bonus retjeh gak penting hanya karena just because Claudia sudah agak lama menghilang dari peredaran //padahal kaga ada yang nyari//
🌸🌸🌸
Masih di apartemen Brian, di suatu Sabtu siang yang tidak protektif.
"Assalamualaikum—heh! Tejo! Wah, bener-bener!"
Gedubrak, sebuah kardus sukses mendarat di perut Tio hingga ia tersentak bangun dari tidur siangnya. Begitu matanya terbuka, pemandangan pertama yang dilihatnya adalah dua tungkai. Tio menengadah dan mendapati Jaron yang berkacak pinggang.
"Benci gue sama lo, Bang Jaron."
"Gue lebih benci. Ayo bangun!" Jaron menendang-nendang kaki Tio agar ia bergerak, kemudian berbalik untuk membangunkan Raka. "Hanacharaka datasawala! Lo, kok, ikut tidur? Kudunya lo bangun pas tadi gue telpon buat bantuin gue, hoe! Dion dugong juga!"
Tio akhirnya benar-benar terbangun, sedangkan Raka masih setengah tidak sadar. Tio pun ikut membangunkan Raka, dan Raka segera melesat mengambil air wudhu sebelum ketinggalan sholat Ashar. Dion baru sadarkan diri lima menit kemudian dan menyusul Raka.
"Na, bangun, Na."
"Hah...? Jaron nyusruk ke gorong-gorong lagi...?" Liana mengigau dan berbalik memunggungi Jaron yang berusaha membangunkannya, "Iya, ceburin makin dalem saja..."
"Anjir. Istri sendiri," gumam Jaron, "Na, bangun, Na, keburu Briana bangun."
Setelah Liana dan Sita bangun, Jaron mengumpulkan mereka semua kecuali Brian. Jelas tanpa Brian, karena rencana ini ditujukan untuk Brian sebagai target.
"Gue mau percobaan dulu, ya."
"Gak usah, Ka. Kalo dia udah tidur mlungker kayak gitu, gak bakal bangun!"
Meskipun Tio sudah memberi tahu begitu, Raka tetap melaksanakan percobaannya. Dicobanya menepuk paha Brian, mengguncang-guncang bahu Brian, hingga menggelitik kaki Brian, tapi tidak terjadi pergerakan berarti.
"Kesirep kali, ya. Gak bangun-bangun," gumam Raka sebelum menepuk paha Brian sekali lagi dengan agak keras, "Bangun, Bri!"
Brian menggeliat, sebelum akhirnya benar-benar bangun. Sepertinya hanya raganya yang bangun, karena kedua matanya masih terpejam dan ia tidak menggumamkan apapun. Dengan satu maja terpejam, Brian hanya sekilas melirik ke arah sofa yang tadinya ditempati Liana dan Sita. Brian yang notabene bangun paling terakhir, malah pindah tempat ke sofa yang kini kosong dan melanjutkan bunga tidurnya.
Brian tidak bergeming. Jaron bahkan sengaja membungkus Brian dalam dua lapis selimut, dari ujung kepala hingga ujung kaki, lalu menimpa kepala Brian dengan bantal tipis. Bukan, bukan percobaan pembunuhan. Jaron hanya mengambil langkah drastis untuk memastikan Brian tidak bangun dari tidurnya.
"Dion ambil kue, kan?" Liana mengonfirmasi, "Ya udah. Ngikut, Yon. Gue sholat dulu."
"Cici Juleha mana, Cici?" Jaron mengabsen, mencari-cari seonggok anak manusia bernama Patricia Julinanda, "Balonnya di Cici, elah."
"Cici lagi ngambil balonnya sama Kak Mark di tempat yang punya olshop," jawab Sita, "Ntar gue nyusul Monica, Qiqay, Olip, Tere, sama Himawari. Mereka udah standby sama teman-temennya Kak Rayhan sama Christoper."
"Carmencita sama Sabrina ikut, gak? Ntar Brian sama Dion pundung."
"Gue gak pundung!!" protes Dion.
"Alah, ngeles lu, jigong dugong," hujat Tio, "Gue tanya Kak Yuna dulu, udah balik dari kantor apa belom," lapor Tio sambil bergumul dengan ponselnya, "Kemarenan, sih, udah ngurus surat izin keramaian ke Pak RT sama Pak RW."
KAMU SEDANG MEMBACA
Aral [Hiatus]
RomanceBersatu bukan sekadar mengandalkan komitmen, tapi juga kesediaan untuk menerima keadaan. Oh, dan toleransi pada komentar orang. Terlalu muda, terburu-buru, tidak perhitungan, misalnya. Araliana dan Jaron terlalu cepat mengiyakan hidup sebelum belaja...
![Aral [Hiatus]](https://img.wattpad.com/cover/132774490-64-k778778.jpg)