but you guys said I pulled an April Mop... the sharp responses did scare me and I found it more difficult to come back, no matter how hard I tried to

but well, here's the playlist no one asked for (and I don't know whether it's still necessary, or not at all)

[calm before the storm]

Day6 - Pouring | BTS - Make It Right | iKon - #WYD | Day6 - Habits | Ha Jin - We All Lie | Hayley Kiyoko - Feelings | SHINee - Aside | Bobby - Tendae | Loona - Stylish | Lil Wayne - How to Love | Day6 - Talking To | Rex Orange County - Loving Is Easy | Jr Aquino - Handle With Care | Black Pink - Hope Not | NCT 127 - Sun & Moon

🌸

🌸🌸🌸

Permulaan April berlalu begitu saja seperti bayangan yang kabur. Jaron disibukkan agenda tambahan Enam Hari yang sibuk latihan dan rekaman album, sedangkan Liana beberapa kali pergi ke luar kota untuk urusan lokakarya. Resepsi pernikahan Yuna dan Jerome membuat Paguyuban Tak Rukun kembali reuni dadakan. Belum lagi Dani, Jaka, dan Indi–kali ini ditambah Yerena—kembali bolos kuliah beberapa hari untuk tinggal di Jakarta lalu menumpang di rumah Jaron dan Liana. Isabel dan Bunda bahkan turut meramaikan reuni dadakan tersebut dengan ikut menginap.

Pukul enam pagi, matahari masih belum sepenuhnya bertengger di langit Jakarta. Dani, Jaron, dan Liana sudah berada di ruang tamu untuk menonton tayangan ulang Dora the Explorer atas rekomendasi Dani. Kia menyusul bangun, hanya untuk melanjutkan bunga tidurnya di lantai berkarpet ruang tamu dengan guling yang dibawa dari kamar. Tak lama kemudian, Brian muncul dari dapur sambil memeluk toples keripik singkong keramat Liana.

Masih dengan satu tangan memeluk toples, tangan Brian yang bebas sempat-sempatnya meniupkan satu ciuman ke arah mereka. "Selamat pagi adikku, tetanggaku tersayang, dan suaminya yang gak penting-penting amat."

Jaron segera mengipas-ngipas wajah Liana dan Dani, menghalau ciuman yang baru Brian hembuskan. "Enyah lo, penjahat wanita. Dasar kriminal perasaan fakir asmara."

"Pengembalian umpan lambung yang indah, Bung Jaron," Kia bertepuk tangan malas dengan satu mata terpejam.

"Jangan sok-sokan menyahut, kau, Rosalinda," sahut Brian, menudingkan keripik singkong di tangannya ke arah Kia.

"Apa, sih? Fernando pagi-pagi berisik banget kek knalpot bajaj."

"Soalnya Fernando laper," jawab Brian, "Li, makan oseng-oseng buncis keknya enak. Sama perkedel tahu."

"Iya, lah, enak. Tinggal makan, mah, enak," sahut Liana.

"Masakin, dong," pinta Brian.

Jaron menyodorkan tangan ke Brian. "Duit belanjanya, mana, duit."

"Lo, tuh, aneh-aneh pake minta dimasakin buncis segala," cerca Kia.

"Apa, sih, lo? Liana mau gitu, kok. Gue bayarin, juga," Brian membela diri, mengeluarkan beberapa lembar seratus ribuan dan menyerahkannya pada Jaron.

"Ya, tapi bikin repot aja. Udah, lah, yang biasa-biasa aja masaknya biar kita cepet sarapan."

"Perasaan lo gak ikut masak, Kik."

"Tapi gue nungguin yang masak. Keburu laper, Bri."

"Hm, talah. Haram hukumnya nolak makanan enak gratis. Gak usah protes soalnya gue yang bayar."

Aral [Hiatus]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang