40. Studio Satu, Studio Lain

1K 107 98
                                        

Hi! Does anyone miss Jaron and Araliana? Me too.

And, wow... We're reaching 40k read and 5k votes...

Btw jangan buru-buru diskip yaaa soalnya kalo malem ini keburu, aku mau double update. Stay tuned!

🌸🌸🌸

"Itu udah tau koreng kenapa dikelopekin, sih, sayang? Aduhhhhh

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Itu udah tau koreng kenapa dikelopekin, sih, sayang? Aduhhhhh."

Bukannya sungkan karena membuat Liana melonjak-lonjak kesal akibat khawatir, mereka malah tertawa. Mereka tidak tahu saja jika Liana memanggil orang dengan sebutan sayang, berarti ia sedang kesal. Sangat. Bisa dibilang, kesal maksimal. Seperti saat ini.

"Aduh. Baper gak, nih, aku disayangin?" kata Jaron tanpa merasa berdosa.

Liana yang dibuat kesal, tapi Brian yang geleng-geleng. "Suami istri gila."

Jaron melirik Brian dengan sinis lalu berkata, "Ayo, Brian Bhaskara. Gak boleh jadi warganet julid dan dengki."

Jadi ceritanya, Enam Hari mulai melakukan pengambilan gambar untuk videoklip sejak dua hari lalu. Salah satu single yang baru mereka rampungkan, Stop the Rain, hendak dirilis bulan depan. Agak dadakan, memang, mengingat betapa padatnya jadwal tengah tahun Enam Hari. Bos Barikh memutuskan bahwa Enam Hari tidak bisa hiatus terlalu lama setelah rutin merilis lagu di tahun sebelumnya, sehingga single kali ini sengaja segera dirilis terlebih dahulu meski proses produksi album baru Enam Hari belum sepenuhnya rampung.

Liana bahkan tidak tahu seperti apa lantunan lagu itu dan ia tidak tahu bahwa Brian sudah pernah membocorkan sepenggal lagu itu pada Kia—jika bukan Kia sendiri yang memberi tahunya.

Masalahnya bukan di sana.

Karena konsep videoklip Stop the Rain adalah efek-efek cuaca artifisial untuk menyesuaikan dengan nuansa lagu, staf dan tim produksi mendatangkan mobil pemadam kebaran guna menghadirkan hujan buatan dalam ruangan. Sudah tahu seisi set jadi banjir dadakan, tetap saja anak-anak Enam Hari banyak tingkah. Jaron yang main kejar-kejaran dengan Dion akhirnya tersandung selang air pemadam kebakaran yang menjalar di lantai. Terima kasih pada celana denimnya yang memang robek sebesar cetakan pulau Kalimantan di atlas, lutut Jaron yang tak terlindungi sukses tergores lantai hingga meninggalkan luka besar.

Mampus, lo. Koreng, dah, tuh, kata Brian kala itu.

Sumpah serapah Brian menjadi nyata. Setelah luka besar di lutut Jaron yang malang mengering, hanya tersisa koreng dan rasa sakit. Liana saja baru melihat luka itu pagi ini setelah Brian duduk berjongkok di sebelah Jaron. Iya, Brian mengorek koreng itu dengan tekun hingga Jaron mengaduh. Sekarang bukan hanya Sarah dan Satria yang kesal, tapi Liana jadi ikut panik. Dion dan Tio ikut tertawa bersama Brian, sedangkan Raka hanya terduduk tampan di depan cermin sambil memperhatikan dalam diam.

Inilah alasan Satria tidak terlalu bersuka cita jika Enam Hari diundang untuk mengisi siaran langsung acara televisi di pagi hari. Belum lama matahari beranjak naik, tekanan darah tinggi Satria keburu ikut naik. Satria heran karena kehadiran Liana tidak berhasil membuat anak-anak Enam Hari cukup sungkan untuk lebih mengontrol diri. Apa ia harus menyuruh mereka semua—kecuali Jaron dan Raka—untuk segera mencari pacar, agar memiliki pawang masing-masing? Apa perlu ia tentukan tenggat waktunya sekalian?

Aral [Hiatus]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang