Maksudnya, sungguh sayang jika tak bisa langsung mengungkapkan.
Kalian pasti pernah berada di posisi itu, bukan?
Ketika kalian sayang, tapi tidak bisa mengungkapkan,
karena sudah dianggap kawan.
Hingga semuanya tergantung bak awan,
awan hitam di langit mendung yang tak kundung mencurahkan hujan.
(Theodore Joseph Aprillio Purba, 2017)
🌸🌸
Liana sedang sibuk melepas gulungan rambut di depan cermin meja rias ketika Jaron yang sudah selesai bersiap kemudian datang dan mulai jahil memainkan rambutnya.
"Jarooon! Jangan direcokin! Ini lama ngerollnya!" sungut Liana. Ia tidak bersusah payah menggulung rambutnya selama tiga jam hanya untuk dibuat berantakan lagi.
"Ya udah dicatok aja, Na," saran Jaron sekenanya.
"Gak mau. Udah sering kena bleaching, nanti kering kalo kena catok."
"Iya, Araliana," Jaron mencubit pipi Liana gemas, "Udah, aku gak ganggu lagi."
"Baju kamu udah disiapin?" tanya Liana tanpa melihat Jaron, masih sibuk merapikan gelungan rambut.
"Udah, Na. Ini aku udah ganti baju. Kebaya kamu udah beres?" tanya Jaron balik.
"Udah. Ini kainnya juga udah aku pake. Abis ini aku kelar dandan, kita langsung berangkat."
Liana memang berdandan setiap hari, tapi terbatas pada bedak dan lipstick dengan tambahan seperlunya. Jaron bisa membedakan pensil alis, maskara, dan eyeliner terima kasih karenanya. Ia perhatikan, Liana juga jarang menambah rona pipi. Tanpa berdandan pun, sebenarnya Liana tetap cantik di mata Jaron, tapi ia tidak berkomentar.
Jaron duduk di ujung tempat tidur, memperhatikan Liana yang sibuk memegang berbagai macam kuas yang bahkan Jaron tidak paham fungsinya apa. Begitu melihat Liana berkonsentrasi menyapu kuas di daerah hidung dan tulang pipi, mengganti kuas untuk memulas warna-warna di kelopak mata, hingga menjepit bulu mata, Jaron jadi takjub. Liana juga menambahkan rona pipi yang segar dan memakai lipstick warna merah muda. Tidak banyak yang berubah drastis dari wajah Liana, Jaron masih mengenalinya, tapi ia bagai tersihir.
"Udah bagus, belum? Apa, ya, yang kurang?"
Liana buru-buru bangkit, menyambar tas tangan di meja rias, dan merapikan kain batik yang dipakainya. Jaron berjalan mendekat, menyampirkan helai-helai rambut Liana yang tidak tergelung ke belakang telinganya yang dihiasi deretan anting-anting.
Liana, dibalut kebaya abu-abu dan dihiasi pendar emas putih di telinga, leher, hingga jari manisnya.
"Udah, cantikku. Lengkap gak kurang satu apapun."
Mata Jaron bertemu dengan mata Liana. Liana tersenyum sembari meraih wajah Jaron dengan kedua tangannya kemudian sibuk merapikan rambut Jaron. Terima kasih kepada sepatu hak tinggi. Jaron menarik Liana dan memeluk pinggangnya, tak berpaling dan tak berkedip sedikit pun. Liana hanya memiringkan kepala, memandanginya balik, dan melingkarkan kedua tangannya di leher Jaron.
Jaron tidak tahu harus mengucap puji syukur atau mengumpat.
Jaron tidak paham bagaimana Liana selalu terlihat sempurna di matanya. Ketika ia kira Liana sudah sempurna, perempuan itu menunjukkan bahwa ia bisa menjadi lebih dari sempurna. Jaron ingin merekam momen ini, kedekatan ini, kesempurnaan ini dalam memorinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Aral [Hiatus]
RomanceBersatu bukan sekadar mengandalkan komitmen, tapi juga kesediaan untuk menerima keadaan. Oh, dan toleransi pada komentar orang. Terlalu muda, terburu-buru, tidak perhitungan, misalnya. Araliana dan Jaron terlalu cepat mengiyakan hidup sebelum belaja...
![Aral [Hiatus]](https://img.wattpad.com/cover/132774490-64-k778778.jpg)